CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption277


__ADS_3

Anita menghembuskan nafas panjang saat mobil yang mereka naiki memasuki Daerah Istimewa Yogyakarta. Edy yang bergantian menyetir dengan Hans juga tampak lega karena sudah sampai.


"Jim,apa kita cari makan dulu?" tanya Anita.


"Nggak usah,sudah dekat dari rumah. Kita makan di rumah saja.Aku tadi telpon Wayan supaya disiapkan makan siang," jawab Jimmy.


Anita menyandarkan kepalanya dan tak henti hentinya tersenyum melihat ke luar Jendela.


Walau pun perjalanan cukup melelahkan tapi perasaan bahagia begitu jelas tampak di wajahnya.Jimmy menggenggam tangannya dan Anita menoleh ke arahnya.


"Kau sesenang ini? Apa karena kau bisa segera menemui Ihsan dan Siska?"


"Tidak,bukan itu.Aku terikat dengan kota ini sejak lama.Aku selalu ingin kembali dan kembali ke sini tanpa alasan jelas. Aku jatuh cinta pada kota ini," jawab Anita.


"Apa cintamu itu lebih besar daripada cintamu padaku?"


"Dulu tidak,tapi sekarang mungkin saja," jawab Anita.


Jimmy menatap Anita dalam diam,ia tahu Anita berubah sejak kejadian itu dan ia harus bisa menerimanya.Bersabar dan berusaha mengembalikan cinta Anita memang bukan hal yang mudah.


Sampai di rumah mereka segera membersihkan diri dan makan siang,setelah itu masing masing beristirahat karena perjalanan dengan mobil sungguh melelahkan.


Anita mengambil ponsel barunya yang masih kosong melompong kontaknya.


Ia segera memencet nomor Ihsan yang ia hafal di luar kepala.


"Halo," terdengar suara Ihsan.


"Hai,San ini aku Anita," kata Anita seraya menjauh dari Jimmy yang sedang tidur pulas di sampingnya.


"Heh,Kak Nita? Ganti nomor lagi?" tanya Ihsan.


"Iya,ponsel yang kamu belikan itu mungkin dibawa mertuaku.Tapi sudahlah,aku masih ingat nomormu tenang saja.San,aku mau minta tolong padamu apa bisa?"


"Tentu saja,Kakak sekarang ada di mana?" tanya Ihsan.


"Aku baru sampai di Jogja,di rumah yang baru dibeli mertuaku.Besok saja kita ketemu,kamu ada waktu jam berapa?"


"Besok aku masuk malam,terserah Kak Nita saja mau ketemu jam berapa.Apa perlu aku samperin ke rumah?"


"Eh,nggak usah.Kita ketemu di resto langganan kita,di deket unpad," kata Anita.


Tiba tiba Ihsan tertawa mendengar perkataan Anita,ia masih ingat saja becandaan anak anak kampus.


"Universitas Pak Ahmad Dahlan luruus, belok kiri terus kiri lagi?” tanya Ihsan.


Anita ikut tertawa,ia jadi teringat teman sekosnya Dea yang notabene kuliah di sana dan selalu kesal kalau Ihsan menyebut kampusnya seperti itu.


" Iya,jam sembilan deh.Sarapan dikit saja, jangan lupa," kata Anita.


"Woke," kata Ihsan lalu menutup telponnya.


Anita nenyandarkan badannya di samping kursi meja makan kecil di dekat jendela.Matanya menatap lurus ke arah ramainya kota Jogja di kejauhan.


"Telpon siapa?"


Anita dikejutkan oleh suara serak Jimmy yang tanpa ia sadari sudah berdiri di sampingnya.


"Jim,sudah bangun?Ini,telpon Ihsan," jawab Anita.


"Ada apa telpon dia?" tanya Jimmy.


"Ah,aku cuma mau minta tolong carikan informasi dikit.Kenapa sudah bangun,kau pasti masih lelah," jawab Anita.


"Kau tidak ada di sampingku,aku tidak mau kehilangan dirimu," jawab Jimmy seraya memeluk dan mengelus perut Anita.


Anita menyandarkan dirinya dan mengenggam tangan Jimmy yang ada di atas perutnya.


