
"Hai... Ssayang," suara Anita terbata bata
"Hai.. Mmm apa kau sungguh sungguh dengan kata katamu Sayang?"
"Yang mana?" Anita semakin merasa tidak tenang.
"Benarkah kau ingin menghabiskan malam ini bersamaku?" Nafas Anita terasa sesak.
"I iya aku ingin," Anita melirik ke arah Julian yang mengepalkan tangannya di depan Anita.
"Kenapa suaramu seperti itu, apa supirmu sekarang sedang mengancammu?"
"Tidak Jim, aku hanya merasa gugup dan malu.Aku hanya tidak percaya bisa mengatakan hal yang tidak pantas kepadamu. Aku ini tidak pandai merayumu hehe, maaf," terdengar Jim tertawa.Aahh syukurlah, Jim sudah bisa tertawa.
"Okey kita bertemu malam ini.Dandanlah yang cantik Sayang, kita buat malam ini berkesan.
__ADS_1
"Iya Sayang, bye.." Anita menutup telponnya.
Tangan Anita masih gemetar.
"Juuuu! Sialan!" Julian terkekeh,Anita memukul lengannya.
"Hei aku lagi nyetir," teriak Julian.
"Kau pikir bagaimana aku menghadapinya. Bagaimana nanti aku Julian?" keluh Anita. Julian tertawa senang.Anita tidak bisa tenang hingga sampai di tempat tujuan, ia hanya duduk diam sementara Julian sudah berteriak memintanya turun.Anita mengikuti saja ke manapun Julian pergi.Sampai di lantai tiga pintu lift terbuka.Julian membawa Anita ke Ballroom tempat sosialisasi dilangsungkan. Ia mengisi buku tamu dan memberikan tas souvenir yang diberikan oleh panitia kepada Anita.
yang pas.Tak lama kemudian Julian kembali dan duduk di sebelah Anita.
"Pintar juga," puji Anita.
"Hari gini,jaman milenial masih pakai cara kuno rugilah.Aku mulai mengantuk Anita." Julian melipat tangannya di meja dan meletakkan dahinya di atasnya.
__ADS_1
"Julian,jangan norak.Di bawah ada hotel, check in sana, tar kalau sudah selesai aku telpon," kata Anita sambil menggoyangkan lengan Julian.
"Dia bisa menghabisiku, Bodoh.Kau pikir ngapain aku di sini? Kakakku menyuruhku menjagamu dengan nyawaku,"jawab Julian. Akhirnya Anita membiarkan saja dia melakukan apa saja sekehendak hatinya.
"Hei apa kau benar mencintai kakakku itu Anita?Jangan membuatnya frustasi.Apa tidak bisa kau buat dia bahagia sedikit," terdengar suara Julian yang diam saja sedari tadi.
"Kau tidak tidur ya? Dasar kau ini,tentu saja aku mencintai kakakmu itu.Hei, kau menyebutnya kakak,apa benar dia itu saudaramu? Atau karena dari dulu kau menempel padanya terus,lalu kau anggap dia kakakmu?"Anita terkekeh kecil.
"Bodoh.Ayahku adalah adik ayahnya Jim. Ibu Arron adalah kakak perempuan ayahnya Jim,tapi dia menikah dengan orang Taiwan jadi Arron mengikuti kewarganegaraan ayahnya," jawab Julian.
"Lalu kenapa kau tidak begitu mirip dengannya,sepertinya wajah kalian tidak mempunyai unsur kesamaan?" tanya Anita lagi.Julian membuka matanya yang masih mengantuk dan menyandarkan punggungnya di kursi.
"Hei,kau ini cuma pura pura cinta ya sama Jim? Kenapa kau tidak tahu sama sekali tentang kekasihmu itu? Kenapa tidak kau tanyakan ke dia?Bodoh sekali kau ini," Julia mulai kehilangan kesabarannya.
"Aku tidak berani menanyakan tentang keluarganya.Belum tentu juga dia menikahiku Julian.Bisa saja dia berubah pikiran dan menikahi orang lain yang jauh lebih segalanya dariku."Julian memegang dagu Anita dengan marah.
__ADS_1
"Jangan berani mengatakan itu kepadanya Anita,karena aku tahu dari dulu yang ada di kepalanya cuma dirimu.Jim sangat tangguh dan jenius dalam bidang bisnis.Tapi dia bisa hancur berkeping keping karena dirimu. Kalau kau memang mencintainya,jangan pernah katakan itu di depannya.Dan ingat, aku bisa menghabisimu kalau kau sampai meninggalkannya," Julian mencengkeram tangan Anita,gadis itu merintih kesakitan hingga beberapa orang menoleh kepadanya.