
Hiroshi pindah duduk di sofa dekat jendela.Ia meletakkan rekam medis milik Anita dan membuka beberapa paperbag yang tadi dibawanya.
“Aku tadi minta asistenku membelikan pakaian untukmu. Semoga tidak terlalu kecil.Kalau masih pusing sini duduklah,semalam aku memberikan terapi hormon supaya HBmu tidak dibawah limit.Kau harus makan makanan yang bergizi,jangan makan fastfood terus.”
Hiroshi memanggil beberapa orang untuk menyiapkan makan siang.
Anita duduk tak jauh dari Hiroshi,ia menyandarkan kepalanya karena masih lemas.
“Lanjutkan ceritamu,” kata Hiroshi.
“Aku lapar Hiro,” kata Anita.
Hiroshi tersenyum, ia segera ke kulkas untuk mengambil susu cair kotak ukuran besar.Menuangkannya ke dalam gelas kaca dan menambahkan sedikit sirup karena Anita tidak suka susu tawar.
“Thanks,” kata Anita lalu meneguk habis susunya.
Hiroshi menatap Anita yang masih sedikit berantakan.Wajah khas bangun tidur tanpa makeup.Dalam hati ia berharap setiap kali bangun di pagi hari wajah itulah yang pertama ia lihat.
“Hiro..”
__ADS_1
Anita melambai lambaikan tangannya di depan wajah Hiroshi.
“Mmm, maaf.Lanjutkanlah.”
“Setelah beberapa kali mengintimidasi diriku, suatu sore Ryohei datang dengan banyak pengawal dan dua orang polisi.Ya aku tidak tahu itu polisi beneran atau gadungan untuk menakutiku. Mereka masuk ke kamarku dan memasukkan semua isi lemariku ke dalam beberapa koper besar.Termasuk buku buku dan lainnya dengan kasar.Laptopku sampai rusak waktu itu, tapi untunglah datanya masih bisa diselamatkan.Mereka menyeretku masuk ke mobil dan semua penghuni rumah itu tidak ada yang berani membelaku karena ada polisi di situ. Aku menangis karena diperlakukan seperti penjahat.Saat dalam perjalanan aku sempat melawan dan berhasil menendang kepala sopirnya. Kubuka pintunya dan aku berlari ke luar karena mobil berhenti.Tapi kakakmu itu juga lari ke luar dan menangkapku.”
Anita menuangkan susu dan meminumnya.Hiro segera menuangkan sirup ke dalam gelas itu, karena ia khawatir Anita akan memuntahkan kembali setelah meminumnya.
“Hiro, kau tidak ke kosan seminggu itu.Aku berfikir mungkin kau sudah akan menikah jadi tidak akan lagi menemuiku,” tanya Anita.
“Sekarang aku tahu, kenapa waktu itu Ryohei memintaku pergi ke Jakarta untuk melakukan penelitian lab selama seminggu bersama seorang ahli dari Amerika.Mereka melarangku memakai ponsel selama di sana. Begitu aku kembali kau sudah tidak ada.Rumah kost bilang kau pindah dan mereka tidak tahu kau pindah ke mana.Sudah kukatakan soal tunangan dan foto itu bohong.Aku tidak dekat dengan perempuan manapun kecuali Anita,” jawab Hiroshi.
“Mereka membawamu ke mana setelah itu? Aku tidak mencarimu karena kupikir memang itu yang kau inginkan, bertemu dengan seseorang dari masa lalumu.”
“Mereka membawaku ke perbatasan kota Semarang.Tapi sebelum sampai ada beberapa mobil menghentikan kami.Rafael Harsen menghentikan kakakmu dan membawaku pergi. Ternyata dia sudah mengikuti dari Jogja.Aku tinggal dua hari di rumahnya dan memutuskan kembali ke Solo,” jawab Anita.
“Bagaimana kau mengenal Rafael? Dia memang rutin ke Jogja untuk mengantar istrinya konsultasi dan pengobatan ke Psikiater, ayah dari temanku.Dulu aku sering ketemu karena dokternya juga akrab dengan keluargaku.Istri Rafael seorang bipolar.”
“Aku pernah menyelamatkan anaknya saat hampir tertabrak mobil karena mau mengambil bolanya yang menggelinding di Jalan.Saat itu aku habis beli makan.Rafael sibuk bicara di telfon di samping mobilnya sampai sampai tidak tahu kalau anaknya turun dari mobil.Dia memberikan kartu namanya dan meminta nomor telponku.Tapi sekian lama aku juga tidak pernah menghubunginya. Mungkin waktu itu kebetulan dia tahu.Sampai pada akhirya aku bekerja sebagai sekretarisnya selama beberapa bulan setelah wisuda.Aku merasa tidak enak karena Tuan Harsen ayah Rafael sendiri yang datang ke Solo memintaku bekerja di perusahaannya.Setelah itu ada tawaran pekerjaan yang sesuai dengan jurusanku dari temanku, di dekat kampung halaman.Jadi aku memutuskan untuk menerimanya. Dan di sanalah aku bertemu kembali dengan Jimmy suamiku.Dia membeli perusahaan itu karena aku ada di sana.Dan aku baru tahu kalau selama ini dia mencariku dan selalu mendapatkan kesulitan karena ayahnya.Bahkan waktu SMA dia dikurung di asrama supaya tidak bolak balik Jakarta Solo untuk mencariku.”
__ADS_1
Anita meneguk kembali minuman di gelasnya.
“Hiro, hati dan nasib seseorang bisa berubah secepat angin.Sebesar apa pun cinta Jimmy kepadaku, tidak akan berarti jika sekarang dia memilih untuk menikahi orang lain demi apa pun itu alasannya.Makanya aku lebih memilih memulai lagi hidupku, membesarkan anak anakku dan melupakan semuanya.”
Hiroshi menggenggam tangan Anita.
“Biarkan aku tetap ada di dekatmu Anita,jangan menolak ya.”
“Hiro, aku tidak mau mempersulit hidupmu.Menikahlah dan lanjutkan hidupmu.Aku tidak mau mendapat masalah dan keluargamu mencelakai anak anakku.Kau boleh datang mengunjungiku, tapi jalanilah hidupmu seperti yang diinginkan keluargamu.Sekali ini dengarkan aku ya.”
Anita mengacak rambut lurus Hiroshi, perasaan sayang yang dulu sering ia tunjukkan, tiba tiba mengalir begitu saja.
“Aku tidak akan menurutimu.”
Hiroshi mengambil sub daging dan jamur shitake yang dibuatkan koki di rumahnya.
“Makanlah, ini enak.Habis itu mandilah.Setelah itu ayo ke gardu pandang.Kita lihat puncak Merapi dan buat foto cantik di sana,” kata Hiroshi.
Anita tersenyum dan memakan sub itu dengan penuh semangat.
__ADS_1