
Akhirnya Anita ikut Priyono ke tempat di mana Hiroshi dirawat.Jantungnya berdebar saat kakinya melangkah memasuki Villa yang sangat megah yang dibangun di atas bukit kapur yang berhadapan langsung ke laut selatan.
Anita disambut oleh pria paruh baya yang ke luar dari dalam sebuah kamar.
“Selamat malam, Nona Anita?”
“Iya, Anda Dokter Bambang kan? Selamat malam Dokter, bagaimana dia? Apa yang bisa saya bantu Dokter?” tanya Anita.
“Duduklah Nona,sebenarnya saya pusing sekali Hiro sampai seperti ini.General Checkup semua normal, kecuali detak jantungnya yang kadang tiba tiba tak terkontrol.Suhu tubuhnya tetap tinggi walau pun sudah diberi obat dosis tinggi. Saya sudah berupaya yang saya bisa, dia harus dibawa ke rumah sakit kalau malam ini tidak membaik,” kata dokter Bambang.
“Apa boleh saya melihatnya,” tanya Anita.
Dokter Bambang tersenyum,ia segera membawa Anita ke tempat di mana Hiroshi dirawat.
Anita berdiri mematung melihat Hiroshi terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajahnya pucat, bibirnya kering.Berbeda dengan dua hari yang lalu yang begitu segar.
Anita memegang dahinya yang terasa sangat panas.
“Suster saya minta air hangat dan dua handuk kecil ya, dan tolong matikan AC nya,” kata Anita tanpa memalingkan perhatiannya dari Hiroshi.
“Tolong bantu saya melepas pakaian atasnya Suster,” kata Anita kepada perawat yang lain.
Dokter Bambang mengisyaratkan pada perawat untuk melakukan apa yang Anita minta.
Perawat yang satunya menyerahkan air hangat dan handuk kecil pada Anita.
“Tolong buka saja pintu kamarnya biar ada udara yang masuk.Dokter istirahat saja biar saya yang menunggu di sini.Kalau ada apa apa akan saya panggil.”
Anita segera mengompres dada dan punggung Hiroshi bergantian.Leher,ketiak dan dahinya bergantian.Dokter Bambang hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan Anita sambil duduk di Sofa di kamar itu.
Setelah airnya dingin, ia meminta lagi kepada perawat.Hal itu ia lakukan berulang ulang hingga jam satu dinihari.
__ADS_1
Akhirnya ia pun tertidur di kursi dengan muka tertumpu di atas tangannya yang ada di atas kasur.
Anita kembali terbangun saat tangan yang berat menimpa kepalanya.
Ia mengerjapkan mata dan ternyata tangan Hiroshi lah yang sedang memegang kepalanya.
Anita tersenyum saat melihat mata Hiroshi terbuka walau pun sangat sayu dan agak memerah.
“Kenapa begini? Kesambar petir?” tanya Anita.
Hiroshi tersenyum dan menyingkirkan handuk basah yang ada di dadanya.
Anita mengambil dan meletakkannya di atas nakas.Ia memegang dahi Hiroshi, panasnya sudah turun.
“Terimakasih,” kata Hiroshi dengan suara serak.
“Hmm?”
“Orang sakti mana bisa mati semudah itu,” Anita mengusap rambut Hiroshi.
Ia segera beranjak ke dapur untuk membuatkan Hiroshi bubur halus dan susu hangat.
Pelayan di rumah itu membantunya karena Anita terlihat kelelahan.
Ia segera kembali ke kamar Hiroshi dan melihat dokter Bambang sedang memeriksa keadaan Hiroshi.
“Cabut infusnya Om,aku sudah tidak apa apa,” kata Hiroshi.
“Hei, baru sadar sudah sok sok an begini. Besok kalau tidak panas lagi baru dicabut. Masih ada injeksi obat,” kekeh dokter Bambang.
“Om,Hiro mau ke kamar mandi.”
__ADS_1
“Iya ayo Om Bantu, berdiri saja belum bener.Ke kamar mandi juga gak harus dicabut jarum infusnya,” kata dokter Bambang.
Hiro melihat ke arah Anita yang membawakannya makanan.Akhirnya Hiroshi tidak membantah dokter Bambang. Ia ke kamar mandi dipapah oleh seorang perawat pria.
Dokter Bambang mendekati Anita dan memintanya duduk di sofa tunggal yang ada di dekat tempat tidur Hiroshi.Pria paruh baya itu yang mengganti kursi di tempat itu dengan sofa karena khawatir dengan Anita.
“Nona, terima kasih ya.Kemarin aku menghubungi dokter Haris seorang psikiater karena sakit Hiro tidak biasa. Katanya kemungkinan Hiro sedang depresi atau dalam tekanan yang sangat besar. Sebelumnya dia minum obat tidur di Vilanya dan seharian tidak makan apa apa. Untung saja Priyono cepat memanggil saya. Hiro mengigau terus saat panas tinggi hampir empat puluh derajat,dan yang dipanggilnya hanya Anita,Anita.Dokter Haris memintaku untuk mencarimu dan berbicara dengan Hiro walau pun hanya di dalam hati,” kata dokter Bambang.
“Saya tahu,itu namanya Silent Hipnosys. Saya pernah mempelajari hal ini dari teman saya seorang psikolog,” kata Anita.
“Ngomongin apa Om? Jangan ceritakan, aku malu,” kata Hiroshi yang baru datang dari kamar mandi.
“Nggak, Om hanya bilang terimakasih sama Nona Anita.Cepatlah pulihkan dirimu Hiro, apa apaan kau ini? Semua orang pasti ribut kau tiba tiba menghilang,” kata dokter Bambang.
“Iya,iya.”
Hiroshi melihat ke arah Anita yang dari tadi membawa semangkuk bubur susu.
Ia berusaha mengulurkan tangannya tapi Anita menepisnya.
“Biar kusuapi, tanganmu masih gemetar,” kata Anita.Hiro menurut saja karena memang ia belum makan dari kemarin.
“Nona, pengurus Vila ini sudah menyiapkan kamar untukmu.Istirahatlah setelah ini, kau juga harus menjaga dirimu,” kata dokter Bambang.
“Tidak, jangan.Kau tidur saja di sini Anita. Aku sudah lama tidur jadi biar aku yang nenjagamu.”
“Hadeh, ngomong opo Bocah,” kata dokter Bambang seraya menoyor kepala Hiroshi.
“Jangan pergi,aku takut kalau aku tidur, saat membuka mata dia sudah tidak ada,” kata Hiroshi.
“Ora ora Cah(nggak akan),tak kunci semua pintu rumah biar Mbak Anita gak bisa ke luar.”
__ADS_1
Anita tersenyum melihat tingkah Hiro yang menjadi kekanak kanakan.