CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption158


__ADS_3

Julian dan Anita duduk santai di atas sofa sambil nonton film kartun.Julian tampak sedikit enggan dan mengambil remote TV.


“Pindah ya,” katanya.


“Jangan, lagi seru serunya,” kata Anita.


“Aku punya serinya di laptopku.Besok aku copykan,” kata Julian.


“Mau nonton apa sih? Sinetron yang dibintangi mantan pacarmu itu ya?” tanya Anita.


“Ah nggak, males lagi udah bosen.Mendingan lihat kamu gak pernah bosen.Sebenarnya kamu punya ilmu apa sih? Kenapa aku selalu ingin ketemu kamu setiap ada waktu luang, walau hanya melihat saja.Anita,sakit tahu melihatmu mesra sama kakakku,” kata julian seraya memegang dadanya.


“Aku punya jurus nyolok mata cowok plaboy kaya kamu.Ah bisa nggak sih diam bentar,aku ketinggalan tuh,” Anita menoyor jidat Julian yang selalu saja menatap ke arahnya.


“Kenapa kamu suka nonton serial Bleach?Aku juga suka nonton ini tapi sudah aku tonton sampai tamat.Tokoh mana yang kamu sukai?” tanya Julian, Anita tampak serius melihat layar TV.Julian mengguncang bahu Anita.


“Byakuya Kuchiki,cool ganteng gak banyak omong sepertimu,” jawab Anita.Julian tertawa ngakak melihat ekspresi jengkel Anita diganggu nonton olehnya.Serial itu sedang menayangkan Byakuya Kuchiki yang sedang bertarung dengan Ichigo Kurosaki dan lagi seru serunya.Tiba tiba “bleb” TVnya mati.

__ADS_1


“Asem, Julian!! Jangan usil, nyalakan TVnya.” Anita menendang kaki Julian.


“Aku pingin ngobrol sama kamu,sudah kubilang aku punya filenya.Kamu bisa nonton sampai matamu sakit. Jarang jarang aku punya kesempatan,please Anita,” mohon Julian.


“Baiklah,kau mau curhat? Soal apa? Apa kau sudah menelpon Siska? Hanya dia teman baik yang kupunya,” kata Anita.


“Cuma chat saja, membosankan. Dia marah soalnya aku minta dia cerita tentang kamu terus,” kata Julian.


“Bodoh.” Anita menoyor kepala Julian.


“Tentu saja dia marah,setiap cewek yang didekati itu maunya cowok tanya tentang dirinya bukan orang lain.” Anita membuka toples yang berisi camilan di meja samping sofa lalu menyodorkan kepada Julian.


“Oh, ya sudah kalau begitu.Apa dia sangat cantik?” tanya Anita.


“Sangat,secara fisik dia sangat sempurna.Aku belum begitu mengenal kepribadiannya.Tapi Anita,kesan pertama saat kami bertemu dan ngobrol,aku tidak tertarik padanya.Aku tidak punya rasa apa pun dalam hatiku atau pun keinginan selanjutnya untuk menemuinya,” jawab Julian.


“Baru sekali ketemu Julian,tidak bisa dijadikan ukuran.Kau harus sering ketemu supaya lebih mengenalnya,” kata Anita.

__ADS_1


“Aku sudah mengatakan pada ayahku kalau aku menolaknya. Kemarin Papi memukulku keras sekali,dia sangat marah.Untung ada Lucas yang memisahkan kami.” Julian meraih tangan Anita.


“Kau yang memberiku racun, Anita.Kau yang membuatku kehilangan perasaan pada semua wanita saat ini.Karena aku hanya menginginkan dirimu,” kata Julian.Anita segera menarik tangannya.


“Kau hanya menginginkan apa pun yang dimiliki Jimmy termasuk aku.Kau harus mencari seorang psikiater Julian.Itu akan membantumu mengatasi masalah yang ada pada dirimu,” kata Anita.Julian tertawa mendengar perkataan Anita.


“Anita, apa kau tidak ingat saat kau selalu mendapatkan surat dan bunga di laci bangkumu saat kita masih SMP.Apa saat itu kau sudah mengenal Jimmy?” Anita sontak menoleh ke arah Julian.


“Bagaimana kau tahu? Kita tidak pernah sekelas?” tanya Anita.


Julian tersenyum dan mengambil sebotol air mineral lalu meminumnya.Wajah tampannya itu tampak mengeras dalam diamnya.


Anita menjadi merasa bersalah pada Julian karena menyuruhnya menemui psikiater mungkin agak keterlaluan.


“Julian maafkan aku ya, harusnya aku tidak menyarankan yang aneh aneh seperti itu.Jangan anggap serius perkataanku tadi,” kata Anita.


“It's Ok,mungkin kau benar,” jawab Julian.

__ADS_1


Keduanya kembali terdiam dan berkutat dalam pikiran masing masing.


__ADS_2