CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption235


__ADS_3

Anita sedikit merasa lega karena Ihsan bersedia mencarikannya rumah kontrakan.Ia tidak memaksa lagi supaya Anita tinggal di rumahnya. Mungkin Ihsan berfikir kalau Anita lebih ingin punya privasi.Akhirnya ia lebih mengalah dan membiarkan Anita melakukan apa yang dia inginkan.Anita memperpanjang dua hari tinggal di hotel itu.Ia membongkar buku catatannya untuk mencari beberapa rekan editor yang dulu pernah bekerjasama dengannya.


Ia kembali membuka laptopnya dan memeriksa beberapa file hasil karya yang selama ini dikumpulkannya. Akhirnya ada beberapa yang tertarik dengan hasil karyanya. Ia membuat janji untuk bertemu dengan salah satunya karena kebetulan ada event di Jogja yang harus ia hadiri.


Ponsel Anita berbunyi,itu pasti Ihsan karena hanya dia yang tahu nomornya.


“Di kamar nomer berapa Ta?” terdengar suara Siska.Anita terdiam tidak bisa menjawab.


“Anita! Krungu ora kowe,iki Siska (dengar tidak,ini Siska),” suara lantang itu membuat Anita tidak mampu lagi menahan air matanya.


“Iya Sis,di kamar 2342.Lantai tiga,” jawab Anita.Telpon itu pun terputus.


Beberapa saat kemudian terdengar bel pintu.Anita menyeka air matanya dan beranjak membuka pintu.


Begitu pintu terbuka Siska langsung memeluk Anita dan menangis.


“Keterlaluan kamu yo, datang ke sini seperti gak punya rumah.Dianggep apa aku hah?”marah Siska.


“Aku hanya ingin jalan jalan dulu, nggak mau ngerepotin kalian,” jawab Anita.


“Alasan apa itu? Kalau Ihsan nggak keceplosan ngomong aku nggak bakalan tahu.” Tangisan Siska semakin keras.


“Sudah,sudah nangisnya.Nanti dikira ada yang meninggal nangisnya sampe kaya gitu.”

__ADS_1


Anita mengajak Siska duduk di sofa dekat jendela.


Siska tersenyum senang melihat perut Anita yang sudah membuncit, ia mengelusnya.


“Kata Ihsan ini kembar,nanti kuantar periksa ke temanku ya,” kata Siska.


“Nanti nanti saja, stok vitaminku masih banyak dan aku baik baik saja. Sis, kapan kau menikah? Apakah Hiro juga sudah menikah dengan tunangannya?” tanya Anita.


“Aku masih belum srek,Ta.Aku masih bingung, menikah itu tidak sederhana. Apalagi aku seorang dokter, yang harus siap dipanggil kapan saja.Hiro, dia menolak menikahi Naya. Walau pun Ryohei berusaha keras menekannya.Hiro persillahkan kakaknya buatkan surat nikah, tapi dia bersumpah untuk menerlantarkan Naya.”


Anita terdiam,ingatannya kembali ke masa lalu yang cukup menyakitinya. Air matanya kembali meleleh.


“Ta,kenapa?Ceritakan semua padaku ya? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan suamimu?Ta?”Siska memeluk Anita.


Anita menangis tersedu sedu, Air mata Siska pun tidak bisa ditahan lagi.


Ia tidak sanggup melihat sahabatnya yang ceria,tidak pernah bersedih karena selalu dikelilingi teman teman yang baik.Bahkan teman teman fakultas kedokterannya pun banyak yang menyukai Anita.Sekarang harus merasakan yang seperti itu.


“Aku rasa kau harus bertanya langsung kepada Jimmy saat dia kembali.Apa yang diinginkannya, itu belum tentu benar Ta,” kata Siska.


“Nggak Sis, aku takut mendapatkan jawaban yang lebih menyakitkan. Tolong bantu aku cari rumah ya, Ihsan sudah janji mau carikan.”


“Besok kau pindah ke rumahku yang di dekat galeri kita.Sekarang ada kasir yang tinggal di situ karena sering lembur.Dia harus merangkap mengerjakan laporan keuangan galeri. Bagaimana kalau kau saja yang kerjakan laporan itu? Aku merasa kasihan karena dia tampak kelelahan. Ada tiga kamar, jadi sebelum dapat kontrakan kau tinggal di sana. Bagaimana?” tanya Siska.

__ADS_1


“Apa? Galeri itu masih jalan? Kau masih sempat ngurusin itu?” tanya Anita.


“Harus disempetin lah, Galeri itu kita rintis dengan susah payah dan modal terbatas. Setelah kau pergi tanpa kabar waktu itu, aku janji akan terus mengurusinya.Dan sekarang tambah rame.Ada lima belas karyawan, aku kadang kadang saja mengecek.Oh ya, bagianmu aku tabungkan dengan nama tersendiri.Ada sekitar seratus jutaan Nita, kau bisa mengambilnya.”


“Nggak usah Sis, itu hasil kerja kerasmu.Biar aku bekerja untuk nabung buat beli rumah di sini. Aku ingin tinggal di sini bersama si kembar.” Anita mengelus perutnya.


“Baiklah, sementara begitu saja.Akan kusimpan dulu, nanti kalau sudah dapat rumah kita bicarakan lagi OK? Kau tadi sedang mengerjakan apa? Kenapa berantakan sekali?” tanya Siska yang tiba tiba memperhatikan kasur Anita.


“Kau ingat Mas Ferry kan? Kemarin aku menelponnya dan menawarkan hasil karyaku padanya.Dan ia setuju untuk bertemu lusa.Sekarang dia masih di Jakarta,” jawab Anita.


“Kau masih sering menulis Ta? Bagaimana kalau kukenalkan juga pada teman ayahku? Dia pemilik sebuah perusahaan penerbitan, juga situs majalah online?”


“Ini saja dulu Sis, kalem dulu. Besok kalau kau kosong kita ke salon langganan kita Yuk.Aku ingin merubah penampilan,” ajak Anita.


“Tadi aku sudah mengajukan cuti selama dua hari setelah menginterogasi Ihsan.Aku langsung menemui atasanku dan disetujui.Hiro bersedia menggantikanku selama dua hari itu.”


“Apa? Kau tidak memberitahu tentang aku ada di Jogja kan?” tanya Anita panik.


“Huh, aku juga tidak sekonyol itu lah. Dia sangat sensitif kalau itu tentang dirimu.”


“Sis, aku tidak mau bertemu Hiro. Kalau pun ketemu aku akan berusah menghindarinya.Aku ingin hidup tenang bersama anak anakku dan tidak mau terlibat konflik dengan keluarga Hiro.Jadi tolong jangan kasih tahu ya,” mohon Anita.


“Iya iya,sekarang bereskan dulu file filemu.Aku tidur di sini, ke luar yuk. Kita makan gudeg di Wijilan.”

__ADS_1


Anita tersenyum senang, dengan cepat dibereskannya yang bertebaran di atas tempat tidur.


__ADS_2