
Dicky memegang bahu Julian Anggoro, ia mengambilkan kotak tisyu dan menyodorkannya ke hadapan sahabat ayahnya itu.Baru kali ini Dicky melihat sisi lemah pria yang selalu bersikap keras dan angkuh, jarang tersenyum walau pun mengatakan hal yang lucu.
“Om saya bisa merasakan apa yang Om rasakan.Jimmy selalu menghindari seseorang yang membuatnya sangat marah dan dia akan frontal kalau itu berhubungan dengan Anita. Siapa pun itu,” kata Dicky.
“Jimmy memukuli Emily yang baru datang dengan tongkat baseball, kami semua kaget dan hanya bisa bengong. Sampai akhirnya Lucas yang sedang mengutak atik laptop Emily berlari memegangi Jimmy.Kami semua diam seperti orang bodoh.Kaget karena selama ini Jimmy begitu menyayangi Emily.Apa pun dan berapa pun materi yang Emily inginkan selalu dikabulkan oleh Jimmy.Melihat dia memukuli Emily sampai hampir mati,aku bisa melihat kalau Jimmy bisa menghabisi siapa pun yang mengusik Anita. Bahkan bisa melukai dirinya sendiri. Aku merasa bodoh tidak mengindahkan larangan Jimmy untuk bekerjasama dengan Maksimori waktu itu.Dicky, aku hampir kehilangan kedua anakku sekaligus. Kalau Jimmy dan Emily tidak tertolong waktu itu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.”
Julian Anggoro kembali mengusap air matanya.
“Sekarang apa yang bisa Dicky bantu Om?”
“Aku pulang memang untuk membawa kembali istrinya Jimmy, tapi ini tidak mudah.Kirimkan beberapa orangmu untuk mengikuti dan cover Anita tanpa dia tahu.Kurasa yang dikirim Hans tidak cukup. Untuk keluarga Danuarta aku sudah mengurusnya.Aku pulang ke Indonesia karena Jimmy ngotot pulang sementara dirinya berdiri saja tidak sanggup.Aku kasih dia waktu dua minggu untuk memulihkan diri dengan mematuhi semua yang diinstruksikan dokter.Apa kau bisa Dicky?”
“Tentu Om, tidak ada kata tidak untuk keluarga Anggoro,” jawab Dicky.
☆☆☆☆☆☆☆
Sementara itu di rumah Hiroshi, pria berdarah Indonesia Jepang itu sibuk mengajari Anita untuk membuat Takkoyaki dan Sushi untuk makan malam.
“Hiro sudah jadi nih,” kata Anita.
“Hmm, not bad agak gosong sih,” Hiroshi tersenyum sampai lesung pipinya kelihatan.
“Rapopo lah, kalau kamu nggak mau biar kumakan sendiri,” kata Anita.
“Siapa bilang nggak mau, gosong jadi arang pun pasti Hiroshi makan kalau Anita yang buat,” jawab Hiroshi.
Anita memukulkan serbet ke kepala Hiroshi.
Interkom di di ruang makan berbunyi dan Hiroshi mengangkatnya.
“Biarkan mereka masuk,” katanya lalu menutup telpon.
“Ada apa Hiro?” tanya Anita.
“Trouble maker datang,” jawab Hiroshi seraya menyiapkan piring di meja makan.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Anita.
“Anita,kamu ga pa pa kan? Nggak diapa apain kan sama dokter penculik ini?” tiba tiba Siska memeluk Anita sambil memeriksa tubuh Anita.
Ihsan muncul dari balik pintu dan menyerahkan dua buah paperbag kepada Anita.
“Bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” tanya Anita.
“Tadi pagi aku menginterogasi direktur rumah sakit tanpa ampun,” jawab Siska.
“Hei,aku yang bermaksud memberitahumu. Hanya saja keduluan olehmu,” sangkal Hiroshi.
Ihsan dan Siska duduk di meja makan dan menikmati hasil kerja Hiroshi dan Anita.
“Hais yang ini kenapa pedes banget,” Siska lari ke kulkas dan marah marah.
“Ro, koq kulkasmu isine cuman air? Sialan, sengaja yo?”
“Dasar Preman, dari tadi teriak teriak terus.Itu yang di Kulkas besar di dapur sana kalau mau cari susu.Angetin di Microwave dulu,” Jawab Hiro.
“Hiro,ada yang diisi cabe Takkoyakinya?” tanya Anita.
“Iya, aku suka yang agak pedas jadi ada yang aku kasih irisan cabe,” jawab Hiro.
Anita tersenyum melihat Siska datang membawa susu hangat.
“Makanya kalau Tuan rumah belum duduk jangan asal comot makan saja,” kata Ihsan.
“Ro, ke mana semua pembantumu?” tanya Siska.
“Ada di rumah belakang, mau ngapain cari mereka? Aku meminta mereka istirahat dua hari ini, sampai jam tiga saja bekerja, mereka akan datang kalau kuminta” jawab Hiro.
“Sis maaf aku tidak bisa menghubungimu, ponselku di mana Hiro? Jangan dikantongi terus, mas Ferry pasti nyariin aku,” kata Anita.
“Tadi pagi dia telfon dan aku katakan kamu sakit dan perlu iatirahat beberapa hari.Dia bilang ga pa pa, cerpennya mau diisi cerpen orang lain dulu,” jawab Hiro.
__ADS_1
“Aku sudah buat sepuluh judul sesuai arahannya.Sebenarnya tinggal send, tapi laptopku...”
“Aku bawa di mobil Kak,sebentar aku ambilkan.” Ihsan bangkit dan beranjak ke luar.
“Ta, mendingan kamu tetap di sini sampai besok,” kata Siska.
“Lho, rencananya besok pagi kita mau balik Jogja.Iya kan Hiro?”
“Kau bisa tinggal selama apa pun kau mau,” jawab Hiroshi.
“Julian datang mencarimu Ta, aku tidak tahu sampai kapan dia di sini. Nanti coba aku gali informasi.”
“Sini kasih aku nomor ponselnya,akan aku suruh lacak dia ada di mana,” kata Hiroshi.
Siska segera memberikan nomor ponsel Julian.
“Signalnya ada di kota JM,” kata Hiroshi beberapa saat kemudian.
“Berarti aman balik Ta,” kata Siska.
“Siapa Julian?” tanya Hiroshi.
“Dia adik sepupu suamiku,” jawab Anita.
“Oh, keluarga Anggoro.Bagaimana kalau anak buahnya masih ada di sini? Kau tetaplah di sini dulu sementara,” kata Hiroshi.
“Pada akhirnya aku tetap harus hadapi mereka Hiro.Sudahlah tidak apa apa, aku harus mengakhiri ini dengan benar.Keinginanku hanya hidup tenang bersama anak anakku di Jogja,aku ingin menetap di sini.Besok pagi kita kembali ke Jogja ya,” pinta Anita.
“Anita..”
“Tidak Hiro,please.Aku sudah jelaskan semuanya dan tidak ada alasan lagi aku ada di rumahmu.”
“Tinggallah di rumahku yang ada di Jogja,” mohon Hiroshi.
“Jangan membuatku tambah masalah Hiro.Aku tinggal di rumah Siska dekat galeri.Kau bisa datang kapan saja,” tolak Anita.
__ADS_1
Akhirnya Hiroshi mau mengerti, ia tidak lagi memaksa Anita asal Anita tidak menjauh darinya.