Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Satu pesan kecil


__ADS_3

Untuk di hari terakhir festival kebudayaan bazar di buka dari pagi hari. Julia dan teman-teman menjajal bazar untuk terakhir kalinya di tahun ini dan sampai jupa tahun depan. Mereka lebih berkeliling di area yang mencual aksesoris dan cinderamata yang menarik perhatian mereka atau bermain permainan kesempatan untuk mendapat berbagai hadiah. Selama keliling bazar mereka tidak lupa mengunjungi toko kue yang tim Febby kelola.


"Hai Febby, Alwen," sapa Julia, Nisa dan Wendy bersamaan.


"Hai, semua," balas Febby menyapa. "Apa kalian mau beli kue?"


"Tentu saja. Hari ini aku mau mencicipi kue lemon," ujar Julia.


"Aku mau kue coklat panda," kata Nisa.


"Kalau aku.... Em, pesan apa ya? Hampir semuanya sudah kucicipi. Oh, beruang stroberi ini saja," tunjuk Wendy pada kue yang berbentuk kepala beruang berhiaskan buah stroberi.


"Baiklah, ini dia pesanan kalian," dengan cekatan Febby mengambilkan pesanan teman-teman nya itu.


"Terima kasih Febby," kata Julia, Nisa dan Wendy serempak lagi.


"Sama-sama."


Mereka bertiga menikmati kue masing-masing dengan begitu nikmatnya.


"Aku sudah tidak sabar dengan pertunjukan musik kita sore ini," kata Wendy disela-sela ia menikmati kuenya.


"Aku juga," kata Julia dengan semangatnya.


"Aku malahan gugup dengan pertunjukan ini. Bagaimana kalau aku membuat kesalahan?" Nisa terlihat tidak percaya diri mau melewati pertunjukan musik tersebut.


"Santai saja Nisa, kita semua kan sudah berlatih dengan giat selama ini. Lagi pula menurutku permainan mu itu sangat bagus," ujar Febby memberi semangat pada Nisa.


"Aku juga sudah tidak sabar melihat pertunjukan kalian. Terutama kau nona Flors," ujar Alwen sedikit menggoda Julia. "Kau sangat pandai menyembunyikan identitas mu ya."


"Iya. Aku benar-benar tidak menyangka kalau teman sekamarku merupakan putri dari salah satu keluarga paling berpengaruh di ibu kota," sambung Febby.


"Kenapa kau merahasiakan identitas mu, Julia? Dan mau tinggal di asrama biasa?" tanya Wendy.


"Aku cuman ingin mencari teman. Orang yang benar-benar ingin berteman denganku, bukan orang yang cuman mendekati ku karna aku putri dari keluarga Flors."


"Tapi resikonya kau malah direndahkan oleh orang lain, seperti Rica dan Delfa atau kami," kata Alwen pelan untuk kata terakhir itu.


"Aku memang sudah menduga hal itu. Bermain-main sebentar dengan mereka tidak apa, kan?"

__ADS_1


"Sialnya."


"Oh, iya. Aku tidak melihat Sean sejak sore kemarin. Apa kau tahu dia ada dimana, Alwen?" tanya Wendy sedikit penasaran dengan menghilangnya Sean.


"Benar juga. Apa dia masih sakit?" sambung Nisa bertanya.


"Sakit? I, iya. Dia masih sakit," kata Alwen sambil melirik pada Julia yang memalingkan muka darinya. "Sakit hati tepatnya karna cintanya ditolak Julia. Aku sedikit kasihan padanya," batin Alwen.


"Sakit apa? Kami baru tahu," tanya Febby.


"Kemarin dia terserang flu. Sebab itu ia tidak ikut persentasi kemarin," jelas Nisa.


"Julia, semalam Sean menitipkan ini padaku untukmu," Alwen menyerahkan setangkai bunga mawar dengan kertas tergulung di tangkainya.


"Bunga yang cantik. Terima kasih," Julia menerima bunga tersebut.


"Ee... Apa ini cara lain dia untuk menarik perhatian mu, Julia?" ujar Febby.