Jimmy mencium pipi Anita dan menggendongnya kembali ke tempat tidur.***

__ADS_1


Pagi itu Anita pergi ke dapur dan menemui pengurus rumah yang baru ia kenal.Wayan,pria asal Bali yang menikahi wanita Jogja,dia adalah pengurus rumah dari pemilik rumah sebelumnya.


"Nyonya,apa ada yang Anda perlukan?" tanya pria itu.


"Pak Wayan,saya hanya ingin membuat bubur nasi untuk suamiku," jawab Anita.


"Koki sudah buatkan Nyonya,akan dibawa ke meja makan.Semua sudah siap Nyonya,termasuk rendang pesanan Tuan," kata Wayan.


"Baiklah," kata Anita lalu bergegas ke ruang makan.


Di tempat itu Hans dan Edy sudah duduk di meja makan.


"Mana Tuan ?" tanya Anita.


"Itu," kata Hans seraya menunjuk ke arah pintu ruang tengah.


Jimmy berjalan menuju ke ruang makan dengan dua orang mengikuti di belakangnya.


Anita membulatkan matanya saat melihat pria yang berjalan di belakang Jimmy.Ia segera bangkit dan memukuli lengannya.


Jimmy yang kaget segera memegangi Anita dan memeluknya.


"Rosid,berani beraninya kau muncul di depanku.Kau mau cari mati Rosid," teriak Anita.


"Anita tenanglah,Sayang Rosid adalah temannya Hans.Hans yang memberinya tugas untuk memastikan kau baik baik saja selama di Jogja," kata Jimmy.


Hans bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Rosid untuk duduk.


Anita mengambil kotak tisyu dan melemparkannya ke arah Hans yang dengan sigap menangkapnya.


"Kalian ini benar benar," marah Anita seraya mengusap air matanya.


"Maafkan saya Bu Anita," kata Rosid.


"Sudah,duduklah Sayang.Hans, apa kau sudah jelaskan pada Rosid apa tugasnya?" tanya Jimmy.


"Untuk beberapa hari ke depan,kami akan menemui beberapa manager beberapa supermarket untuk negosiasi harga tempat display produk produk kita.Di area Jogja dulu,setelah beres baru kita lanjutkan di Solo dan Purwakarta," jawab Hans.


"Tuan Jimmy silahkan lihat dulu tempatnya, Rehan sudah buat janji untuk bertemu dengan pemiliknya hari ini," jawab Rosid.


"Baiklah,kita mulai kerja hari ini. Kalian makan dulu, setelah itu telpon mereka jam berapa mereka ada waktu," kata Jimmy.


"Ya, Tuan.Sid,kau pergi denganku dan Rehan bersama Tuan," kata Hans.


Anita yang hanya diam dari tadi menoleh ke arah Jimmy yang dari tadi melihat ke arahnya.


"Apa kau sudah merasa sehat baru datang sudah ingin bekerja?" tanya Anita.


"Apa boleh buat,aku sudah libur terlalu lama.Hanya pergi sebentar saja,tidak masalah.Kau lihat kan,berat badanku sudah hampir pulih," jawab Jimmy.


"Awas kalau nanti haduh haduh,yang perut sakit lah,punggung sakit lah,kepala pusing lah."


"Nggak,trust me," kata Jimmy.


Hans dan yang lain menahan senyum mereka melihat Tuan Muda berdebat dengan istrinya.


"Oh ya, hari ini aku mau ketemu Ihsan. Aku pergi sendiri saja," kata Anita.


"Ed,kamu Antar Nona ya," kata Jimmy.


"Nggak usah,lagipula Pak Edy belum hafal jalan.Aku nyetir sendiri saja," tolak Anita.


"Sayang,perutmu itu pasti mengganjal setir.Sudahlah,jangan membuatku cemas.Tidak baik wanita hamil nyetir sendiri,apa kuantar dulu baru aku pergi?" tanya Jimmy.


"Tuan,bagaimana kalau saya yang jadi supir?" Wayan yang dari tadi berdiri di belakang Jimmy menawarkan diri.


"Baiklah kalau kau tidak sibuk,tolong ya," kata Jimmy.


Anita bangkit dari duduknya setelah menghabiskan roti isinya.

__ADS_1


Ia beranjak kembali ke kamarnya untuk ganti pakaian.***


Anita datang lima menit lebih awal dari yang dijanjikan.Tapi Ihsan datang lebih awal lagi.Ia melambaikan tangannya saat melihat Anita datang.


"Sudah lama San?" tanya Anita.


"Sekitar limabelas menit lah,Kak Nita mau pesan apa?" tanya Ihsan.


"Soda gembira saja,masih belum lapar."


"Hais rugi dong mereka kasih kita tempat, aku tadi belum sarapan," kata Ihsan.


"Yaudah,pesan sama denganmu."


Ihsan segera menuliskan pesanan dan memberikannya pada pelayan.


"Kenapa sekarang kita ketemuan seperti ini Kak? Apa tidak bisa kita ketemu di rumah saja? Bicara juga lebih nyantai," kata Ihsan.


"Aku membicarakan ini hanya denganmu, karena aku cuma percaya padamu. Tolong jangan beritahu Siska aku sudah di sini ya,nanti akan kutemui dia saat perasaanku sudah membaik," kata Anita.


"Apa Kak Nita masih mempermasalahkan soal yang kemarin? Kak Siska pasti nenolak Tuan Muda Anggoro kalau itu hanya membuat Kak Nita menjauh.Tujuan Kak Siska adalah mendekati Kak Nita," kata Ihsan.


"Aku ketemu kamu di sini bukan untuk membicarakan itu.Sudah kukatakan kan kalau aku tidak peduli dengan mereka. Aku memintamu ke sini karena minta tolong padamu," kata Anita.


"Baiklah,sesulit apa pun pasti kubantu. Apa yang Kakak ingin aku lakukan?"


"Tolong beri aku rekomendasi seorang psikiater yang bagus di sini," kata Anita.


"Apa?Untuk siapa?"


"Untuk diriku," jawab Anita.


Ihsan menatap wajah Anita cukup lama, bahkan ia tidak mempercayai pendengarannya.


"Iya Ihsan,itu saja yang kuinginkan. Terserah padamu kau berfikir apa tentangku tapi aku perlu seorang psikiater.Tapi kalau kau tidak bersedia juga tidak masalah,akan kucari sendiri," kata Anita.


"Aku tahu psikiater senior di sini,tapi katakan padaku kenapa Kakak memerlukannya,ada apa?" tanya Ihsan.


Anita menatap Ihsan dalam diam, mulutnya tidak sanggup mengatakan apa apa untuk menjawab Ihsan.


"Kalau semua bisa kukatakan padamu aku tidak memerlukan psikiater," jawab Anita dengan bibir bergetar.


"Baiklah,baiklah akan kubuatkan janji dengan dokter Haris.Nanti akan kukabari kapan bisa ketemu di jam kosongnya beliau," kata Ihsan seraya menggenggam tangan Anita yang terasa begitu dingin.


"Steaknya sudah datang dari tadi,ayo makan dulu."


Ihsan memotongkan steak untuk Anita, perasaannya berkecamuk melihat tiba tiba Anita berubah pucat dan tidak seperti dirinya.


Telpon di depan Anita berbunyi,Anita yang diam dari tadi tiba tiba berdiri dan mundur beberapa langkah,Ihsan ikut berdiri dan menggamit tangan Anita karena hampir menabrak meja orang lain.


"Kak,ada apa? Itu ada telpon masuk," kata Ihsan.


Ihsan segera mengambil ponsel Anita.


"Ini Mas Jimmy yang telpon," kata Ihsan.


"Ma matikan saja,aku tidak mau terima telpon.Aku tidak punya nomor siapa siapa,kenapa kamu bisa tahu itu Jimmy?" tanya Anita.


Ihsan melihat sekeliling dan meminta Anita duduk tenang karena banyak orang yang melihat ke arah mereka.


Ponsel Anita kembali berbunyi dan Ihsan menunjukkan pada Anita kalau nama "Suamiku" yang muncul.


"San,katakan padanya kalau nanti kau yang mengantarku pulang," kata Anita dengan tubuh gemetar.


Ihsan mengangkat telpon dan terdengar suara khas Jimmy.


"Mas,biar nanti Kak Nita kuantar pulang," kata Ihsan.


"Tidak perlu."

__ADS_1


Telpon terputus dan Ihsan langsung menoleh ke arah suara Jimmy yang berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk.


__ADS_2