CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption245


__ADS_3

Julian Anggoro ayah Jimmy memanggil seluruh stafnya terkait rencana keberangkatannya ke Jogja. Ia mendengarkan masukan masukan dari mereka sebagai pertimbangan.


“Tuan,apa Tuan Besar berencana menemui ayah Nona Anita?” tanya Corvin.


“Tentu saja, aku akan membicarakan rencanaku dengannya.Nanti sore siapkan mobil, aku akan ke rumah besan.Hans tolong kau hubungi dan katakan aku ingin berkunjung.”


“Iya Tuan Besar,seminggu ini kondisi ibu Nona Anita terus menurun.Kalau Tuan Besar ke sana mungkin bisa membuatnya membaik,” jawab Hans.


Corvin melihat ponselnya yang bergetar karena panggilan masuk.


“Tuan Besar,Tuan Jimmy menelpon saya,” katanya.


“Kalian semua abaikan saja kalau Jimmy menelpon.Jangan kasih informasi apa pun padanya.Ini untuk mempercepat proses kesembuhannya OK? Semakin complicated informasi yang dia dapat, dia akan semakin berpikir keras dan memperburuk keadaannya,” kata Julian Anggoro.


Beberapa saat kemudian telpon miliknya sendiri yang berbunyi. Julian Anggoro menarik nafas panjang dan meneguk air mineral di depannya.Ia mengatupkan jari telunjuk ke mulutnya memberi tanda supaya semua orang tidak bersuara.


“Halo Son, apa kau sudah membaik?”


“Hai Dad, aku sudah bisa jalan walau pun hanya sebentar.Sudah bisa makan bubur sedikit.Apa Daddy sudah temukan Anita?” suara Jimmy tampak masih sedikit serak.


“Hey hey, to the point sekali langsung tanya itu.Daddy tahu di mana dia, tapi kita harus mendekatinya dengan hati hati.Jimmy, pulihkan dirimu secepatnya. Kau sendiri yang harus menjemputnya pulang.Aku dan ayah mertuamu akan berusah memperbaiki dan membujuknya.”


“Daddy tidak membohongiku kan, berikan aku bukti kalau Daddy sudah menemukannya.Kalau tidak aku akan diam diam pulang walau pun harus mati di jalan,” kata Jimmy.


“Tentu saja my Son,aku akan mengirimkan video kepadamu.”


“Baiklah, akan kutunggu.Akan kuminta Tissiano memeriksa keaslian video itu.Aku berharap Viola dan ayahnya dijatuhi hukuman mati. Dengan bukti yang dibawa Romeo, Casanova pasti akan bersaksi dengan jujur karena ponsel miliknya dan bukti lain yang dia serahkan kepadaku akan memaksanya mengatakan yang sebenarnya.”

__ADS_1


“Tenanglah Jimmy,kau sudah melakukannya dengan benar. Perjanjian sialan itu juga sudah dimusnahkan oleh anak buah Romeo di depan kita. Kau juga sudah menjual seluruh saham Maximus Corp. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan my Son. Sekarang kau hanya perlu memulihkan dirimu.Yang di sini serahkan padaku dan mertuamu.”


“Baiklah Daddy, I trust you(aku mempercayaimu).”


Telpon itu pun terputus.


Julian Anggoro menakupkan kedua tangannya.Semua orang yang ada di ruangan itu menundukkan wajahnya.


“Kalian sudah dengar kan? Jimmy tidak mudah dihadapi saat ini. Aku akan menelpon Jack untuk mengawasinya lebih intensif. Karena hanya Jack yang bisa membuatnya lebih penurut.Dicky, kapan anak buahmu berangkat?” tanya Julian Anggoro.


“Mereka bergerak setelah ada instruksi dariku Om, saat ini mereka pasti sudah sampai.Teman Hans sudah menyiapkan rumah kontrakan untuk mereka dan akan mengurus surat suratnya.Benar kan Hans?” tanya Dicky.


“Iya, Tuan,” jawab Hans.


Julian Anggoro mengangkat telponnya untuk menelpon seseorang.


“Hai Tuan Besar, ada angin apa nih pulang ke Indonesia? Iya aku sekarang tinggal di Jakarta,Bisnisku sedang ramai di sini,” jawab Haris rekan bisnis Julian Anggoro sekaligus teman SMA Januandy Anggoro adiknya.


“Ris, aku serius dengan tawaranku beberapa waktu lalu.Aku tertarik dengan rumahmu yang kau posting di medsos itu.”


“Rumah yang mana Julian? Aku posting banyak di situ. Sebenarnya aku hanya posting model saja tidak mau kujual,” jawab Haris.


“Please Ris, menantuku senang sekali tinggal di Jogja.Aku ingin menghadiahkan rumah itu untuknya. Berapa pun akan kubeli, yang di kawasan XX itu,” kata Julian Anggoro.


“Wah wah, sayang sekali sama menantu.Istri Jonathan?”


“Bukan, istrinya Jimmy,” jawab Julian Anggoro.

__ADS_1


“Sebenarnya rumah itu adalah faforit keluargaku saat pulang ke Jogja.Hei, kapan Jimmy menikah? Kenapa nggak ngundang?Lupa ya punya teman ganteng?”


“Please Ris, Kau kan masih punya banyak rumah di sana. Jimmy menikah sudah agak lama, tapi belum sempat buat resepsi.Tenang saja pasti sampe undangannya.”


“Baiklah,baiklah coba ku cek berapa biaya pembangunannya.Itu aku sendiri yang merancangnya.Tunggu bentar.”


“OK,” jawab Julian Anggoro.


“Itu biaya pembangunannya hampir mencapai tujuh M.Kasih aku sedikit keuntungan deh perabotannya juga lengkap dan kualitas nomor satu.Ada dua helipad dan satu hanggar yang bisa muat tiga sampai empat helikopter” kata Haris.


“Iya aku sudah cek detailnya makanya aku suka yang itu.Bagaimana kalau sembilan M termasuk perabot dan pengurus rumahnya juga kasih ke aku,” kata Julian Anggoro.


“Haha, Julian.Ada ada saja, pengurus rumah koq dijual.Itu terserah mereka saja,akan kuberitahu mereka.Akan kuberi kortingan duaratus juta, itu hadiahku untuk menantumu,” kata Haris.


“OK, deal.Notaris Anggoro group akan menemuimu di Jakarta.”


“Baiklah Julian, lain kali kita bisa ketemu di Jogja.”


“Ris, mungkin beberapa hari lagi aku akan ke Jogja ada beberapa urusan. Boleh kan aku tinggal di sana dengan beberapa stafku?”


“Tentu saja Julian,walau kau tidak membeli rumah itu kau tetap boleh tinggal di sana beberapa waktu.Akan kuhubungi pengurus rumah di sana untuk menyiapkan.”


“Thanks Ris, kalau kuundang ke Jogja kamu harus meluangkan waktumu ya.”


“Tentu,tentu.Kalau ada hal lain kau hubungi aku lagi.”


“Ya, Ya Ris.”

__ADS_1


Telpon itu pun terputus.Pria paruh baya itu pun menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.Senyum simpul tersungging di bibirnya.


__ADS_2