
Hiroshi membayar kepada penjual lesehan untuk makanan yang mereka makan.
"Ayo, "katanya.
" Ke mana? Aku masih ada pekerjaan digaleri," kata Anita.
"Anita, ini hari minggu. Sudah kukatakan jangan terlalu memforsir dirimu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
Hiroshi membantu Anita berdiri, akhirnya Anita tidak menolak ajakan Hiroshi.
"Pak Pri, tolong bawa mobil itu ke galeri bu Siska," kata Hiroshi seraya mengambil kunci dari tangan Anita dan memberikan pada sopirnya.
"Baik Tuan, " kata Pak Pri.
"Hiro, apa kau selalu bawa sopir ke mana mana?" tanya Anita.
"Nggak lah, aku tadi nyetir sendiri. Tadi kusuruh Pak Pri ke sini untuk membawa mobilmu," Jawab Hiroshi.
Anita duduk di sebelah Hiroshi sementara Hiroshi mengemudikan mobilnya dengan santai. Secara fisik mungkin Hiroshi ada kemiripan dengan Jimmy, tapi mengenai selera Hiroshi lebih light dan sederhana. Dia lebih suka barang barang yang dipakai oleh kebanyakan orang. Jimmy lebih suka mobil mobil sport dan barang dari luar negri.
"Kenapa diam saja? Apa yang kau pikirkan?" tanya Hiroshi.
"Tidak ada, aku hanya berfikir kenapa kau tidak punya pacaran atau menikah beberapa tahun ini," jawab Anita.
"Ini pilihanku, karena aku tidak begitu mudah menyukai seseorang."
"Hiro, pria itu mempunyai kebutuhan biologis yang harus disalurkan."
"Aku mau kalau itu denganmu," Hiro tertawa keras dan Anita memukul lengannya dengan kotak tisyu.
"Ada banyak cara untuk menyalurkan itu Anita.Aku ini seorang dokter, kau tidak perlu khawatir."
__ADS_1
"Tapi dokter juga manusia, bisa selip," kata Anita.
"Ya iya lah manusia, kalau setan nggak bakal ada yang mau datang berobat. Tenang saja lah, aku ini anti selip," jawab Hiroshi.
Pria muda itu membelokkan mobilnya ke sebuah rumah yang sangat besar dan didominasi warna putih dan abu abu. Dua orang penjaga membukakan gerbang untuk mereka.
"Hiro ini rumah siapa?"
"Rumahku," jawab Hiroshi seraya membukakan pintu mobil untuk Anita.
Sampai di depan pintu seorang pria paruh baya membisikkan sesuatu di telinga Hiroshi.
Pria muda itu terdiam sesaat lalu menoleh ke arah Anita yang masih berdiri di dekat mobil.
"Ada apa Hiro?" tanya Anita.
"Tidak apa, ayo masuk."
"Duduklah sebentar, aku akan segera kembali. Pak Rustam tolong ambilkan minuman dan makanan kecil buat tamu ku," kata Hiroshi lalu masuk ke dalam.
Anita duduk dan membaca majalah yang ada di bawah meja.
Ia meletakkan majalah yang dibacanya saat mendengar teriakan seorang wanita dari dalam.
Tiba tiba seorang wanita cantik berlari menghampirinya dan melemparkan majalah yang ada di meja ke mukanya.
Anita yang kaget masih sempat menutupi mukanya dengan telapak tangannya.
Hiroshi menarik lengan wanita itu dan mendorongnya hingga jatuh.
"Pergi dari rumahku Naya, aku tidak minta kau buatkan makanan atau apa. Sekarang kau berani mencoba menyakiti wanita yang kucintai. Aku tidak ingin melihatmu lagi,"kata Hiroshi.
__ADS_1
" Hiro, sekian lama aku mencintaimu, memberikan perhatian kepadamu. Seperti ini saja pembalasannya? Aku ini tunanganmu Hiro, sekarang kau membawa wanita ini, apa dia mengandung anakmu? Hiro kau keterlaluan."
Wanita itu menangis meraung raung.
"Aku tidak memintamu melakukan semua itu. Memangnya kapan kita bertunangan hah? Kau melakukan apa pun seperti yang kau inginkan karena kakakku menjodohkan kita. Apa aku pernah bilang setuju? Selama ini aku biarkan karena aku memberi muka padamu, tapi sekarang tidak akan lagi. Pergilah dan jangan pernah lagi datang ke sini. Pak Rustam, antarkan wanita ini ke luar, " kata Hiroshi dengan penuh amarah.
"Tidak Hiro, kau tidak boleh memperlakukan aku seperti ini. Atau Papi akan menarik investasinya dari klinikmu."
"Katakan pada Papimu untuk melakukan itu, " jawab Hiroshi.
Rustam memanggil penjaga untuk membawa Naya ke luar. Anita yang masih bengong seakan sedang menonton drama TV segera tersadar saat Hiroshi menyodorkan jus jeruk kepadanya.
"Eh, sudah selesai?" tanya Anita.
Hiroshi tersenyum melihat ekspresi lucu Anita.
"Hiro, apa dia tunanganmu? Dia jauh lebih cantik dan muda dariku. Kenapa kau ini?"
"Tunangan apa? Dia selalu datang ke rumah, membuatkanku makan siang makan malam. Dia bertingkah seakan akan dia itu istriku. Dan ini salahku karena membiarkan dia begitu.Sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Anita, bermalamlah di sini sehari saja. Kumohon."
"Nggak Hiro, aku ini masih istri orang walau pun sudah dibuang. Tidak pantas seorang wanita menginap di rumah seorang pria lajang tanpa alasan yang kuat."
"Anita, ini adalah rumah pribadiku. Kau tidak perlu takut Ryohei mengintimidasi dirimu. Aku tidak akan membiarkan itu. Lagipula, sudah setahun ini dia di Jepang. Sampai dua tahun ke depan baru dia akan kembali," kata Hiroshi.
"Hiro.. Aku tidak mau kau seperti ini. Lanjutkanlah hidupmu Hiro, aku sudah tidak punya keinginan hidup bersama siapa pun saat ini dan mungkin seterusnya. Aku dan Jimmy saling mencintai, tapi lihatlah sekarang. Kalau aku menjalin hubungan dengan seseorang, mungkin suatu saat dia akan melakukan hal yang sama. Yang kuinginkan adalah membesarkan anak anakku.Tanpa menimbulkan masalah bagi kami maupun orang lain. Jadi, kau tidak boleh berharap padaku. Aku tidak akan menolak bertemu denganmu, bukan berarti aku setuju. Dulu aku menunggu kata kata itu ke luar dari mulutmu Hiro. Tapi saat ini aku tidak menginginkan siapa pun menyatakan perasaannya padaku."
"Anita..."
"Tolong mengertilah keadaanku," mohon Anita.
"Kau membiarkanku tetap ada di dekatmu sudah cukup, Anita. Biarkan begitu ya.. "
__ADS_1
Anita tersenyum dan menganggukan kepalanya, Hiroshi mengusap matanya dan mencium tangan Anita.