
Anita melihat ke arah ponselnya beberapa kali. Chatnya ke Hiro dari kemarin tidak mendapat balasan bahkan tidak dibacanya. Ini sudah dua hari, Siska juga sedang ke Solo menghadiri sebuah Simposium. Lusi menyerahkan beberapa Nota penjualan sehari yang lalu.
"Lusi, penjualan kemarin nilainya cukup besar. Ada beberapa lukisan anak anak seni dan beberapa karya seni rupa yang lainnya. Ini batik tulisnya juga laku banyak, " kata Anita.
"Iya Bu Anita, ada beberapa turis dari Jepang membeli lukisan dan minta dikirimkan ke alamat mereka yang ada di sana.Mereka bilang sangat menyukai exotic kota Jogja dalam lukisan itu, " jawab Lusi.
"Telpon anak seni, kalau lukisan mereka laku untuk mengambil uang mereka. Katakan juga kalau ada lukisan lain yang menonjolkan exoticnya kota Jogja, di kawasan Tugu atau pantai Wates atau Parang Tritis yang sedang banyak pengunjung, kegiatan membuat tembikar di Kasongan, Gunung Merapi kalau dilihat dari gardu pandang sangat bagus. Pokoknya ikon Jogja lah.Kalau lukisan Malioboro rasanya sudah banyak ya," kata Anita.
"Asal jangan melukis di Sarkem aja," kata Ihsan yang tiba tiba muncul.
"Busset deh, coba saja kalau berani melukis di sana," Anita tertawa geli.
"Dokter Ihsan yang nganterin Bu Anita," celetuk Lusi.
"Asem, gini gini aku masih suci, " kata Ihsan.
"Masih gadis ceritane. Lusi, cepat kabari mereka,"kata Anita akhirnya. Lusi mengangguk lalu ke luar dari ruangan itu.
" Rujak manis Kak, aku tadi lewat depan alun alun Pakualaman." Ihsan menyodorkan bungkusan mika bening yang berisi irisan buah dan sambal manisnya.
"Taruh kulkas San, aku masih kenyang. Oh ya, Kamu ketemu Hiro nggak di rumah sakit?" tanya Anita.
"Nggak, sudah dua hari ini tidak ketemu. Waktu aku cari dia ke ruangannya malah ketemu sama komisaris," jawab Ihsan.
"Komisaris?"
"Pak Alan, ayahnya Kak Hiroshi," jawab Ihsan.
Tiba tiba saja jantung Anita berdetak kencang.
Apakah terjadi sesuatu pada Hiroshi, dengar dengar ayah Hiroshi menetap di Jepang, pikir Anita.
Sebaiknya tidak perlu ikut campur kalau memang Hiroshi tidak menjawab chat dan panggilannya karena itu.
'Bu Anita, ada pembeli yang minta Bu Boss galeri ini yang merekomendasikan lukisan untuknya." Tiba tiba Rosid karyawan galeri sekaligus supirnya datang ke ruangannya.
__ADS_1
"Baiklah, di mana dia? "
"Di gedung sebelah kiri, Bu Anita. Mari saya antar, " kata Rosid.
Anita segera mengikuti langkah Rosid. Sampai di ruangan itu ia melihat seorang pria paruh baya yang sedang melihat lihat lukisan. Ia melihat lukisan di sudut ruangan yang menggambarkan sebuah bukit yang gersang, pohon pohon kering dan patah, sungguh suasana yang menyedihkan.
"Selamat sore Tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Anita sopan.
Pria itu menoleh dan mengulurkan tangannya, ia tersenyum ramah saat Anita menyambut uluran tangannya.
"Saya ingin membeli lukisan, saya suka sekali lukisan ini. Kenapa tidak ada bandrol harganya ya?" tanyanya.
Anita cukup kaget pria itu menginginkan lukisan yang bukan dibuat oleh profesional yang notabene adalah lukisannya sendiri.
"Itu tidak dijual Tuan, itu hanya dipajang saja, " Jawa Anita.
"Sayang sekali, apa boleh saya beli limapuluh juta? "
Anita tertawa kecil dan merasa pria itu sangat lucu karena membeli lukisan jeleknya terlalu tinggi.
Lagi lagi Anita tak mampu menahan tawanya. Pria itu pun ikut tertawa karena merasa Anita sangat lucu.
"Saya ingin menghadiahkan ini untuk putra saya, boleh ya?"
"Pak Komisaris? Anda datang untuk membeli lukisan? " tanya Ihsan yang tiba tiba muncul di belakang Anita.
"Dokter Ihsan? Anda ada di sini mau beli lukisan juga? " tanya Alan Danuarta.
Tiba tiba secara reflek Anita mundur beberapa langkah. Perasaannya tiba tiba jadi gelisah.
"Ini galeri dokter Siska kakak saya, ini Kak Anita kakak angkat saya sekaligus pemilik galeri ini juga," jawab Ihsan.
Pria itu mengantuk angguk tanda mengerti.
"Kak, aku pergi dulu ya, jam istirahatku hampir habis. Nanti dimakan ya rujaknya. Pak saya permisi dulu," kata Ihsan.
__ADS_1
"Iya, iya Dokter silahkan, " kata pria itu ramah.
"Anda mengenal Dokter Siska?" tanya pria itu.
"Iya, dia itu sudah seperti kakak buat saya, " jawab Anita yang menjadi canggung.
"Berarti Anda mengenal Dokter Hiroshi anak saya? " tanyanya lagi.
Anita sedikit kaget dan deg degan atas pertanyaan pria paruh baya itu.
"Iya, karena Dokter Hiroshi adalah teman akrab Dokter Siska, " jawab Anita.
"Baiklah kalau begitu tolong bungkus lukisan ini ya, saya ingin menghadiahkan ini buat putra bungsu saya Hiroshi," kata pria itu.
"Tidak perlu membelinya, akan saya berikan lukisan itu buat Tuan. Tapi kalau seandainya putra Tuan tidak menyukainya, tolong kembalikan kepada saya. Rosid, tolong bungkus lukisan itu, " kata Anita.
Rosid segera membungkus lukisan itu dan menyerahkannya kepada asisten Alan Danuarta.
Pria itu pergi sebentar lalu kembali dengan membawa kotak berukuran sedang dan sangat bagus. Alan Danuarta menyerahkan kotak itu kepada Anita.
"Terimalah, ini adalah oleh oleh yang sengaja kubawa untukmu. Ini kubawa langsung dari Jepang," kata pria itu.
Anita tampak terkejut mendengar perkataan ayah Hiroshi.
"Tuan sengaja menemui saya? Apa ada sesuatu yang ingin Tuan bicarakan dengan saya? Saya datang ke Jogja untuk bekerja dan membesarkan anak saya. Bukan untuk menemui putra Anda."
Anita memberikan kembali kotak yang sangat cantik itu kepada Alan.
"Bukan itu maksudku, Nona Anita. Bisakah kita bicara lebih tenang. Di seberang sini ada restoran, bisakah.. "
"Rosid, bawa Tuan Alan ke ruang tamu dan minta Asih membuatkan minuman. Silahkan Tuan, " kata Anita seraya berjalan kembali ke ruangannya.
nb: Sarkem\=pasar kembang
(tempat lokalisasi)
__ADS_1