CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption165


__ADS_3

Hari itu Anita begitu serius dan sibuk mempersiapkan dokumen pemeriksaan.Setelah magrib Julian dan Arron ikut membantunya mengepak dokumen perusahaan ke dalam karton.


“Zen, lu pulang dulu aja udah loyo gitu,” kata Julian.


“Ah nggak, kasihan Anita.Dia masih kerja keras aku yang dibantu mana bisa pulang tidur,” jawab Li Zen.


“Mataku sepet tahu lihat kamu duduk loyo di situ,kaya serbet belum dicuci,” kata Julian.


“Li Zen a,Just go home,aku sama Julian bantu dia.Ajak yang lain pulang juga,” kata Arron.


“Bener nih gak pa pa?”


“Iya pulang aja, aku sebentar lagi juga pulang.Ini sudah sekitar delapan puluh persen siap.Besok pagi kita lanjutkan,” kata Anita.


“Baiklah akan kusuruh mereka pulang.Kasihan juga rumahnya jauh,kalau terlalu malam agak menghawatirkan.” Li Zen beranjak menemui anak buahnya yang masih kerja lembur di ruang Accounting. Beberapa saat kemudian mereka berpamitan untuk pulang.


Anita duduk di belakang mejanya, tiba tiba saja ia merasa pusing dan gemetar.


“Julian, ambilkan aku teh manis di ruangan sebelah.” Julian sontak menoleh dan segera menghampiri Anita.


“Anita, apa kau belum makan dari tadi?” tanyanya.

__ADS_1


“Tidak sempat,” jawab Anita.


Julian segera membuatkan teh manis di pantry yang tidak jauh dari ruangan itu.


“Ada apa?” tanya Arron yang melihat Julian jalan cepat membawakan teh hangat untuk Anita.


“Oh my God Anita,kenapa tidak dimakan?” Arron membuka kotak bento milik Anita di meja dan masih utuh.


Julian menyodorkan minuman hangat yang dibuatnya kepada Anita.


“Agak enakan,” kata Anita.


“Aku tadi diantar pak Edy,apa dia pulang?” tanya Anita.


“Iya,aku menyuruhnya pulang.” Julian membawakan tas laptop milik Anita dan miliknya sendiri.


“Brother, I will take her home. I won't back here tonight (Kak,aku akan mengantarnya pulang,aku tidak akan kembali malam ini),” kata Julian.


“OK.Anita, tomorrow you'll back here,aren't you? I really wish that(Anita,besok kau akan kembali ke sini bukan? Aku sangat mengharapkan itu),” tanya Arron.


“Ya, don’t worry(ya,jangan khawatir),” jawab Anita lalu pergi meninggalkan ruangan itu.Julian sudah lebih dahulu pergi untuk mematikan lampu dan mengunci ruang kantornya.Di depan lobi sudah terparkir mobil Ferrari merah miliknya.

__ADS_1


“Baru ya,” tanya Anita seraya masuk ke dalam mobil itu.


“Tidak,aku sudah lama membelinya.Cuma jarang kupakai,aku lebih suka pakai mobilnya Jimmy,” jawab Julian lalu memutar langkahnya dan duduk di sebelah Anita.


Ia segera melajukan mobilnya melalui gerbang perusahaan.


Sepanjang jalan keduanya tidak terlalu banyak bicara. Anita melihat ponselnya yang memang tidak ada pesan dari Jimmy.Ia segera mengetikkan pesan untuk sekedar mengingatkan tidak telat makan.Ia melihat ponselnya lagi setelah beberapa menit, ternyata belum dibaca.


Jimmy, semoga kau baik baik saja, fikirnya.


Sampai di rumah Jimmy Julian segera mencari Arman supaya menghangatkan makan malam untuk Anita sementara Anita membersihkan diri.


“Ayo makan,” kata Julian saat Anita ke luar dari kamarnya.


“Kau juga makan lagi?” tanyanya.


“Iya, nemenin kamu.Jangan khawatir,ususku sangat lurus jadi tidak masalah aku makan sehari berapa kali he he.”


Anita tersenyum mendengar alasan Julian.Tapi selama ini memang ia tahu Julian kuat makan,walau pun begitu badannya tetap saja proporsional.


Keduanya makan tanpa banyak bicara,Julian tahu Anita sangat lelah.Ia yang bisanya usil dan banyak bicara hanya diam saja melihat wanita pujaannya itu makan dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2