
Pagi itu Ariana duduk di sebelah menantu cantiknya dan mengambilkan makanan kesukaan Anita saat sarapan.
"Mom,enough(cukum Bu)," kata Anita senang.
Julian Anggoro hanya diam nenatap piringnya yang masih kosong.
Jimmy juga melakukan hal yang sama, ia hanya menatap istrinya yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa mempedulikan dirinya.
"Dad, kita ini transparan ya," celetuk Jimmy.
Anita yang dari tadi memang sengaja membiarkan Jimmy supaya mengambil sendiri makanan yang ada di meja.
"Pagi Tuan Besar,Nyonya,Tuan Jimmy, Nona.Biar saya ambilkan, ini ada makanan kesukaan Tuan Besar, akan saya ambilkan.Tuan Jimmy juga," tiba tiba Arman muncul dari arah dapur.
"Arman,oh my God.Makanya makanan hari ini agak berbeda rasanya,kapan datang?" tanya Anita senang.
"Kemarin malam Nona,Tuan Jimmy yang meminta saya datang.Katanya Nona susah makan,makanya saya datang secepatnya," jawab Arman.
Anita melihat ke arah suaminya yang masih manyun di depan piringnya yang masih kosong.
Arman segera mengambilkan nasi dan lauk kesukaan Jimmy.
"Nggak mau Man,tugasmu masak bukan melayani suami," tolak Jimmy.
"Yaa ampuun,sama saja lah.Rasanya sama saja,Suamiku," kata Anita.
"Nggak sama,kalau istri yang ambilkan rasa nikmat dan rasa cinta.Kalau Arman yang ambilkan,rasa nikmatnya nggak kerasa," jawab Jimmy.
"Mmh,ya lah," kata Anita seraya mengambilkan sarapan Jimmy.
Julian Anggoro memukulkan sendok dan garpunya ke atas piring hingga menimbulkan bunyi bunyian.Ariana tertawa kecil lalu melakukan hal yang sama dengan Anita.
"Anita,besok Mom kembali ke Rome. Jaga bayinya baik baik ya,Mom sudah kasih menu harian ke Arman.So,kamu harus makan walau pun rasanya tidak kamu suka.Understand my Dear (mengerti Sayang?)" tanya Ariana.
"Iya Mom," jawab Anita.
“Sayang, bentar lagi aku ada janji ketemu Ihsan,ada sedikit urusan.Apa kau ingin ke luar juga?” tanya Jimmy.
“Nggak ada, aku ingin di rumah.Kakiku agak bengkak,” jawab Anita.
Jimmy melihat ke arah ibunya penuh tanya.
“It's OK, Sayang.Kau harus lebih banyak bergerak,kaki jangan digantung.Mom akan minta Darius kirim magnetic bed ke sini,supaya peredaran darahmu lancar, ya.”
Ariana menggosok punggung tangan Anita.
__ADS_1
“Thanks Mom,” kata Anita.
Jimmy segera pergi setelah selesai sarapan.Tapi ia berpesan kepada Rosid untuk mengantar Anita kalau ingin ke luar dan memberitahu penjaga gerbang kalau Anita tidak boleh pergi sendiri.
Ia juga memberitahu Johan, anak buah Corvin yang ditugasan di rumah itu untuk mengirim beberapa pengawal dengan kendaraan lain tanpa sepengetahuan Anita.Jimmy meminta Corvin untuk memindahkan dua puluh pengawalnya ke Jogja.
Ia merasa kecolongan setelah membiarkan istrinya ke mana mana sendirian.
Sepanjang siang dan sore itu Anita mengajak ibu mertuanya pergi ke MM Mall untuk membeli T-Shirt khas Jogja untuk orang orang di rumah.
Ariana sangat senang karena menantunya itu sangat antusias memilih kaos T-Shirt berbagai tulisan yang lucu.
Saat sampai di parkiran ternyata Jimmy sudah menjemputnya.Ariana pulang bersama Rosid sementara Jimmy mengajak Anita pergi ke suatu tempat.
Jimmy memarkir mobilnya di depan sebuah klinik yang lumayan besar dan bisa dibilang memiliki fasilitas yang mewah.
“Kenapa ke sini? Kita mau apa?” tanya Anita.
“Aku mau ketemu psikiater,karena akhir akhir ini sering gak bisa tidur.Takut pada sesuatu yang nggak jelas,aku mau konsultasi,” jawab Jimmy.
“Apanya yang nggak bisa tidur ? Perasaan tidurmu pulas terus,” gerutu Anita.
“Aku bangun karena sering mimpi buruk, mimpi kau pergi meniggalkan aku di tempat yang tidak kuketahui,” kata Jimmy.
