
Diperjalanan pulang, Lina hanya terdiam seperti patung. Menatap kosong jalanan yang bercahaya kan lampu sebagai penerangan. Jiwanya saat ini sedang kembali ke masa lalu. Masa dimana kenakalan Lina membuat Ramona pusing, tapi Ramona tidak perna marah sama sekali pada Lina. Ia akan menegur Lina dengan kelembutan seorang ibu. Lina terkadang tersenyum sendiri mengingatnya.
Berbagai kenangan bersama Romona berputar indah dalam kepalanya. Hari-hari bersamanya dalam senang maupun duka telah mereka lalui. Lina tidak perna mengeluh dan merengek jika Ramona tidak bisa membelikannya sebuah mainan, atau sesekali mengajaknya makan enak di restoran sama seperti teman-teman sepermainan Lina. Bagi Lina bisa bersama dengan Ramona sudah cukup. Tidak peduli ada atau tidak, Ramona adalah segalanya.
Lina jadi teringat pada saat ia memberi kabar kalau dirinya berhasil masuk ke universitas kedoketaran ternama di ibu kota melalui jalur prestasi. Senyum bahagia terukir di wajah keriput nya. Air mata haru menghiasi pipingya. Lina meneteskan air mata begitu mengingat semua kenangan tersebut. Mengingat senyum itu.
"Hiks... Hiks..." Lina kembali menangis terseduh-seduh.
"Kau masih bersedih atas kepergian Ramona mu?" tanya Daniel disaat melihat air mata mengalir kembali diujung mata yang telah sebab itu.
"He... Padahal aku ingin memberinya kejutan hari ini. Tapi nyatanya aku yang dikejutkan. Aku belum bisa membalas semua kebaikannya, dan impiannya melihat aku wisuda dari sekolah kedokteran serta menjadi seorang dokter. Aku putri yang tidak berbakti. Aku tidak dapat mewujudkan impiannya sebelum kepergiannya. Maafkan aku Ramona. Hiks... Hiks..."
"Kau adalah putrinya yang hebat. Walau ia tidak dapat datang dan melihat kau wisuda tapi ia pasti ingin kau bahagia, bukan bersedih seperti ini. Kejar impianmu demi Ramona mu yang sudah tenang di alam sana."
"Ramona, artinya penyelamat. Aku memanggilnya dengan panggilan ini karna dia telah menyelamatkan ku, merawat ku dan menyanyangiku seperti anaknya sendiri. Aku tidak tahu siapa ayah dan ibu kandungku, dan di mana mereka sekarang. Satu-satunya keluarga yang aku punya hanya Ramona seorang."
"Kini aku keluargamu. Kau tidak akan kesepian lagi. Aku akan selalu ada untukmu dan tidak akan perna meninggalkanmu selamanya. Biarkan masa lalu mejadi kenangan indah dalam hati. Kita sambut masa depan dengan kebahagiaan."
"Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Kalau tidak ada kau, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi."
"Aku yang harusnya berterima kasih. Kehadiranmu membawa dunia baru untukku," Daniel merangkul bahu Lina dan menyadarkannya dalam pelukannya. "Jangan bersedih lagi. Aku sudah meminta Qazi untuk mencari tahu siapa dalang yang telah menyuruh para preman itu untuk membunuh Ramona mu."
"Aku ingin dia hidup-hidup, agar ia dapat merasakan penderitaan yang telah Ramona alami."
"Baiklah. Kau bisa bermain sepuasnya dengan dia nanti. Oh, iya. Aku hampir lupa memberimu ini."
Daniel menyerahkan sebuah brosur pada Lina yang langsung Lina terima. Lina memperhatikan brosur itu dengan ekspresi bingung begitu ia membaca kalimat awal di brosur tersebut.
"Rumah lelang Red Krisan? Maksudnya?"
"Seminggu lagi mereka akan melakukan lelang tahunan mereka. Aku ingat masih berhutang Ganoderma Darah padamu. Apa kau mau ikut? Kau bisa menawarnya sendiri."
