CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption4


__ADS_3

Sore itu Anita belum bisa pulang, dia harus membantu Arini untuk print out SPT tahunan karyawan, jatahnya masih kurang duaribu lembar lagi."Huff, " dengusnya.


"Ta, kami pulang dulu ya, aku dan Dea sudah selesai, ndak pa-pa kan?" tiba-tiba terdengar suara Arini di belakangnya. Anita ingin protes tapi segera diurungkannya.Rumah Dea jauh dan Arini harus mengurus anak-anaknya.


"Ya, ndak pa-pa," jawab Anita.Tinggal dirinya sendirian di ruangan itu, Arron ada urusan di luar perusahaan, sudah pergi dari siang. Anita mengambil handuk kecil di laci bawah mejanya. Aku mau mandi biar seger, tidak ada orang ini, pikirnya. Ia mengambil sandal jepit di bawah mejanya dan bergegas pergi ke toilet. Anita merasa segar sekali terkena guyuran air, lumayan bisa sedikit segar.


"Anita! " terdengar suara laki-laki. Deg apa-apaan ini kan toilet wanita."Anita!!" terdengar teriakan lebih keras, dekat sekali dengan pintu toilet tempatnya mandi. Anita mengenal betul pemilik suara itu.


"Ada apa Jim?Tunggulah di mejaku, sebentar lagi aku selesai," sahut Anita. Tidak terdengar lagi suara.Anita cepat-cepat mengenakan pakaiannya dan mengambil air wudhu, darurat pikirnya. Anita membuka pintu toilet yang dipakainya dan Degg Jim masih di situ menyandarkan punggungnya di tembok sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Jim, kau.. " tanpa menjawab pria itu beranjak ke ruangan Anita, gadis itu mengikuti di belakangnya. Anita membawa kakinya ke ruang server untuk melaksanakan sholat. Jim tampak dengan sabar menunggunya sambil sesekali merapikan kertas hasil print out.


"Hati-hati Tuan, itu sudah diurutkan." Anita memberi peringatan supaya Jim tidak sembarangan menaruhnya.


"Graak Graak, " Tiba-tiba suara printer berbunyi keras "Asem," gumam Anita. Jim segera menelpon seseorang. Printer itu macet, Anita segera membuka penutup printer laser itu.Aduh kenapa sekarang sih, gerutunya. Beberapa saat kemudian datang office boy membawa sebuah printer laser dan menyerahkannya kepada Jim.


"Minggir, " Jim mendorong tubuh Anita supaya tidak menghalanginya.


"Itu type baru dan kita tidak punya catridge cadangannya." Jim tidak menjawab, ia sibuk menginstall drivernya di komputer Anita.

__ADS_1


"Ada empat lagi di kamarku," jawabnya. Jim menoleh ke arah Anita dengan senyum menawannya. Jantung Anita serasa tersengat listrik ribuan volt.


"Aku tidak pernah tahu kalau kau secerewet ini Anita. Dulu kau sangat pemalu, siapa pacarmu sekarang? " Jim menatap tajam ke arah Anita.


"Tidak ada, " jawab Anita singkat. Anita melanjutkan pekerjaanya sementara Jim duduk di sebelahnya."Apa Istrimu tidak ikut ke sini Jim? "Anita memberanikan diri. Tidak ada jawaban dari mulut Jim, Anita menoleh sebentar ke arahnya. Mata elang itu, menatapnya seperti anak panah yang segera melesat menghancurkan kepalanya." Maaf, tidak seharusnya ku tanyakan masalah pribadimu," mendadak ada perasaan sakit di hati Anita, dia takut mendengar jawaban yang mengecewakannya.


"Jim.. Hai kenapa melihatku seperti itu? " Anita merasa gugup sampai sampai menumpahkan minuman di mejanya ke pangkuan Jim."Maaf.. maaf, " reflek Anita membersihkan tumpahan minuman itu dengan tisu. Tiba tiba Jim menarik tangan Anita dan mendekap nya dalam pelukannya.


"Sampai sejauh ini Anita," bisiknya.

__ADS_1


"Jim, apa ini? Jim aku.. " Anita tidak melanjutkan kata katanya.


__ADS_2