"Aku rasa tidak. Kami bertiga sudah tidak berniat lagi mengejar Julia, apa lagi tahu kalau ternyata dia adalah putri keluarga Flors. Kami tidak berani macam-macam lagi."


"Syukurlah kalau kalian sudah menyerah dan berhenti mengganggu," Julia membuka lembaran kertas tersebut. Ada pesan tertulis disana.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Sebelum pergi ke sekolah Anthony untuk menyaksikan pertunjukan musik, Daniel dan Lina pergi ke ruang bawah tanah vila terlebih dahulu. Masih ada tiga orang yang belum sempat diurus. Ketiga pria itu telah sadar sejak semalam tapi karna Daniel mabuk berat membuat eksekusi mereka berpindah jadwal menjadi siang ini. Begitu Daniel dan Lina memasuki ruang bawah tanah, mereka melihat keadaan dari ketiga pria itu sudah babak belur. Hal ini karna Samuel yang memang telah memerintahkan dua bawahannya lebih dulu menginterogasi mereka. Tapi sayangnya ketiga pria tersebut sama sekali tidak mau buka mulut. Saatnya Lina mengambil alih disini.


"Keluarlah," perintah Daniel pada kedua bawahan Samuel.


Kedua orang itu segera menuruti apa yang diperintahkan. Mereka keluar dari ruang bawah tersebut. Salah satu pria yang merupakan bos dari ketiganya mengangkat kepala disaat melihat Daniel dan Lina mengambil alih. Sekujur tubuh serta wajahnya sudah dipenuhi lebam dan darah.


"Sekarang apa lagi yang kalian mau lakukan?"


"He, pergi dua laki-laki, datang satu wanita."


"Apa kalian sudah menyerah sampai meminta seorang wanita untuk menginterogasi kami?"


"Kenapa tidak sekalian bunuh kami saja?"


"Tidak perlu repot-repot, kami tidak akan membuka mulut biar apapun yang terjadi."

__ADS_1


Kata mereka secara bergantian dengan lemahnya namun masih sepat meremehkan Lina.


"Aku tidak akan melakukan apapun pada kalian karna aku tidak mau mengotori pakaianku. Dan lagi, ada pertunjukan musik yang ingin kami saksikan sore ini. Jadi kami tidak akan berlama-lama," kata Lina.


"Katakan saja siapa yang mengirim kalian. Itu sudah cukup."


"Sampai mati pun kami tidak akan memberitahukannya pada kalian!" kata pria yang terikat di tengah-tengah.


"Akan aku kabulkan," Daniel mengeluarkan senjatanya lalu mengarahkannya pada pria itu.


"Tahan dulu," cegat Lina. "Aku ganti pertanyaannya. Apa alasan kalian begitu setia pada tuan kalian itu? Kalian juga tidak terlalu berarti baginya. Dilihat dari keteguhan hati kalian bertiga, aku tebak kalian bukanlah berasal dari orang-orang sembarangan tapi kalian juga bukan bawahan yang penting."


"Pertanyaan aneh apa itu?"


"Jawab saja. Apa ada salah satu dari keluarga kalian yang diancam? Atau kalian mendapat imbalan yang sangat besar seperti rumah, uang dan harta benda lainnya? Tapi percuma juga mendapatkan itu jika kalian mati, bukan? Iya, paling tidak keluarga kalian lah yang bisa menikmatinya."


Ketiga pria itu terdiam. Mereka sebenarnya tidak mendapatkan apa-apa dari usaha dan kerja keras mereka selain gaji setiap bulan. Tidak ada juga keluarga mereka yang diancam agar mereka menuruti semua ke mau tuan mereka. Lantas kenapa mereka mau dituntut setia? Jika mati di tangan musuh juga tidak akan ada yang peduli.


"Tidak ada. Kami tidak dapat apapun," jawab bos dari kedua pria lainnya.


"Terima kasih telah menjawab," Lina berbalik menggandeng tangan suaminya pergi. Daniel cukup dibuat bingung karna itu.


"Tunggu," panggil bos dari keduanya.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Lina dengan polos sambil menoleh.


"Kami sepakat untuk memberitahu kalian siapa tuan kami. Dan juga... Rencananya."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2