__ADS_1
"Tentu saja aku mau ikut. Aku sudah menyiapkan racun yang mau kucoba lelang disana."
"Aku sangat menantikan racun apa itu. Bisa kau memberitahu ku?"
"Rahasia."
Lina tertidur di pangkuan Daniel. Hari ini adalah hari yang paling berat bagi Lina. Ia baru saja kehilangan orang yang dicintainya dan dalam keadaan mengenaskan. Gadis kecil yang malang. Satu jam kemudian mobil akhirnya memasuki halaman dan berhenti tepat di depan pintu rumah. Daniel segera membopong Lina masuk menuju kamarnya. Dibaringkannya tubuh Lina secara perlahan diatas tempat tidur lalu ditariknya selimut untuk menutupi tubuh Lina.
"Jangan pergi," kata Lina dengan keadaan mata masih terpejam.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan pergi kemana-mana," Daniel naik ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di samping Lina. Ia menarik tubuh Lina dalam pelukannya kemudian ikut tertidur.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Paginya. Lina terbangun dengan keadaan masih memeluk Daniel. Wajah Daniel adalah sesuatu yang pertama menyambutnya pagi ini. Mata yang terpejam dihadapannya begitu damai dan lembut. Lina merasa sangat beruntung dan bersyukur dapat bertemu dengan Daniel. Orang yang awalnya membuat ia selalu kesal dan ingin sekali pergi darinya kini adalah orang yang akan menjaganya selamanya. Ingin Lina elus wajah yang sedang tertidur lelap itu. Ketika tinggal sesenti lagi jari Lina menyentuh kulit wajah Daniel, tiba-tiba Daniel membuka matanya. Lina seketika mematung dan sedikit malu karna ketahuan ingin mengambil kesempatan membelai wajah Daniel yang sedang tidur.
"Apa yang mau kau lakukan kucing?" Daniel menggegam tangan mungil yang hendak menyentuh wajahnya.
"Membelaimu," jawab Lina begitu saja. Ia langsung menutup mulutnya begitu sadar.
Wajah Lina merona saat mendengar hal itu dari Daniel. "Berhenti menggodaku. Aku mau siap-siap kuliah," Lina menarik tangannya lalu turun dari tempat tidur.
"Kuliah apa? Bukannya kau libur hari ini?"
Langkah Lina seketika terhenti. Ia lupa kalau hari ini ia libur. Daniel turun dari tempat tidur menghampiri Lina dan langsung memeluknya dari belakang.
"Kau teringin liburan kemana? Biar aku temani hari ini. Kau membutuhkan suasana baru agar bisa melupakan semua beban dan merilekskan pikiranmu dari semua masalah ini."
"Aku tidak ingin kemana-mana. Aku mau di rumah saja."
"Jangan ragu untuk meminta apapun dariku. Aku pasti mewujudkan semuanya untukmu."
__ADS_1
"Aku ingin makan."
"Oh, itu sebenarnya bukan sebuah permintaan. Tapi ya sudah, ayok kita turun untuk sarapan. Gadis hamil sepertimu memang harus banyak makan makanan yang bergizi agar tetap sehat."
"Es krim."
"Hah, apa? Kau mau es krim? Pagi-pagi?" Daniel sedikit bingung dengan permintaan aneh Lina.
"Mau yang banyak coklatnya."
"Baiklah, tapi siang nanti saja ya. Pagi-pagi seperti ini tidak cocok makan makanan yang dingin."
"Maunya sekarang," kata Lina dengan nada manja.
Daniel memalingkan karna tidak tahan dengan tingkah Lina. "Yakin mau sekarang?" tanya Daniel sekali lagi yang dibalas anggukan. "Hah... Permintaanmu sedikit aneh. Tunggu-tunggu, Seharusnya aku sudah tahu akan hal ini. Terkadang permintaan ibu hamil memang aneh-aneh. Kau sedah mengidam?"
"Mungkin. Rasanya ingin sekali makan es krim pagi ini."
"Baiklah, kau boleh makan es krim tapi sedikit saja ya. Siang nanti baru makan lagi."
"Iya," jawab Lina sambil menganguk.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε