
Pagi itu Anita makan di bawah bersama yang lain.Faris tampak sangat gembira menyapanya.
“Mas Faris bolos kerja?” tanya Anita.
“Kemarin aku sudah ajukan cuti untuk dua hari.Minggu ini tidak ada dinas luar lagi.Paling paling besok lembur sampe malem.Auditor itu sudah biasa tidur jam dua pagi, bangun jam lima pagi,” jawab Faris.Anita tersenyum.
Jimmy tersenyum dan mencium kening Anita saat masuk ke ruang makan bersama Lucas, Corvin dan Marcel. Rupanya pagi sekali mereka sudah datang.Kemarin malam Anita sempat melihat lihat sekitar rumahnya dari lantai atas.Ternyata tanah milik saudara saudara ayahnya juga tetangga mereka yang ada di dekat rumahnya sudah dibeli ayahnya untuk memperluas bangunan rumah.Pagar rumah pun menjadi sangat tinggi dan ada pos security di depan.Ada lima orang penjaga dan itu berganti pagi ini.
“Lagi mikir apa?” bisik Jimmy seraya mengambilkan sarapan untuk istrinya.
“Tetangga tetangga diusir ke mana?” tanya Anita.Jimmy tersenyum melihat wajah cemas istrinya.
“Mereka menjual tanah mereka setelah kuberikan harga tinggi.Aku memberikan mereka lokasi yang cukup strategis sebagai gantinya.Jangan khawatir, nanti kalau ada waktu kita bisa pergi sapa mereka,” jawab Jimmy.
Beberapa saat kemudian seorang pengawal gerbang membawa masuk Julian bersama Dicky.Jimmy menyambut mereka dan mempersilahkan untuk ikut sarapan.Anita pergi ke dapur untuk menemui ibunya.Ia sedikit kaget karena di dapur ada seorang anak buah Arman dan ada beberapa asisten rumah tangga baru.
__ADS_1
“Ibu, apa mereka bekerja di sini?” tanyanya. Ana mendekati putrinya.
“Suamimu yang memintanya.Mereka adalah istri para pekerja peternakan yang bisa bekerja bantu bantu di sini. Jam empat sore mereka pulang dan jam enam pagi mereka datang.Kenapa kau ke mari?Kenapa tidak makan bersama mereka? Kau harus makan tepat waktu supaya bayimu sehat.”
“Aku makan di sini saja, biar para kaum adam itu bebas berbicara.Aku merasa agak risih sebenarnya,” jawab Anita.
“Baiklah, akan ibu temani makan.Mau makan apa biar ibu ambilkan,” kata Ana.
“Nona, ini tumisan paprika kesukaan Nona,” kata Dina salah satu asisten Arman.
“Saya diperintahkan di sini selama Nona ada di sini.Ada juga beberapa anak buah pak Pur yang harus tinggal di sini untuk membantu selama Nona dan Tuan Jimmy ada di sini,” jawab Dina.
“Oh, begitu ya.Ibu, Jimmy tidak mengatakan apa pun padaku. Merenovasi rumah ini pun aku tidak tahu apa apa,” kata Anita.
“Suamimu mengatakan kalau ini memang kejutan untukmu, makanya ayah menyetujuinya.Kemarin lusa Jimmy menelpon ayah, mengabari kau masuk rumah sakit.Dia melarang kami ke sana, katanya kalian akan tinggal di sini sementara waktu.Juga mengabarkan kalau kau sedang mengandung.Nita, ibu sangat bahagia karena ini adalah cucu pertama.Kau harus menjaganya benar benar ya, buatlah rumah kita ramai oleh suara anak anak.Ibu benar benar bahagia,” Ana meneteskan air mata sementara Anita segera memeluk pundak ibunya.
__ADS_1
“Tentu Bu,” kata Anita.
“Sayang...” Suara Jimmy mengagetkan mereka.
“Maaf aku makan di sini bersama Ibu.Aku merasa sedikit canggung karena hanya aku seorang yang perempuan. Kalian pasti tidak leluasa kalau aku di sana,” kata Anita.
“Aku tahu,aku buatkan susu sebentar. Minum juga vitamin dan suplemennya. Sebentar lagi aku mau meeting di sebelah.Kamu harus istirahat lagi.”
Jimmy mengambil kaleng susu ibu hamil dan membuat satu gelas untuk istrinya.
“Jim, aku mau istirahat di kamar lamaku. Terimakasih sudah membuatnya menjadi indah.Di atas tidak ada orang, jadi sebaiknya aku di bawah saja,” kata Anita seraya meminum susunya.
“Baiklah, aku pergi dulu.Ibu nitip sebentar ya, dia harusnya hanya rebahan hari ini.”
Jimmy mencium kepala Anita lalu pergi.
__ADS_1