Dalam hati ia tertawa sendiri melihat Anita memajukan bibirnya karena tidak percaya pada ucapannya.
“Saya sudah janjian Mbak,makanya datang satu jam lebih awal,” jawab Jimmy yang menirukan logat Anita.
“Dih, mahal dong bayarnya.”
Jimmy terseyum saat seseorang berjubah putih datang menyalami dirinya.
“Anda sudah ditunggu di dalam,” kata pria itu seraya membawa Jimmy dan Anita masuk.
“Silahkan duduk, selamat sore Tuan dan Nyonya Anggoro.”
Anita terkejut sampai bangkit dari duduknya saat dokter Haris masuk dari ruangan sebelah.
“J Jim,apa boleh aku menunggu di luar saja?” tanya Anita terbata bata.
“Tidak, kita konsultasi berdua.Karena gangguan yang kualami mungkin juga berhubungan denganmu,” kata Jimmy seraya meraih tangan Anita supaya duduk kembali.
“Tidak apa Nyonya, santai saja.Ini hanya konsultasi biasa,” kata dokter Haris menenangkan.
Anita duduk kembali dan menyembunyikan tangannya yang gemetaran di bawah meja.
__ADS_1
“Silahkan Tuan,apa keluhan Anda,” kata dokter Haris.
“Akhir akhir ini, saya sering mimpi buruk dan tidak bisa tidur setelahya.Itu karena saya masih merasa bersalah kepada istri saya dan itu membuat penyakit lambung saya susah sembuh.Karena saya sering ketakutan, takut tiba tiba istri saya pergi meninggalkan saya,” jawab Jimmy.
“Apakah Anda sangat mencintai istri Anda?”
“Sangat.”
“Bagaimana dengan Anda Nyonya?” tanya dokter Haris.
Anita gelagapan mendapat pertanyaan mendadak dari dokter Haris.
“Tentu saya juga mencintai suami saya Dokter, saya akan berada di sisinya selama dia masih menginginkan saya,” jawab Anita.
“Anda sudah mendengarnya sendiri Tuan, apa lagi yang Anda ragukan?” tanya dokter Haris.
“Ada yang masih mengganjal di hati saya Dokter, benda benda ini.Saya ingin membuangnya,tapi di dalamnya ada kenangan indah sekaligus kenangan pahit.Bagaimana menurut Anda?”
Jimmy mengeluarkan dua ponsel dari saku jaketnya dan meletakkannya di atas meja.
Anita yang langsung mengenali benda itu terkesiap dan langsung berlari ke pintu.Tapi dokter yang tadi membawa mereka masuk sudah berdiri di depan pintu dan menghalanginya.
“Biarkan saya ke luar, saya bisa mati kalau terus di sini,” Anita memohon dengan tubuh gemetar.
Jimmy segera bangkit dan memeluk Anita.
“Kenapa kau tidak pernah membicarakan ini denganku? Kenapa aku orang terakhir tahu masalahmu? Kenapa orang lain yang tahu lebih dulu dariku?” tanya Jimmy.
Anita menangis tersedu sedu sambil memeluk Jimmy.
“Kau sengaja kan? Kau sudah tahu semuanya kan? Apa Ihsan yang memberitahukan semuanya?” tangis Anita.
“Tidak,Ihsan tidak tahu apa apa.Ihsan hanya mengantarkan surat yang dikirim seseorang, supaya aku segera menemui dokter Haris bersama Ihsan.”
“Tolong singkirkan benda itu dari sini, kenapa kau masih menyimpan ponsel laknat itu?”
Jimmy melonggarkan pelukannya.
“Kau hanya perlu menghancurkannya berkeping keping atau membakarnya, Anita.Sudah jangan lari lagi.Kita hadapi bersama ya,jangan menghindar lagi, ayo kita ikuti arahan timnya dokter Haris untuk mengatasi masalah kita.Aku adalah suamimu, kau berhak menuntut apa pun padaku karena kau adalah tanggung jawabku.Kita harus saling mengalah demi anak anak ini.Jadi jangan terlalu banyak berfikir, aku sangat mencintai dirimu.Anita, kau adalah obat dan penawar racun untukku.Jadikan aku hal yang sama, selama ini aku juga sama menderitanya denganmu.Ayo kita sama sama bertahan demi mereka.”
Jimmy membelai rambut istrinya dan mencium kepalanya.
“Iya.”
Suara serak Anita akhirnya ke luar setelah sekian menit menunggu jawaban.
__ADS_1
Jimmy melihat dokter Haris yang kemudian tersenyum padanya.