
Hari minggu Anita bangun pagi dan memanaskan mobil, setelah mandi dan sholat subuh ia mengganti pakaiannya dengan yang lebih casual. Ia melajukan mobilnya ke daerah Pesanggrahan, memarkirkan mobilnya dan menghampiri seorang ibu tua yang sedang berjualan lupis, tiwul, kelanting, gatot dan teman temannya tak jauh dari Mandala Krida.
"Mbah Wiro, laris dagangannya? Lupa sama saya, dulu tiap hari Minggu saya bantuin lho, "kata Anita.
Wanita tua itu melihat Anita dari atas sampai bawah dengan seksama.
Beberapa saat kemudian wanita itu tersenyum ramah.
"Mbak Nita ya? Ya ampun Mbak Nita, saya hampir tidak kenal. Sekarang cantik sekali, mau punya bayi sekarang. Sudah berapa bulan? " tanya Mbah Wiro.
"Empat jalan lima Mbah, saya beli satu satu ya semua macam, " kata Anita.
"Boleh, bentar ya saya bungkuskan. " Dengan cekatan wanita tua itu membungkus pesanan Anita.
"Saya tambahin lepet kacangnya, itu kan kesukaan Mbak Nita," kata mbak Wiro.
"Makasih Mbah,kapan kapan saya datang lagi. Saya mau jalan dulu nggih."
Anita mengeluarkan dia lembar uang ratusan ribu.
"Lho, kebanyakan Mbak Nita."
"Mboten nopo nopo (ndak pa pa)."
__ADS_1
Wanita tua itu tersenyum, Anita segera melajukan kembali mobilnya memutar arah menuju kearah berlawanan. Mobil itu melaju lebih pelan saat memasuki boulevard UGM dan memarkir mobilnya saat sampai di depan kampusnya dulu. Di pinggir jalan banyak sekali orang berjualan banyak juga pembeli yang duduk lesehan. Rata rata yang datang bersama keluarga atau pun teman. Anita duduk sendirian dan memesan sarapan juga air jeruk hangat. Ia teringat dulu sering datang ke tempat itu tiap hari minggu, sambil nonton teman temannya nge Band. Ferry dan Dani selalu saja ngikuti walau tidak diajak. Anita tersenyum sendiri.
"Saya juga pesan yang sama dengan Mbak ini ya Bu," tiba tiba seseorang datang dan duduk seenaknya di sebelah Anita.
"Hiro? Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" tanya Anita agak kaget.
"Indera penciumnku tajam, sudah hafal baumu jadi jangan kaget kalau tiba tiba aku muncul di dekatmu," jawab Hiroshi yang tampak ganteng dengan pakaian olahraganya.
"Huh, aku sudah mandi gak mungkin bau," marah Anita. Hiro tertawa senang.
Ia menerima makanan yang disodorkan penjual.
"Aku tadi ada di depan GOR Amongrogo waktu kamu habis beli lupis. Aku panggil panggil nggak dengar ya sudah kuikuti saja sampai sini."kata Hiroshi.
" Ngapain pagi pagi ke sana?"
"Anak didik?"
"Iya, aku ngajar Kimia di SMU PR 1. Sekaligus jadi pembina di beberapa exschool."
"Lho, kenapa nggak ngajar mahasiswa? Cari daun muda ya, lebih fresh di mata," ledek Anita.
Hiroshi tertawa sampai matanya yang agak sipit menjadi semakin sipit dan lesung pipinya semakin cekung.
__ADS_1
" Tebakanmu tepat sekali," Hiroshi tertawa semakin keras.
"Hiro! Banyak yang melihat ke sini, pelankan suaramu," marah Anita.
"Anak SMA itu lebih imut dan sangat lucu, aku sangat terhibur saat hal hal konyol mereka lakukan tanpa sadar. Banyak yang mengagumi ketampananku kau tahu?" Hiro tertawa lagi.
"Pak Guru Hiroshi... "
Tiba tiba serombongan gadis gadis menyapa Hiroshi.
"Lagi sama istri ya.. "
"E eh, kenapa kalian ada di sini bukannya kasih semangat buat tim?" tanya Hiroshi.
"Nanti saja, kami kan bukan anggota ceers. Ngomong ngomong Pak Guru tampan sekali kalau ketawa. Kalau di kelas, senyum yang banyak dong Pak.. "
"Iya nih, kita salah ngerjain soal karena Bapak jarang tersenyum, jadi tegang."
"Heis sudah sudah, jangan lama lama jajannya. Harus kasih semangat tim kita ya. Nanti aku kasih bonus coklat untuk yang jadi suporter. "
"Hah, asyiik. Beneran Pak? Hei ayo pergi, kita tunggu coklat cintanya pak Hiroshi. Kalau gak kasih kita cium saja rame rame. "
Anita terkikik saat gadis gadis itu pergi.
__ADS_1
Hiroshi menatap Anita yang tertawa sambil memegangi perutnya.
Anita,aku berharap bisa menjalani hidupku seperti ini selamanya denganmu, bisik hati Hiroshi.