Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Permintaan


__ADS_3

"Okey, sepekat. Besok, kita berempat akan mengunjungi salah satu mall di pulau ini."


"Berempat? Aku juga?" tanya Nisa.


"Masa iya kau ditinggal."


"Sebaiknya aku tidak usah. Kalian dengan sendiri 'kan dari Rica, kalau ibunya sudah menyiapkan gaun untukku. Aku pakai itu saja."


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu," setidaknya itu yang Julia katakan tapi tidak pada apa yang ia pikirkan. "Aku tak yakin gaun yang disiapkan ibu Rica akan terlihat bagus. Lebih baik aku bawakan cadangan saja untuk Nisa."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Bagus. Pasti rencanaku kali ini akan berhasil. Selain bisa menjebak Nisa, aku juga bisa menarik Julia sekalian. Sekali melempar batu, dapat mengenai dua burung sekaligus."


Karna disebabkan terus melamun dan cengar-cengir sendiri seperti orang gila. Tanpa disengaja Rica tiba-tiba menabrak seseorang. Orang yang ditabraknya tidak mengalami apa-apa tapi itu tidak bagi Rica. Ia sampai terduduk di lantai dan hampir terguling karna orang yang ditabraknya adalah seorang pria.


"Aduuuh!" rintih Rica sambil mengusap punggungnya. "Hei! Kalau jalan itu pakai mata dong!" bentak nya.


"Kau lah yang menabrak ku!"


"Berani sekali kau membentak nona..." kata-kata Rica terputus disaat ia terpana melihat ketampanan Julius.


"Dasar aneh!"


Tidak memperdulikan Rica yang mematung, Julius melangkah pergi begitu saja tanpa membantu Rica berdiri. Rica yang tersadar segera bangkit dan dengan cepat menyusul Julius.


"Tunggu dulu. Aku sadar kalau tadi itu memang salahku. Aku minta maaf. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" nada bicara Rica seketika berubah 180°.


"Otakmu pasti terbentur. Sebaiknya periksakan dirimu ke dokter sebelum parah," kata Julius sambil mempercepat laju jalannya.


"Dia pria yang angkuh. Tapi itu membuatku tertantang untuk mendapatkannya," kata Rica dalam hati. "Hei, ayoklah jangan acukan aku seperti itu. Aku kan sudah minta maaf. Apa salahnya kita berkenalan? Namaku Casterica Pinkston," dengan bangganya Rica menyebutkan marga keluarganya. "Setelah mendengar margaku, pasti sifat angkuhnya itu hilang dan ia akan tunduk padaku."


"Pergilah!"


"Apa?! Ia tidak terkejut sama sekali," Rica lah yang malah terdengar kata itu. "Kau..."

__ADS_1


"Kenapa kau masih disini? Berhentilah mengikutiku"


"Beginikan caramu memperlakukan seorang gadis? Ayok lah, aku adalah putri dari keluarga Pinkston. Tidak pernakah kau mendengarnya? Salah satu keluarga paling berpengaruh di kota ini."


"Lantas? Aku tidak peduli! Mau seberapa hebat keluargamu itu, sebaiknya enyahlah dari hadapanku!" tegas Julius sambil menatap tajam pada Rica.


"Dasar pria angkuh! Kau itu tidak tahu seberapa tinggi langit, ya? Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku! Asal kau tahu saja, dengan kekuasaan dan kekayaan yang keluargaku miliki aku bisa membuat keluargamu itu lenyap dari muka bumi!! Seharusnya kau itu bersyukur dapat disukai olehku." bentak Rica terus-terusan membanggakan keluarganya itu.


"Hah... Kenapa ada wanita yang suka menyombongkan harta benda milik keluarganya? Ini lagi dari keluarga Pinkston. Sejauh ini, dia adalah gadis yang paling menjengkelkan yang perna aku temui."


"Tapi, aku akan memberimu satu kesempatan. Asalkan kau mau berkencan denganku, aku akan melupakan semua kata-kata ku tadi, bagaimana?"


"Hei, sayang. Kemana saja kau? Apa kau tahu aku sudah lama menunggumu," kata Julius disaat melihat Marjorie kebetulan lewat di lorong tersebut. Tanpa persetujuan lagi, Julius langsung merangkul bahu Marjorie dan menariknya menjauh dari Rica.


"Lepaskan aku! Apa kau ingin mati?!!" bisik Marjorie dengan ancaman.


