
Jim membelokkan mobilnya ke jalan yang lebih sempit. Terpampang papan nama Wisata Kebun Buah.Anita melihat ke bawah. Terhampar perkebunan Apel yang sedang berbuah lebat.Bersebelahan dengan kebun jeruk yang juga berbuah lebat.Sebelahnya lagi jambu biji dan paling ujung kebun strowberry.Anita tersenyum senang, “cup” Jim mencium pipinya.
“Kau senang?” tanyanya.
“He em, aku ingin sekali memetiknya.Langsung dimakan di sana,” jawab Anita. Jim tampak sedang menelpon seseorang, beberapa saat kemudian ia mengakhirinya.
“Tidak boleh langsung di makan Sayang, masih ada ulatisida,harus dicuci dulu,” kata Jimmy.Anita tertawa mendengar perkataan suaminya.
“Jadi ingat sama pak Sumantri, guru biologi kita.Jamurisida, belalangisida,tikusisida,” Anita tertawa lagi,Jim ikut tertawa.
“Aku juga suka diajar pak Sumantri,belajar tapi nggak boring.Aku tidak pernah ngantuk saat pelajaran biologi. Itu Tuan rumahnya sudah datang,” Jim menyalami seorang pria muda.Ia mengajak Jim dan Anita ke sebuah rumah Joglo di tengah perkebunan.Pria itu mempersilahkan mereka duduk di kursi kayu dan sudah terdapat dua buah map berwarna hijau di meja.Jim memgambil dan membaca isinya.
“Di mana Pak Hanafi?” tanya Jimmy.
Pria itu mengambil beberapa hasil produk perkebunan dan menyuguhkan kepada mereka.
“Masih dalam perjalanan Tuan, sebentar lagi sampai. Silahkan diminum Nona,Tuan,” jawab pria itu.
__ADS_1
Anita segera mengambil sebotol sari apel dan meminumnya.
“Enak?” tanya Jimmy.Anita tersenyum dan mengangguk.
“Selamat siang Tuan Jimmy,” seorang pria sebaya mereka datang dan menyalaminya. Sementara Anita hanya menunduk menghabiskan Jusnya.
“Ini kontraknya?” tanya Jimmy.
“Iya Tuan, silahkan dilihat lagi. Kalau ada yang salah biar kami revisi,” kata Hanafi.
“Saya sudah membacanya, sudah sesuai seperti yang kita sepakati sebelumnya.Akan saya tanda tangani.” Jim mengambil bolpoin yang ada di meja.
“Hai Han,” jawab Anita.Jim menghentikan goresan penanya dan menoleh ke arah Anita.
“Kau mengenalnya Sayang? Pak Han, dia Anita istriku,” kata Jimmy.
“Iya aku mengenalnya Sayang, dia dulu pacarnya teman sekamarku waktu masih di Jogja,” jawab Anita.
__ADS_1
“What! Dia teman sekamarmu? Shit,” umpat Jimmy, ia membuang kertas kontrak itu dengan kasar.
“Bukan aku Tuan,Cintya teman sekamarnya dia yang pacarku,” jelas Hanafi.Anita tersenyum lalu mencubit pipi suaminya dengan gemas.
“Cintya itu lelet sekali,tiap kali Hanafi datang jemput dia masih mandilah, masih nyetrika baju lah.Jadi kalau aku senggang pasti aku temenin ngobrol dulu.Habis deh cemilanku kasih ke dia,” Anita dan Hanafi sama sama tertawa.Jim hanya memberengut.
“Apa sekarang dia yang jadi istrimu Han?” tanya Anita. Hanafi menggeleng.
“Aku mendapatkan istri yang jauh lebih baik darinya.Aku memergokinya sedang ciuman dengan cowok lain.Sejak saat itu aku tidak pernah menemuinya.Aku lebih senang mencarimu hehe.”
“Aahh kau ini selalu saja membuatku dalam masalah.Aku dikunciin di luar saat habis nganter kamu siaran di radio kampus waktu Riko partner siaranmu sakit itu. Terpaksa aku tidur di kamar Hani.Akhirnya aku pindah kos, dia ngamuk terus tiap hari. Banting pintu,banting barang barang kalau aku lagi di kamar.” Anita tersenyum melihat Jim tampak bete.
“Pantesan,sejak itu aku tidak pernah ketemu lagi sama kamu.Aku tanya anak anak situ tidak ada yang tahu,” kata Hanafi.
“Pak Han, sudah kutanda tangani kontraknya,” Jim menyodorkannya kepada Hanafi dan pria itu juga menandatanganinya.
“Tuan Jimmy,saya senang bisa bekerjasama dengan perusahaan Tuan.Kalian boleh jalan jalan dulu memetik buah. Akan saya temani,” kata Hanafi.
__ADS_1
“Terimakasih Pak Han, tapi nanti sore ada tamu dari jauh dan saya sudah menantinya dari beberapa minggu yang lalu.Kami harus segera kembali,” jawab Jim.Anita memberengut kesal.