
Jimmy menekan tombol ponselnya.
“Julian, kau tidak apa apa?” tanyanya.
“Aku tidak apa apa, bagaimana dengan Lucas?”
“Masih ada satu mobil lagi yang menggangunya. Apa Doris terluka parah?” tanya Jimmy.
“Lengan dan dada kanannya tertembak, sudah dilakukan operasi saat ini. Tadi sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Apa kau bisa bereskan sendiri yang di sana?” tanya Julian.
“Tuan, ban belakang Lucas tertembak dan dia terperosok ke rawa,” kata Hans.
“Shit! Kenapa anak sapi itu tidak menurunkan pelindungnya.Hans gandakan sistem anti peluru mobil ini. Pelindung depan mobil juga aktifkan.Aku akan menabrak Ranger sialan itu,” perintah Jimmy.
“Siap,” kata Hans seraya mengutak atik notebook di pangkuannya.
“Sudah Boss,siap,” kata Hans.
“Mmhh Jimmy,Aahh kenapa mobilnya kencang sekali,” teriak Anita.
“Yuki urus Nona,” kata Jimmy.
Yuki segera mengencangkan sabuk pengaman Anita.
Dengan kecepatan tinggi Jimmy menabrak mobil Ranger di depannya hingga terdorong sangat jauh ke depannya.
Mobil yang dikendarainya hanya oleng sedikit lalu berhenti di tepi jalan.
__ADS_1
“Hans, hubungi pengawal untuk menjemput Lucas dan Marcel.”
Jimmy menghubungi Lucas dengan ponselnya.
“Cepat ke luar dari mobilmu, mereka jauh di depan.Kau sudah di luar jarak tembak.Naiklah mobil pengawal yang menjemput kalian.Akan kubereskan sisanya.”
Jimmy mematikan ponselnya.
“Jimmy, kenapa ? Jimmy?” tanya Anita dengan suara paraunya.
“Sedikit lagi Anita,” Jawabnya.
Jimmy kembali menginjak pedal gas dan mengejar Ranger hitam yang sudah bersiap melarikan diri.Beberapa tembakan mengenai kaca depan mobilnya namun hanya menyisakan goresan bekas peluru.
Anita berteriak ketakutan.
“Nona, kalau kau seperti ini akan membuyarkan konsentrasi.Tutup saja matamu OK,” kata Yuki.
Jimmy menghentikan mobilnya di tepi jalan.Beberapa saat kemudian beberapa mobil menyalipnya dan berhenti tak jauh dari mobil rangger itu.
“Itu Pak Prasetyo dan polisi Tuan,” kata Hans.
“Baiklah.Kau ambil alih kemudinya Hans. Yuki biar kutemani Nona,” kata Jimmy.
Beberapa saat kemudian beberapa orang polisi datang bersama Prasetyo menghampiri Jimmy.
“Selamat siang Pak Jimmy,” kata pria itu seraya mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Selamat siang Pak, Om Pras,” jawab Jimmy.
“Kau tidak terluka Jim?” tanya Prasetyo.
“Tidak Om, tapi mobilku ini penyok di sana sini.Terima kasih sudah menghubungi pihak berwajib, kalau tidak saya tidak tahu bagaimana menangani mereka.”
“Kami langsung bergerak setelah mendapat informasi secara terperinci dari Pak Prasetyo.Apakah ini mobil milik Pak Jimmy?” tanya kepala tim polisi.
“Iya, Mobil Sport hitam yang masuk ke rawa itu juga milik saya.Semua dokumen lengkap. Akan segera saya kirimkan melalui Om Pras segera,” jawab Jimmy.
“Kami akan membawa semua mobil yang terlibat insiden ini.Saya minta juga Anda serahkkan senjata Anda,” kata pria berwajah tegas itu.
“Hans, ambil senjata kita dan serahkan pada Pak Polisi.”
Hans segera melakukan apa yang diperintahkan Jimmy.
“Izin kepemilikan senjata api itu juga akan saya kirim melalui Om Pras,” kata Jimmy.
“OK,” kata kepala polisi seraya memasukkan kedua pistol itu ke dalam kantong plastik dan memberikannya kepada asistennya.
“Baiklah, Om akan urus semuanya,” kata Prasetyo lalu beranjak bersama beberapa orang polisi.
“Hans,hubungi Corvin untuk mengirim mobil Alphard ke sini.Telpon Ximone nanti,katakan aku puas dengan mobil ini. Cengkraman bannya sekuat kuku macan,” Jimmy tertawa lalu membuka pintu mobil itu untuk melepas sabuk pengaman ganda yang dipasang di tubuh Anita hingga tidak bisa bergerak.
“Plak!” tamparan itu mulus mendarat di pipi Jimmy.
Pria itu tersenyum dan mengusap kedua pipi Anita yang telah basah oleh air matanya.
__ADS_1
“Aku minta maaf,” kata Jimmy seraya mencium pipi Anita.
Ia segera membantu Anita ke luar dari mobil dan memeluknya.Ia tahu kaki Anita masih gemetar karena ketakutan.