"Diamlah!"


"Dia... Bukankah dia adalah gadis yang menolongku menghapus video ku di situs sekolah. Bagaimana bisa dia kenal dengan pria ini? Eee....! Sial! Kenapa dia sangat beruntung, sudah selalu ada disisi Yusra sekarang dipanggil sayang oleh pria tampan ini. AAAH! Ini tidak bisa dibiarkan!" gerutu Rica kesal melihat kedekatan Julius dan Marjorie.


"Aw!"


"Kau pikir aku ini apa? Sembarangan menarik ku dan ngaku-ngaku sebagai pacarmu!"


"Aku cuman memanggilmu 'Sayang'. Panggilan itu tidak harus merujuk pada pacar, bisa saja pada teman atau saudara. Tapi jika kau ingin menjadi pacarku, boleh saja. Death knell," bisik Julius di telinga Marjorie dengan nada menggoda.


Dalam sekejap wajah Marjorie berubah merah seperti tomat. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. "Menjauh lah dariku!" ia mendorong tubuh Julius sekuat tenaga lalu berlari pergi.


Sampai di tempat sepi dan tidak ada kemungkinan orang lewat, Marjorie mencoba menenangkan dirinya. Diaturnya napasnya perlahan untuk meredakan detak jantunya yang berdegup kencang.


"Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdegup kencang begini? Perasaan ini... AAH!!! Dasar Julius berensek! Berani sekali ia berkata seperti itu padaku! Awas saja... Tunggu dulu..." Marjorie baru teringat dengan kata terakhir yang diucapkan Julius. "Dari mana dia tahu kalau aku Death knell? Aku sudah tidak menggunakan nama ini selama bertahun-tahun. Tidak, ini tidak mungkin hanya kebetulan semata. Apa dia tahu identitas rahasiaku? Siapa dia sebenarnya? Aku harus mencari tahu setiap informasi tentang dirinya."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Julia, boleh aku bertanya sesuatu? Jujur saja hal ini sudah menggaguku sejak kemarin," kata Nisa setelah memastikan Wendy dan Febby tertidur.

__ADS_1


Julia yang masih memainkan hpnya dibuat melirik ke Nisa begitu mendengar itu. "Tanyakan saja. Kenapa harus diam-diam?"


"Kau adalah putri dari keluarga Flors, kan?" tanya Nisa tanpa basa basi lagi.


Julia dibuat lumayan terkejut. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Nisa agar bisa lebih leluasa berbincang. "Kenapa kau berpikir demikian? Tidak mungkin tanpa alasan, bukan?"


"Aku cuman terpikir semua ini terlalu kebetulan. Namamu sama persis dengan putri keluarga Flors dan yang membuatkan yakin adalah kemarin, di kelas musik. Kau juga memiliki saudara kembar bernama Julius. Walau aku belum perna bertemu mereka atau melihat wajahnya, tapi aku yakin sekali kalian putra dan putri dari keluarga Flors. Jawab aku dengan jujur, Julia. Aku janji tidak akan beritahu siapapun."


Julia tersenyum melihat keseriusan dari wajah Nisa. "Jika aku katakan 'Iya', apa yang akan kau lakukan?"


"Ternyata kau memang benar putri dari keluarga Flors. Padahal aku sudah menguatkan hatiku untuk mendengar ini, namun tetap saja aku masih dibuat terkejut," tiba-tiba Nisa duduk di atas tempat tidurnya lalu bersujud. "Aku mewakilkan keluarga Pinkston untuk minta maaf padamu, nona Flors. Kelakuan Rica sudah melewati batas karna dengan berani menyinggung anda. Saya..."


"Nisa bangunlah. Jangan seperti ini. Untuk apa kau minta maaf atas perbuatan yang tidak kau lakukan? Lagi pula aku sudah menebak kalau akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sebagian kecil orang yang tidak mengetahui identitas asli ku."


"Tapi tetap saja Rica..."


"Hei, aku memberitahu mu hal ini bukan untuk kau memberi hormat padaku. Aku mohon dari seorang teman, jangan ubah sikapmu padaku, ya. Ini salah satu alasan aku merahasiakan identitas ku," pinta Julia.


"Baik, nona Flors," kata Nisa dengan semangat


"Psst... Julia saja. kau ma membangunkan mereka?"


"Maaf."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε.


__ADS_2