
Malam itu Jim tampak sedang sibuk dengan laptopnya di meja makan milik Anita.Tadi sore Edy mengantarkan pakaian dan berkas kerjanya dari kantor.
Anita mengeluarkan motornya dari ruang tengah, Jim hanya melirik sebentar ke arahnya.
"Jim, aku ke luar sebentar ya," katanya.
"Aku tidak mengizinkanmu ke luar rumah," kata Jimmy tanpa menoleh.
"Apa?" tanya Anita.
"Kau tidak boleh ke mana mana Anita, duduk dan diamlah."Jim masih duduk dengan berkas dan laptopnya.Wajahnya tampak serius.
"Aku mau duduk di teras saja ya, nunggu abang jual mei ayam lewat.Aku sudah lama tidak melihat orang lalu lalang" kata Anita. Jim tidak menjawab.Anita segera beranjak ke ruang tamu dan membuka pintu depan.
"Ckrrk." Anita menariknya dan pintu tidak bergerak sama sekali.
Keterlaluan manusia satu ini, kenapa pintunya dikunci dan di mana kuncinya, pikir Anita.
"Sayang, kunci pintu depan di mana ya?" tanyanya.
"Ada padaku, kenapa memang?"
__ADS_1
"Ya aku mau ke luar lah, aku mau lihat dunia luar Sayang.Aku hanya ingin duduk di teras." Kepala Anita sudah mulai nyut nyutan.
"Kenapa kau ini berisik sekali, tunggu sebentar lagi.Kita ke luar cari makan, aku belum selesai," tangan Jim sangat lincah di atas keyboard laptopnya.
Tangannya itu seperti punya mata, batin Anita.
"Yess, I win( ya, aku menang).Rasain lo, mati mati aja.," tiba tiba Jim berdiri sambil mengangkat kedua tangannya. Anita segera mendekati laptopnya.
"Ya ampuun, main game online kirain kerja. Mana kuncinya," Anita memberengut kesal.
"Aku sudah selesai dari tadi.Lucas nantangin main game online, ladenin aja.Sekalian gua habisi yang lainnya," jawab Jim seraya membereskan berkasnya dan mematikan laptopnya.
"Tenang aja, bakal ditraktir sama Lucas. Jangan berharap bisa ngalahin gua, suhunya gamer," Jim tertawa senang.Huh ke luar dah sifat kekanakannya. Jim berjalan menuju pintu depan dan mengeluarkan kunci dari saku celananya.
"Ayo, jangan bengong di situ.Katanya mau lihat manusia lalu lalang." Anita segera mengikutinya.Ia membukakan pintu mobilnya dan tanpa banyak protes Anita masuk dan duduk di kursi depan.Jim segera memutar dan duduk di belakang kemudi.Jim mengemudikan mobilnya dengan santai.
"Ke alun alun kah Jim?"
"He em," jawabnya.Anita diam diam menatap suaminya yang sangat tampan.Ia memakai poloshirt biru tua dan celana denim hitam. Pas sekali dengan wajah khas Italia yang tampan yang dimilikinya.
Jim tersenyum melihat Anita menatapnya begitu lama.
__ADS_1
"Aku ganteng ya?"Jim terkikik dan Anita segera memalingkan wajahnya.
Sampai di alun alun Anita mengajak Jim makan bebek goreng kalasan yang sangat membuatnya ngiler.Ia menarik suaminya supaya duduk di tikar yang dibentangkan di atas rumput.
Beberapa saat kemudian Jack dan Lucas muncul di hadapan mereka.Lalu disusul Julian yang segera mengambil tempat di samping Jimmy.
"Lho ko jadi banyak? bukannya hanya Jim yang harus ditraktir?" protes Lucas.
"Jimmy and friend, apa kamu tadi gak dengar," sanggah Jimmy.Lucas mendengus kesal.
"Biar aku yang traktir, aku kan habis gajian," kata Anita.
"Nggak nggak, jatuh harga diri gua ditraktir sama cewek," tolak Julian.Pesanan Jim segera datang.Jack tampak clingak clinguk, Jim hanya tersenyum.Dirinya memang tidak pernah mengajak Jack makan di tempat seperti ini.
"Hey, no spoon? no fork? (tidak ada sendok? garpu?)" tanyanya.Jim sudah mengira pertanyaan itu akan ke luar dari mulutnya.
"Haduh Jack,This is Javanese food, use your hand for eating( ini makanan jawa, makan pakai tanganmu)," kata Lucas.
"Air di mangkuk ini buat cuci tangan, bukan buat diminum," tambah Julian.
Jim dan Anita tertawa berbarengan.Yang lain melihat heran kepadanya.Jim dan Anita hanya saling pandang lalu tertawa lagi.
__ADS_1