
Jimmy membantu Anita menegakkan tubuhnya.
"Sis, Ihsan. Bagaimana kalaian bisa sampai ke sini? Aku tidak pernah memberimu alamat rumahku?" tanya Anita.
"Kenapa bicara seperti itu? Aku yang mengundang dan menyuruh orang menjemput mereka, " kata Jimmy.
"Siska, teman macam apa kau ini, aku diculik orang mencariku pun tidak. Lapor polisi kek, kalian tidak peduli ya walau aku mati," marah Anita.
"Ta, aku dan Ihsan sudah mencarimu, menelponmu, aku juga hampir melapor ke polisi. Tapi Ayahmu dan mertuamu datang menemuiku dan meminta barang barangmu, aku bisa berbuat apa?"
"Dari mana kau tahu dia ayahku? Kau tidak pernah bertemu dengannya? "
"Beliau menunjukkan KTP, copy KTPmu dan kartu keluarga Anita," jawab Siska.
Anita mengusap air matanya karena kesal dan kecewa.
"Sayang, Siska dan Ihsan sudah datang jauh jauh. Jangan marah marah seperti ini, biar mereka istirahat dan bersih bersih dulu. Hans, antar mereka ke tempat istirahat mereka. Siska Ihsan, aku minta maaf ya. Terimakasih sudah mau datang," kata Jimmy.
"Tidak apa Tuan, saya sudah biasa," kata Siska.
"Jangan memanggilku begitu, panggil Jimmy saja."
"Huuu, hiks hiks, waaa.. "
Tiba tiba Anita menangis dengan keras sambil memukul lengan Ihsan. Jimmy segera memeluknya dan memberi tanda pada Hans untuk membawa mereka pergi.
"Anita, Sayang. Jangan memukuli orang lain, semua hal yang terjadi adalah salahku. Kalau aku sudah sembuh benar, kau bisa menghukumku. Asal kau tetap di sisiku, akan kuterima semua hukuman darimu."
Jimmy mencium kepala Anita dan mengusap rambutnya.
"Anita.... "
Jimmy dan Anita menoleh ke arah Julian yang tiba tiba muncul dari arah pintu taman.
"Aku sudah katakan padamu kedepan tidak ada urusan lagi denganmu. Jangan menemuiku lagi, kalau kau ada urusan dengan Jimmy aku akan pergi, "kata Anita.
__ADS_1
" Kenapa kau marah sekali padaku? Sebelumnya kau tak pernah peduli aku dengan wanita mana pun," protes Julian.
"Heh, kalian laki laki sama saja. Aku sangat benci pria bermulut manis seperti kalian.Dasar Brengsek."
Anita mendorong Jimmy dan pergi dari tempat itu.
"Lho, koq jadi aku juga.Heh, Tuyul. Ada apa sebenarnya?" tanya Jimmy seraya menoyor kepala Julian.
"Dia melihatku mencumbui seorang wanita saat datang ke rumahku. Mungkin dia marah karena aku menolak dia jodohkan dengan Siska dan malah main main dengan wanita lain"
"Aku sudah bilang jangan hidup seperti itu, Bodoh. Kalau kau terus seperti ini apa bedanya dengan seorang maniak. Lama lama aku juga jijik melihatmu seperti itu."
Jimmy melempar bantal ke muka Julian lalu pergi menyusul Anita yang langsung naik ke kamarnya.
"Anita... " kata Jimmy yang mendapati Anita berbaring membelakangi nya. Ia duduk bersandar di samping Anita.
Jimmy mencium rambut istrinya dan mengelusnya.
"Jim, bisakah aku pergi setelah acara besok?" tanya Anita.
Anita duduk dan mengusap air matanya.
"Di Video itu ibumu tampak sangat bahagia, dia memberi selamat padamu dan Viola dengan wajah yang begitu ceria," gumam Anita.
"Itu semua salahku, Mommy adalah orang yang paling menentang adanya acara itu. Tapi hari itu kami harus menjadi aktris dan aktor yang harus mendapat piala Oscar. Orang yang paling bertanggung jawab adalah Jimmy, bukan orang lain termasuk Mommy. Saat ini yang kuinginkan adalah menjadikanmu istriku yang sah secara agama dan hukum. Bersabarlah sedikit padaku Anita, aku sangat memohon padamu.Setelah itu aku janji akan pergi ke mana pun kau ingin pergi dan tinggal di mana pun kau ingin tinggal. Meninggalkan apa pun yang kumiliki saat ini. Aku tidak peduli lagi pada hal hal lain dan membangun kembali hidupku bersamamu dan anak anak kita.Berjanjilah kau akan selalu bersamaku," kata Jimmy seraya memeluk bahu Anita.
"Selama anak ini ada bersamaku, aku pasti tidak akan menjauhkannya darimu. Tapi berikan aku sedikit waktu, aku masih belum bisa menerima keadaan waktu itu. Biarkan aku berusaha menyembuhkan diriku dulu. Aku akan berusaha secepat mungkin dengan caraku."
Jimmy memeluk dan mencium pipi Anita. Ia tersenyum melihat Anita membiarkan nya melakukan hal itu. Pintu kamar diketuk, Anita segera mengenakan cardigan karena ia memakai pakaian tanpa lengan. Jimmy membukakan pintu, Siska masuk dengan membawakan bungkusan besar.
"Masuklah, aku akan menemui tamu yang lain, " kata Jimmy.
Siska menghampiri Anita dan meletakkan bingkisan itu di depannya.
"Opo iki?(apa ini) Bom?" Tanya Anita.
__ADS_1
"Buka wae lah, ojo nesu nesu terus. Sepet mripatku( Buka sajalah, jangan marah marah terus.Gak enak dilihat), " kata Siska.
Anita segera membuka bungkus hadiah yang diberikan Siska. Anita memekik kegirangan melihat hadiah itu.
"Thank you Sis, dapat di mana?" Anita memeluk dan menggoyang goyang bahu Siska.
"Mumet nyarinya, aku minta Kadek nyariin di Bali saat kemarin dia pulang."
"Kadek, dia masih di Jogja? "
"Dia buka usaha soufenir barang barang dari Bali, mirip lah kaya punya kita. Dia senang dan titip salam buatmu, seharian katanya nyari ini, " Jawab Siska.
"Yaa ampun, makasih Siska. Bed cover impianku,sun set di Bali,"kata Anita seraya memeluk sprei dan bed cover hadiah dari Siska.
Pintu kamar diketuk, Anita menyuruhnya masuk.
" Nyonya, nanti habis ashar sauna ya, pakai lulur dan perawatan biar Nyonya lebih relax, " kata seorang wanita yang sepertinya dari spa.
"Pake gitu juga toh? Kan bukan pengantin yang baru, ini aku sudah hamil segede ini lho, " kata Anita.
"Ini perintah Tuan Muda Jimmy."
"Iya Mbak, nti sekalian saya juga ikut perawatan ya, " kata Siska.
Wanita itu mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu.
Anita dan Siska tertawa cekikikan.
"Rusak mungsuh kowe Sis, " kata Anita.
"Kita ini kan tukang bikin rusuh."
Keduanya tertawa lagi. Jimmy yang ada di balik pintu memegangi dadanya.
Ia merasa bersyukur karena emosi Anita yang meledak ledak bisa diredam dengan kehadiran Siska.
__ADS_1