
Tidak ada percakapan lagi setelahnya sampai mobil memasuki kawasan kampus. Lina turun dari mobil. Beberapa orang mulai memperhatikan dirinya dan saling berbisik satu sama lain. Sepertinya mereka cukup terkejut melihat mahasiswi termiskin di universitas ini baru saja turun dari mobil mewah dengan penampilan yang berubah. Lina tidak memperdulikan mata yang terus meliriknya. Ia berjalan santai saja menuju kelasnya sampai ia baru menyadari...
"Ah...! Kenapa kau mengikutiku?" tanya Lina begitu tahu Qazi mengikutinya dari belakang.
"Tentu saja melaksanakan perintah tuan muda. Selalu mengawasimu."
"Itu tidak perlu! Kau bisa pergi kemana kau suka. Aku tidak membutuhkan dirimu yang terus mengawasi ku. Aku masih punya privasi," tegas Lina.
"Hah, mungkin kau tidak tahu. Sekarang ini kau dikenal sebagai kekasih tuan muda. Ada banyak orang diluar sana yang mengincar nyawa tuan muda dan kau mungkin saja bisa jadi target mereka untuk mengancam tuan muda."
"Cih, apa kau lupa kalau semua itu cuman sandiwara? Kenapa kalian begitu peduli dengan keselamatan nyawaku?"
"Seharusnya kau berterima kasih tuan muda kami masih sedikit memperdulikan nyawamu yang tidak berharga itu!"
"Frrrut...... Ia cuman mau memanfaatkan aku agar pertunangannya dibatalkan. Tidak ada niat lain selain itu."
"Kau memang gadis yang sangat menyebalkan. Terserah apa mau mu, aku juga malas mengawasimu. Lagi pula kau juga tidak akan bisa kabur," Qazi masuk kembali ke mobil lalu menancap gas pergi. "Lebih baik aku mengawasinya secara diam-diam dari pada terjadi masalah. Hah... Tugas ini sungguh merepotkan."
"Akhirnya ia pergi juga."
Lina berbalik melanjutkan langkahnya menuju kelas. Di koridor ia bertemu Ira yang sedang mengambil buku-bukunya di dalam loker. Lina segera menyapa sahabatnya itu.
"Ira, selamat pagi."
"Lina?! Kemana saja kau kemarin? Kenapa tidak kuliah? Kanapa hpmu tidak aktif? Aku sudah menghubungi mu berkali-kali, loh. Apa ada masalah?" tanya Ira dengan beberapa pertanyaan.
"Tidak, tidak ada," Lina memutar matanya. "Apa aku cerita saja sama Ira apa yang terjadi? Curhat dengan sahabat mungkin bisa membuat perasaan ku lebih baik."
"Hei, Lina. Kau melamun?" kata Ira menyadarkan Lina dengan cara menepuk pundaknya.
"Tidak. O, iya Ira. Apa boleh aku curhat sedikit?"
"Kau tidak perlu bertanya, telingaku terbuka lebar untuk mu. Ayok cepat cerita. Aku ingin tahu permasalah apa yang bisa membuat Veliana akhirnya mau curhat juga sama sahabatnya satu ini? Apa kau ini berhubungan dengan orang yang kau taksir?" Ira sangat bersemangat ingin mendengar curhatan temanya itu.
"Ah, kau sembarangan. Bukan tentang itu."
"Lalu apa?" dengan tatapan penuh penantian Ira bertanya.
__ADS_1
"Sebenarnya... Beberapa hari lalu aku sempat menyelamatkan seorang pria..."
"Eh... Benarkah?" potong Ira dengan mata berbinar. "Lalu, lalu, apa kau jatuh cinta pada pandangan pertama?"
"Tidak mungkin! Dengarkan dulu."
"Oke, baiklah," dengan tersenyum Ira mempersilakan temanya itu melanjutkan.
"Aku..."
"Lina."
Baru juga mulai, kalimat Lina terpotong lagi ketika seseorang memanggilnya. Hal itu membuat Lina dan Ira menoleh. Terlihat Violet, Anisa dan Riva berjalan menghampiri mereka.
"Lina, bisa bantu kami sebentar?" kata Violet.
"Bantu apa?"
Lina sudah mencurigai maksud lain dari mereka. Bagus... Ada mangsa datang sendiri. Lina memang sudah menantikan ini, ditambah lagi si Qazi itu sudah pergi, jadi ia bebas bermain.
"Iya, mungkin aku juga bisa membantu," sambung Ira. Ia memiliki firasat buruk soal ini.
"Benar kata Riva. O, iya Ira, bukankah kelasmu sudah mau dimulai? Kau tidak mau terlambat, kan?" kata Anisa mengingatkan.
