
Anita terdiam cukup lama,akhirnya ia mengetikkan pesan untuk kekasihnya itu.
"Jim, aku menginap di rumah.Kalian pulanglah duluan.Besok aku akan kembali bekerja,Aksal akan mengantarku ke kantor."
Beberapa saat kemudian ada balasan dari kekasihnya itu.
"Kami kembali habis magrib,jangan ke mana mana." Ada emoji menyeramkan di akhir kata.
"Baiklah Tuanku, hamba akan mengunci diri di kamar sampai Tuan kembali," jawab Anita. Ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.Anita menoleh ketika mendengar pintu kamarnya diketuk,pintu terbuka dan melihat Ayahnya masuk kemudian duduk di tepi ranjang.
"Putriku,kau tampak pucat sekali.Ada apa? Tolong jujurlah pada Ayah," pria itu mengelus kepala Anita yang masih terbaring di tempat tidurnya.
"Tidak apa Ayah,mungkin tekanan darah Anita sedikit drop.Cuma butuh istirahat dan minum vitamin saja," jawab Anita.
"Apa perlu Ayah panggilkan dokter?"
"Tidak perlu, tadi pagi Nita sudah diperiksa dokter.Obatnya belum habis."
"Apa hasinya? Apa positif?" tanya Ardian cemas.Anita membelalakkan matanya, wajahnya merona mendengar pertanyaan ayahnya.
"Ayah ini.Anita sedang haid jadi agak lemes, keluarnya banyak sekali," jawab Anita.Ardian memegangi dadanya.
"Syukurlah, ayah suda khawatir.Ayah melihat kau dan dia sudah sedekat itu."
__ADS_1
Terdengar ketukan di pintu.Anita dan ayahnya menoleh ke sumber suara.Jim berdiri di depan pintu.
"Apa boleh masuk?" tanyanya.Ardian bangkit dari duduknya.Ia menepuk bahu calon menantunya kemudian ke luar dari kamar Anita.Jim menyodorkan sebotol minuman kepada Anita.
"Apa ini?" tanya Anita.
"Jus kurma dan susu,minumlah.Arman yang buat," jawab Jim.
"Jangan menyuruhku minum jus aneh lagi," tolak Anita.
"Ini rasanya enak," Jim meminum sedikit, Anita melihat ekspresi datar kemudian mencoba meminumnya.
"Ini tidak enak," keluh Anita.
"Apa kalian akan segera pulang? Aku menginap di sini, besok aku.."
"Kami menginap di sini,aku sudah memberi tahu ayahmu tadi.Aku juga sudah menyerahkan copy identitas kami untuk diserahkan pada pak RT.Hidup di kampung ribet sekali."Anita bangkit dari duduknya kemudian mengikat rambutnya.
"Nita." Jim melingkarkan tangan Anita ke pinggangnya.
"Hmmm," gadis itu mendongakkan wajahnya mencoba untuk melihat wajah kekasihnya yang jauh lebih tinggi darinya.
"Aku mencintaimu," Jim menunduk dan mencium bibir Anita.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu,Sayang," jawab Anita.
"Kalau begitu menurutlah,supaya kau tidak sakit.Ayo kita makan," Jim meraih tangan Anita kemudian membawanya ke meja makan.Jim membuka kotak besar yang dibawakan Edy.
"Ayo makanlah.Ini steak buatan Arman. Kau harus makan banyak daging supaya cepat pulih." Jim mengambil dua lembar steak dan meletakkannya di atas piring. Dipotongnya steak itu menjadi lebih kecil supaya mudah di makan oleh Anita.
"Ini terlalu banyak," kata Anita.
"Menurutlah Anita?Ayo makanlah," Jim menyuapkan potongan daging itu ke mulut Anita.
"Enak,Arman memang koki hebat,"kata Anita.
"Ini silahkan dimakan,masih banyak.Jack tidak mau nih?" tawar Jim.
"Ee siapa bilang tidak mau," kata Julian seraya mengambil selembar steak beserta steam kentang dan buncisnya.Jack dan Aksal juga melakukan hal yang sama.
"Ibu,ambilkan buat Ayah dong," kata Ardian. Anita tersenyum yang melihat Ayahnya jadi manja.
"Wah, masakan ibu jadi tidak laku nih," kata ibu Anita.
"Tenang Tante,pasti saya makan setelah ini. Masih muat satu porsi lagi,"kata Julian.
"Jack,lusa ajak dia ngejim biar tidak obesitas." Jack dan Jim terkekeh dan Julian menendangkan kakinya.
__ADS_1
"Hey bukan aku," teriak Jack. Ardian tersenyum senang melihat tingkah tiga pria tampan yang berubah jadi kekanakan itu.