
Julian melepaskan tangan Anita" Maafkan aku," gumamnya.
"Aku akan menjaga perasaannya Julian, selama ini aku selalu mencari sosok yang ada kemiripan dengannya.Entah itu wajahnya, sikapnya, caranya bicara atau apapun yang mirip dengannya."
"Kau tidak perlu menceritakan kisahmu dengan pria lain," geram Julian.
"Jim itu lebih mirip dengan ibunya.Dia memiliki darah campuran, ibunya asli Italy. Kedua orang tuanya sekarang menetap di Italy dan punya beberapa usaha di sana.Jim punya kakak laki laki yang sekarang mengelola usah Jim di Amerika.Dia juga punya seorang adik yang sekarang tinggal di Italy bersama orang tuanya." Julian meneguk minuman di gelasnya.
"Cepatlah menikah dengannya Nita, hidupnya pasti lebih tenang kalau setiap dia membuka mata, kau yang ada di sampingnya."
"Yah, itulah yang sebenarnya aku inginkan. Mungkin dalam waktu dekat aku akan membawa Jim ke rumah," jawab Anita.
"Good," Julian menepuk pundak Anita.
Julian menghela nafas panjang,ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan untuk mengambil Handycam miliknya.
__ADS_1
"Ayo pergi,kita sudah dapat poinnya.Tinggal acara tanya jawab saja," Julian menarik tangan Anita.
"Habis ini ada jamuan makan siang, tunggu sebentar lagi ya.Aku lapar Julian," Anita menarik lagi tangannya.
"Dasar kau ini, di gedung ini banyak restoran enak,akan kutraktir sampai perutmu tidak muat."Julian kembali menarik tangan Anita.
"Anita!" tiba tiba seorang lelaki berbadan kekar menghampiri meja mereka.
"Ba Baruna?" Anita terbata bata.
"Aku sudah punya calon suami Baruna, aku minta maaf," jawab Anita.
"Kami harus pergi, sorry Baruna, Anita adalah milik kakakku," Julian segera membawa Anita pergi.Banyak mata yang tiba tiba mengarahkan pandangan pada mereka karena keributan kecil itu.
"Hei Julian, jangan kurang ajar kau ya.." Baruna berteriak dan mengejar Julian dan Anita.Julian setengah berlari membawa Anita, menyelinap diantara lorong lorong gedung dan akhirnya membawa Anita ke suatu ruangan yang cukup luas.Tanpa mengatakan apapun ia mendorong Anita hingga terduduk di sofa.Julian berkali kali menelpon dan mematikan ponselnya, entah siapa saja yang dia hubungi.Anita masih gemetar karena bertemu Baruna, orang yang menjadi sumber masalah antara Jim dan dirinya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian datang seorang pria paruh baya menghampiri Julian yang baru saja menutup telponnya.
"Ada apa Julia?" Julian menoleh dan mendekati pria itu.
"Julian mau pinjam lift pribadi Ayah, juga pinjam mobil Ayah." Anita melihat kepanikan di muka Julian.
"Okey.Siapa gadis ini? Pacarmu?" tanya pria itu.
"Jim, dia pacar Jim," Julian mengambil kunci mobil dari tangan pria itu dan menarik tangan Anita menuju ke sudut ruangan.Ternyata ada lift yang langsung terhubung ke area parkir petinggi gedung tersebut.Julian mendorong Anita masuk ke kursi depan dan dia sendiri duduk di belakang kemudi.Dengan cekatan Julian memasang seatbelt Anita dan dirinya sendiri.Mobil itu segera melaju kencang menuju jalan raya. Julian mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi.Ia mengambil jalan yang tampak sepi,sepertinya dia hafal betul jalan mana saja yang harus dilalui.
"Julian kita mau ke mana? Jangan ngebut, aku takut," keluh Anita.
"Diamlah Anita, ada yang mengikuti kita. Biarkan aku konsen ke jalan okey.Tutup matamu kalau kau takut."
Ya Tuhan, apa ini hari terakhirku pikir Anita.
__ADS_1