"Lina," Ira menoleh pada Lina dengan tatapan khawatir.
"Tidak apa, aku bisa mengatasinya. Kembalilah ke kelasmu, nanti terlambat," bujuk Lina menyakinkan sahabatnya itu.
"Hm! Percaya diri sekali. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi nanti," batin Violet.
"Berhati-hatilah. Aku merasa mereka tidak memiliki maksud baik," bisik Ira.
"Aku tahu. Jangan khawatir," balas Lina berbisik.
Ira berlalu pergi kembali ke kelasnya. Ia benar-benar berharap tidak akan terjadi apa-apa pada temannya itu. Lina menyetujui untuk membantu Violet. Mereka bertiga mengajak Lina ke gudang yang ada di bangunan paling belakang gedung universitas. Sangat sepi disana, tidak ada satupun orang yang lalu lalang. Tempat yang cocok untuk memulai asik kejahatan mereka. Lina cuman tersenyum tipis. Tempat ini juga sangat bagus untuknya karna tidak ada CCTV yang mengawasi. Jadi ia bisa bermain dengan puas.
"Kenapa kau membawaku kesini Violet?" tanya Lina masih berpura-pura lugu.
__ADS_1
"Ikat dia!" perintah Violet pada dua rekannya yang sudah siap dengan tali di tangan mereka.
"Jangan melawan Lina," kata Anisa dan Riva bersamaan. Mereka dengan sigap mengikuti perintah Violet melilitkan tali dipergelangat tangan Lina.
"Aaaa...........! Apa yang kalian lakukan padaku? Kenapa mengikatku? Lepaskan aku!" teriak Lina sambil meronta-ronta melepaskan diri dalam sandiwara yang ia mainkan.
Dengan senyum lebar karna berhasil memancing mangsanya, Violet meminta pada Anisa dan Riva membawa Lina masuk ke dalam gudang lalu menguncinya. Disinilah Violet ingin memulai aksinya. Ruang yang dipenuhi dengan barang-barang tak terpakai sedikit gelap karna mereka cuman menyalakan satu lampu kecil.
"Ap, apa yang mau kalian lakukan padaku?" tubuh Lina gemetar begitu melihat pisau bedah yang dimainkan Violet di antara jarinya.
"Jangan takut Lina. Bukankah tadi kau sudah bersedia mau membantuku?" Violet mendekati Lina sambil terus memainkan pisau bedah itu.
"Iya, tapi kenapa harus mengikatku segala dan juga untuk apa pisau bedah itu?" kata Lina dengan nada ketakutan, namun tangannya sibuk mencoba melepaskan simpul payah yang dibuat dua teman Violet ini. Lina bisa dengan mudah melonggarkan ikatan ditangannya. "Memang ada apa mengikat seseorang dengan simpul kupu-kupu. Bodoh."
"Tentu harus mengikatmu, kalau tidak nanti kau kabur."
"Apa yang mau kalian lakukan?"
"Aku diberi tugas oleh Tn. Herman untuk meneliti anatomi katak, tapi kau tahu aku benci hewan menjijikan ini. Jadi, bagaimana kalau kau saja yang menjadi katak percobaan ku? Itung-itung sebagai hadiah karna kau telah berani merebut tunangan ku," tatap tajam Violet.
"Tidak. Aku mohon kasihanilah aku," kata Lina memohon dengan mata berlinang.
Violet mulai mengarahkan pisau bedah tersebut ke dada Lina dan hendak mengoreskannya. Lina mencoba memberontak melepaskan diri dari cengkraman Anisa dan Riva yang memengangi lengannya.
"Sudah kuduga gadis ini akan dalam bahaya. Apanya yang lebih kejam dari tuan muda? Menghadapi tiga gadis ini saja tidak bisa! Dasar! Benar-benar merepotkan."
Qazi yang sendari tadi mengikuti Lina secara diam-diam kini baru hendak turun tangan membantu Lina. Ia bermaksud ingin melihat, apa yang akan Lina lakukan pada ketiga gadis ini? Benarkah gadis semanis Lina bisa berbuat kejam? Qazi pikir tidak. Apa yang ia lihat Lina sama sekali bukanlah gadis yang kejam. Ia cuman gadis lugu, lemah dan bodoh. Bisa-bisanya Qazi percaya dengan kata-kata Lina dan merasa takut akan aura membunuh yang sangat kuat. Itu pasti halusinasinya saja. Baru hendak turun menyelamatkan Lina, tiba-tiba lampu di ruangan itu mati seketika. Semua orang kebingungan kecuali Lina. Ia menyeringai jahat. Saatnya bermain.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε