
Disudut lain. Norman, Jony dan Ray saling dorong mendorong antara satu sama lain untuk menyerahkan kotak hadiah. Kotak besar berwarna biru dengan pita pink besar sendari tadi terus berpindah tangan, tapi akhirnya berakhir ditangan Qazi.
"Kau saja yang memberikannya Qazi," mereka mala serempak mendorong Qazi maju.
"Hei, kenapa mala aku? Ini kan ide kalian," protes Qazi.
"Kau yang paling dekat dengan nona Lina dari pada kami. Sudah seharusnya kau yang berikan."
"Hah... Kenapa selalu aku?"
Daniel, Lina, Emma dan Judy cuman bisa menggeleng melihat tingkah mereka, dan sepertinya mereka tidak sadar kalau sedang diperhatikan. Mereka masih bertengkar dan saling dorong mendorong.
"Aku tidak pernah tahu kalau mereka bisa bertingkah seperti anak kecil. Sungguh tidak bisa dipercaya kalau mereka merupakan anggota khusus sebuah kelompok mafia terbesar di ibu kota yang perna membunuh puluhan orang," kata Lina.
"Semua ini karnamu. Sejak kau hadir, kediaman ini seketika berubah. Mereka semua mulai berani menunjukan berbagai emosi lainnya pada sesama," lirik Daniel pada Lina.
"Itu lah Veliana, putriku. Sang pembawa perubahan," Ducan mengelus rambut Lina lalu mengacak-ngacaknya.
"Hah, sebenarnya sikap yang berubah disini cuman tuan muda," timpal Judy membuat Daniel melirik tajam padanya.
"Kau benar kak. Dulunya kan di kediaman ini ada serigala salju yang bisa menerkam kapan saja. Tapi setelah pawangnya datang, serigala itu mala jadi jinak," sambung Emma.
"Kalian berdua semakin tidak menghormati ku lagi ya," Daniel menyeringai dengan tatapan dingin membeku.
"Tuan muda tidak bisa menghukum kami,"
"Karna kami milik nona Lina."
Kata Emma dan Judy dengan nada mengejek. Mereka telah bersembunyi dibelakang Lina untuk mendapat perlindungan dari serigala yang hendak mengamuk.
"Kalian...!!"
"Jangan marah, mereka cuman bercanda," kata Lina yang tidak bisa dibanta Daniel.
"Tapi kucing kecil, mereka... Aah... Sudahlah!" Daniel memalingkan mukanya yang kesal dan sedikit cemberut.
"Kalian dua gadis yang jahil. Tapi kalian ada benarnya juga. Serigala satu ini telah menemukan pawangnya. Ia sungguh tidak berdaya jika berhadapan dengan Lina," bisik Ducan pada Emma dan Judy yang masih bersembunyi di belakan Lina.
"Em... Untukmu Lina. Ma, maksudku tuan... E, Lin... Nona..." Qazi yang menyodorkan kado itu seketika gugup. Ia tidak berani menatap Lina, Daniel ataupun Ducan.
__ADS_1
"Terima kasih semuanya," potong Lina sambil menerima kado tersebut.
"Ternyata masih kau juga yang memberikan kado itu," ujar Daniel pada Qazi.
"Ini semua karna mereka," kata Qazi pelan sambil melirik ketiga orang dibelakangnya.
"Oh, iya aku hampir lupa. Aku juga memiliki hadiah untuk Julius dan Julia. Tunggu sebentar, kak. Aku akan ambil kadonya di atas," kata Via yang berlari naik ke atas untuk mengambil hadiahnya.
"Selagi menunggu Via mengambil hadiahnya, bagaimana kalau kita makan dulu. Aku sudah lapar," saran Ira. Ia sudah mengembalikan Julia pada neneknya.
"Ide bagus. Koki sepertinya sudah selesai memasak semua hidangannya."
"Kalau begitu, mari semuanya, Tuan, Nyonya dan Nona. Izinkan kami menuntun kalian menuju meja makan," ucap Emma dan Judy yang sudah berpindah dihadapan yang lain.
Sikap mereka seketika berubah formal. Mereka sedikit membungkuk memberi hormat bersama Qazi, Norman, Jony dan Rey yang juga telah berbaris rapi. Melihat perlakuan itu, Daniel, Lina, Ira, Ducan, Rayner dan Briety berjalan mengikuti Emma dan Judy menuju ruang makan. Sedangkan sisanya mengawal mereka dari belakang.
Sampai disana, terlihat meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai menu yang menggugah selera. Mereka menempati kursi masing-masing. Julius dan Julia di baringkan ke tempat tidur bayi yang sudah disediakan diantara kursi Lina dan Daniel.
Via datang tepat waktu sebelum acara makan bersama dimulai. Dengan setengah berlari ia menghampiri meja makan. Di tangannya ia membawa sebuah kotak besar bercorak ceria dan langsung menyerahkannya pada Lina.
"Ini kak, aku berikan spesial untuk mereka," setelah menyerahkan kado itu Via melangkah ke tempat duduknya yang ada di samping ibunya.
"Biar aku tebak, pasti berbagai macam kostum anime lengkap dengan aksesoris nya," kata Daniel menebak.
"Tepat sekali. Mereka pasti imut dengan kostum-kostum itu. Aku juga sudah menyiapkan beberapa buku album untuk menyimpan foto-foto mereka," Via terlihat bersemangat dengan rencananya.
"Itu sangat bagus, Via. Mereka pasti sangat mengemaskan. Aku sudah tidak sabar melihatnya," kata Ira yang sangat mendukung ide Via.
"Isi otak kalian berdua ini sama saja," ujar Briety.
"Boleh, cuman ya setidaknya tunggu mereka berumur lebih dari enam bulan. Aku juga ingin melihat mereka mengenakan pakaian imut. Asal tidak yang aneh-aneh," lirik Lina ke Via.
"Apa yang kakak masudkan dengan 'aneh-aneh'? Tentu saja tidak akan aneh, mala mereka akan terlihat bagus nantinya," Via mengalihkan pandangannya dari Lina.
"Dengan raut wajahmu seperti itu, aku tidak percaya."
Selama menikmati berbagai hidangan yang ada dan berbincang antara satu sama lain. Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan seseorang yang datang dan menerobos masuk begitu saja.
"Dasar kalian, apa kalian semua sudah melupakan aku?!!!"
__ADS_1
"Kakek?!"
"Ayah?!"
"Tuan besar Flors?!"
Kata mereka bersamaan dengan ekspresi begitu terkejut. Pandangan tuan besar Flors tertujuh pada tempat tidur bayi yang ada di samping antara Daniel dan Lina. Ia bergegas mendekat kesana.
"Kenapa tidak ada satupun dari kalian yang memberitahu ku kalau cicitku sudah lahir," Tn. Flors berjongkok agar bisa melihat lebih dekat dua cicitnya yang masih tertidur itu.
"Maaf ayah. Bukannya tidak mau memberitahu mu, tapi bukankah ayah sendiri yang tidak mau diganggu? Ayah bilang ingin berkeliling ke tempat-tempat yang jauh dari kebisingan kota untuk menikmati waktu santai," kata Rayner mengingatkan.
"Iya, jika itu soal pekerjaan, tapi inikan berita besar."
"Iya, maaf tuan besar Flors. Ini salah kami tidak memberitahu mu," Lina menyatukan telapak tangannya minta maaf.
"Tidak juga," kata Daniel tanpa melirik pada kakeknya. "Ini kesalahan kakek sendiri yang berkeliling ke tempat-tempat terpencil yang tidak ada sinyalnya. Bagaimana caranya kami membertahumu?"
"Kalian bisa menggunakan segala cara untuk memberitahu ku. Kalian bisa menyuruh seseorang menemui ku."
"Kemana? Memang kakek perna memberitahu kami kakek mau berkeliling kemana?" perkataan Daniel kali ini membuat Tn. Flors terdiam.
"Sudahlah, yang penting tuan besar Flors sudah pulang dan bertemu dengan cicitnya," lerai Lina.
"Terima kasih telah membawa kehangatan dalam keluarga ini," ujar Tn. Flors pelan namun masih bisa di dengar jelas oleh yang lain. "Tunggu. 1, 2... 1, 2..." ia baru sadar kalau ada dua bayi dalam tempat tidur itu. Ia mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya. "I, ini, apa maksudnya ini? Kenapa ada dua bayi disini?"
"Mereka kembar, tuan besar Flors," kata Lina memberitahu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε