
Setelah sarapan Jimmy dan Anita berangkat ke kota M,Hans yang sedang menyetir diam diam memperhatikan Anita yang sekarang jarang sekali bicara. Hanya dirinya dan Jimmy yang sesekali membahas sesuatu.
Anita memejamkan matanya saat Jimmy memainkan ponsel di tangannya. Tiba tiba saja perasaan sakit itu muncul lagi. Ia kembali teringat akan video video yang dikirimkan oleh nomor Jimmy ke ponselnya.
"Sayang,ada apa?" tanya Jimmy.
"Hans' berhenti," kata Anita.
"Ada apa?" tanya Jimmy lagi.
"Kita beli bahan makanan dan cemilan di supermarket depan itu," jawab Anita.
"Haduh,jam segini belum buka Nona.Ini belum jam delapan," kata Hans.
"Kalau gitu ke pasar tradisional saja, aku mau duduk di depan," kata Anita seraya membuka pintu dan pindah ke depan.
"E eh,aku sendirian dong.Hans, kamu pindah biar aku yang nyetir," kata Jimmy.
"Jangan,kondisi Tuan belum begitu baik.Nona tolong pindah ke belakang, kasihan Tuan kan? Lagipula kalau Nona di sini akan mengganggu konsentrasiku," kata Hans.
Anita pindah ke belakang lagi dan membanting pintunya dengan kencang.
"Kasian ni mobil," kata Hans,Jimmy hanya nyengir melihat Anita mengerucutkan bibirnya.
Tiga jam kemudian mereka sampai di Villa keluarga anggoro di kota M. Ternyata Jack dan yang lainnya sudah datang sebelum mereka.Itu karena Anita belanja dulu di pasar tradisional.Cari ini dan itu mampir mampir ke beberapa tempat.
Jimmy langsung mengajak mereka meeting di ruang rapat yang memang disediakan di villa itu.
Sementara itu Anita melihat ke dapur, beberapa orang tampak sibuk menyiapkan makan siang.
"Siang Nyonya,apa ada yang Nyonya perlukan?" tanya salah seorang dari mereka.
"Tidak,saya hanya ingin nembantu," jawab Anita.
"Nyonya bisa saja,Tuan Besar Anggoro meminta kami mengusir Nyonya Jimmy kalau mau ikut ikut di dapur," kata koki itu.
Anita hanya tertawa kecil mendengar ucapan wanita itu.
"Ya sudah,saya minta jus ada?" tanya Anita.
"Ada Nyonya.Mau jus apa silahkan pilih," kata wanita itu seraya membuka kulkas sebesar lemari pakaian dan mengambilkan gelas.
"Wah,banyak sekali macamnya, yang itu saja deh,alpukat," kata Anita.
Koki wanita itu segera menuangkannya di gelas dan Anita langsung menghabiskannya.
"Terima kasih," kata Anita seraya berlalu dari tempat itu.
Di luar tampak sepi,hanya ada beberapa pelayan yang sedang bersih bersih.Anita menyapa mereka dengan ramah.
Ia berkeliling Vila sebentar dan melihat ada beberapa orang yang sedang bekerja di ladang tak jauh dari Vila itu.
Di gerbang seorang satpam menyambutnya.
"Nyonya mau ke mana?" tanyanya.
"Saya Anita,tidak usah panggil Nyonya. Saya mau ke luar Pak,mau ke ladang sebelah sana itu.Mereka lagi ngapain ya Pak?" tanya Anita.
"Mereka sedang memanen kentang Nyonya,kami tidak bisa membiarkan Nyonya pergi,karena ini perintah Tuan Besar," kata satpam itu.
"Saya cuma asisten Tuan Jimmy,kenapa ke luar sebentar tidak boleh.Saya bosan di sini tidak melakukan apa apa," ketus Anita.
"Silahkan lihat ini Nyonya," satpam itu memperlihatkan pesan chat miliknya.
Benar saja ada foto dirinya dan mengatakan kalau dirinya tidak diizinkan ke luar dari vila kalau tidak membawa paling tidak dua pengawal.
"Brengsk Pak Tua,kenapa sih nyebelin banget," gerutu Anita.
__ADS_1
"Aku hanya ke dekat situ nggak akan hilang.Silahkan mengikutiku." Anita mendorong satpam itu dan melangkah je luar gerbang untuk pergi melihat orang orang yang bekerja di ladang.
Cuaca di pegunungan cukup sejuk, membuat Anita nyaman saja berjalan di bawah matahari siang.
"Permisi Pak,Bu.Lagi panen ya," sapa Anita.
"Eh,iya Dik," kata seorang wanita yang kira kira beberapa tahun lebih tua darinya.
"Wah,besar besar ya kentangnya," kata Anita.
"Iya ini kualitas super,nanti yang agak kecil dipisahkan.Pemasarannya juga beda Nona," kata bapak yang ada di sebelahnya.
"Oh,gitu ya.Apa saya boleh beli sedikit? Lima kilo saja,buat kripik kentang," tanya Anita.
"Kasih saja Rim,nanti tagihkan ke koperasi," Anita langsung menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
"Iya Tuan Besar," kata laki laki yang dipanggil "Rim" oleh ayah mertuanya.
"Lho koq ayah mertua ada di sini?" tanya Anita seraya nengeluarkan uang dua ratus ribu dari sakunya dan memberikannya pada petani kentang tersebut.
"Ini kebanyakan Nyonya."
"Terima saja.Karim,bagaimana distribusinya? Lancar?" tanya Julian Anggoro.
"Lancar Tuan,nanti sore bakda isya ada kumpulan(pertemuan) kelompok Tani.Apa Tuan Besar berkenan datang?" tanya Karim.
"Iya,Asisten adikku kasih tahu itu. Mumpung aku ada di sini aku akan datang,sekalian ingin tahu sampai mana kemajuan kalian," jawab Julian Anggoro.
"Terimakasih Pak,Bu.Kentangnya saya bawa ya," kata Anita.
"Kembaliannya Nyonya," kata Karim.
"Tidak usah Pak,makasih kentangnya besar besar," kata Anita.
"Sini biar kubawa," kata Julian Anggoro.
"Lho,aku ke sini memang buat jemput kamu.Itu Daddy bawa motor,sini."
Julian Anggoro mengambil kantong plastik berisi lima kilo kentang dari tangan Anita dan meletakkannya dibagian depan motor maticnya.
"Ayo naik," kata Julian Anggoro.
"Nggak mau,takut jatuh.Saya jalan kaki saja,nggak jauh juga," jawab Anita.
"Tadi di jalan sana ada ular lho,itu di dekat pohon sana."
Sialan,gerutu Anita dalam hati.Dia paling takut melihat ular.
Akhirnya Anita menurut naik motor diboncengi ayah mertuanya.***
Jam empat sore Jimmy dan yang lain baru ke luar dari ruang rapat, ia langsung mencari Anita ke kamar yang disiapkan pelayan untuk mereka.
Ia melihat Anita sedang berbaring di sofa dengan headset di telinganya.
Smartphone yang tadi baru dia beli di Mall bersamanya,Jimmy mengambil dan mengutak atiknya sebentar.Dengan hati hati Jimmy mengambil headset dari telinga Anita dan memasangnya di telinganya.Ia juga ingin mendengarkan lagu lagu yang paling disukai Anita.Akhirnya ia pun ikut tertidur pulas. Anita terbangun saat magrib hampir Tiba,ia membangunkan suaminya yang tidur dengan posisi duduk di samping kepalanya.***
Pintu kamar diketuk,Jimmy memintanya masuk sementara Anita membaca buku novel yang tadi dibelinya.Jonathan masuk ke kamar itu dan duduk di atas sofa di dekat jendela di sebelah adiknya.
Anita mengangguk ramah dan beringsut pergi dari situ karena tidak mau mengganggu mereka ngobrol.
"Kenapa dari tadi nggak ke luar kamar, bosan aku ngobrol berdua sama Daddy," kata Jonathan.
"Kak Jo kan jarang ketemu Daddy,masa sekarang ada kesempatan ketemu Kak Jo begitu?Ke mana Daren dan Lucas?" tanya Jimmy.
"Dari siang mereka pergi,mungin jalan jalan mumpung ada di kota M,banyak pemandangan exotic.Selfi selfi buat iming iming mak nya kali.Jim,kenapa ya Daddy selalu protes tentang Istriku? Padahal sama istrimu sepertinya perhatian banget?" tanya Jona.
"Iya lah,aku aja suka ill feel lihat sikap istrimu sama Daddy.Kalau makan bersama keluarga aja gak ada sopan sopannya.Daddy baru duduk dia udah heboh makan ini itu,gak bisa apa biarin Daddy ambil dulu.Kalau dikasih tahu sama Daddy juga pasti ngelawan.Aku yakin dia juga pasti ngelawan kalau dikasih tahu Kak Jo.Aku cuma jengkel aja lihat Kak Jo kerja keras hanya untuk dibelikan barang barang tak berguna. Sekali sekali Kak Jo juga yang tegas jadi suami," kata Jimmy.
__ADS_1
"Dia kan bukan orang Jawa Jim, kebiasaan di daerahnya seperti itu."
"Tapi gila belanja itu penyakit,nggak mandang suku mana.Kak Jo harus mulai mikir apa pengaruhnya buat anak anak. Sedikit banyak Daddy melihat pola hidup Anita dan Mika jomplang banget.Anita terbiasa melakukan banyak hal sendiri, karena dia tidak berasal dari keluarga yang banyak aset seperti kita.Tapi Mika juga bukan dari keluarga berada,ayahnya dulu banyak utang lagi.Kak Jo ngaku aja, Kak Jo yang bayarin semua utangnya kan? Segitu cintanya Kak Jo sama Mika, padahal cantik banget juga enggak," gerutu Jimmy.
Jonathan menghela nafas panjang,ia menakupkan mukanya.
"Anita...Sayang,kamu di mana?" panggil Jimmy saat menyadari istrinya tidak di kamar.
"Iya Jim,aku di balkon.Di kamar panas," jawab Anita.
"Jimmy!" terdengar suara Julian Anggoro di luar kamar.
"Masuk aja Dad," kata Jimmy.
Beberapa saat kemudia Julian Anggoro masuk dan celingak celinguk.
"Daddy cari siapa sih?" tanya Jona.
"Di mana menantu?" tanyanya.
"Di balkon,panas katanya," jawab Jimmy.
"Ganti lah AC nya,ganti yang empat PK," kata Julian Anggoro.
"Ini kan di pegunungan Dad, dua PK aja sudah dingin," gerutu Jona.
"Orang hamil itu gampang kepanasan. Ayo ikut Daddy ke tempat para petani rapat."
"Halah,Daddy ini kenapa sih nggak bisa diam di rumah? Ini kan urusannya ayah Julian," gerutu Jonathan.
"Ayoo,sudah jangan ganggu Jimmy."
Julian Anggoro membawa putra sulungnya itu ke luar.
Jimmy hanya tertawa kecil melihat kelakuan ayah dan anak itu.
Jimmy segera menghampiri Anita di balkon.
"Lho,koq dimatikan lampunya?" tanya Jimmy.
"Aku hanya pake dress tanpa lengan, panas banget," jawab Anita.
"Sini biar kuolesi bedak mint punggungmu."
Tanpa komando Jimmy segera membuka resleting dress Anita dan mengambil bedak Mint yang ada di tangan Anita.
"Jimmy,apa apaan sih," bisik Anita saat Jimmy menciumi punggung Anita dengan intens.
"Kita lakukan di sini yuk,Sayang," kata Jimmy.
"Nanti ada yang lihat."
"Nggak ada,semua koki udah pulang,hanya ada beberapa pelayan. Daddy dan kak Jo ke luar.Jack dan yang lain semua sudah balik," kata Jimmy.
"Nanti aja,ini masih sore," kata Anita.
"Ehem ehem," terdengar suara seseorang dari arah pintu kamar.Jimmy cepat cepat menutup resleting dress Anita dan memakaikan cardigannya.
"Apaan sih Lu Monyong,main masuk aja ke kamar orang." Jimmy melempar bedak Anita ke arah Lucas yang berdiri di ambang pintu.
"Lha ini gua ngomong,pintu kamar kebuka ya gue masuk aja," jawab Lucas.
"Ada apa Lu ke sini?" tanya Jimmy.
"Mau balikin kunci mobil,ini kan mobil baru,gue udah hati hati lho," jawab Lucas.
"Dasar Lu ya,pergi sekarang.Gua cekik Lu." Jimmy mengejar Lucas yang segera berlari ke luar.
__ADS_1
Anita hanya tertawa kecil dan ikut masuk ke dalam kamar.