
"Ini bukan salahmu nona, tapi salah ketiga orang tidak berguna itu. Masa cuman merebut permen dari bayi saja tidak bisa. Sekarang mereka bertiga tertangkap dan bagaimana kalau mereka membocorkan rencana kita pada keluarga Flors?"
"Tidak ada gunanya juga keluarga Flors mengetahui rencana kita. Mereka cuman keluarga kaya raya yang tidak tahu apa-apa tentang dunia bawah tanah. Bukankah kau sendiri yang bilang padaku?"
"Anda benar sekali nona. Saya lah yang terlalu berpikir berlebihan. Lalu kita sekarang harus apa?" tanya pengurus Hans.
"Apa lagi kalau memulai rencana kita. Segera beritahu untuk seluruh anggota kecuali kelompok Dragon untuk siap-siap menyerang ibu kota!" perintah Lady Blue.
"Baik. Akan segera saya laksanakan."
"Pertama-tama kita minta Marjorie untuk memulai tugasnya. Dengan begitu besok malam kita sudah bisa menyebru ibu kota dan mengalahkan kekuatan keluarga tersembunyi. Kita rebut kekuasaan di ibu kota dan menjadi kelompok mafia yang paling ditakuti di negara ini. Semua orang yang dulunya mengabaikan ku kini harus tunduk di bawah kaki ku. Hahaha...." tawa Lady Blue mengisi setiap ruangan kamar hotel tersebut.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Selesai makan malam, Julia dan Nisa lebih memilih melihat bintang di atas atap vila dari pada bersama yang lain di ruang kaca. Julia ingin mencari tempat tenang untuk sesaat. Terkadang Julia memang suka mencari tempat sepi seperti ini, melamun beberapa menit untuk melepaskan semua beban pikirannya.
"Julia, sebagai bagian dari anggota mafia, apa lagi kau adalah putri dari pemimpin mafia yang paling ditakuti. Apa kau perna membunuh seseorang?" tanya Nisa memecah kesunyian.
"Perna," jawab Julia tanpa melirik Nisa.
"Bagaimana rasanya?"
"Biasa saja."
"Em... Sudah berapa banyak?"
"Tidak terhitung lagi. Aku sudah membunuh sejak kecil. Tapi jika dibandingkan dengan kakak ku, aku kalah jauh. Iya, hal wajar karna misiku biasanya lebih berkaitan dengan penerobosan sistem keamanan dari pada terjun ke lapangan."
"Semua itu atas kemauan mu sendiri atau memang kalian harus dituntun melakukannya?"
"Kemauan sendiri. Mungkin karna terlahir dari keluarga yang memang sudah terbiasa dengan bau anyir darah membuat kami tidak ada rasa takut dan berbelas kasihan pada musuh kami."
Terdiam sesaat. Keadaan kembali sunyi untuk beberapa menit.
__ADS_1
"Biarpun kau terlahir dari keluarga penjahat tapi kau sama sekali tidak seperti penjahat. Hatimu lemah lembut, baik dan peduli pada sesama. Jika kau tidak memberitahu ku, aku sama sekali tidak menebak kalau kau itu dari keluarga mafia."
"Karna kami tidak perna menyakiti orang yang lemah dan tidak bersalah. Aku seorang penjahat yang sudah membunuh banyak orang, sebab itu aku tidak takut mati. Tapi aku tetap masih harus melawan untuk melindungi orang yang bagiku pantas dilindungi. Keluargaku, teman-teman ku dan orang yang tertindas. Hah... Sejujurnya aku sama sekali tidak terlalu tertarik dengan semua ini. Aku lebih suka kehidupan biasa yang dijalanani setiap orang. Sekolah, kuliah, berkerja kemudian menikah dan membangun rumah tangga kita sendiri, memiliki keluarga kecil yang bahagia tanpa harus berurusan dengan darah dan kekerasan."
"Apa orang tuamu sudah mengetahui hal ini?"
"Aku tidak perna memberitahu mereka soal keinginanku ini, tapi aku bisa menebak kalau mama sudah mengetahuinya sejak lama. Itu sudah terlihat jelas dari bagaimana ia memperlakukan diriku. Mama tidak terlalu sering melibatkan ku dalam urusan dunia bawah tanah. Paling aku sendiri yang suka ikut campur. Mama mengatakan kalau sebaiknya aku lebih fokus ke pelajaran dari pada ikut menjalankan misi, karna suatu hari nanti aku akan mewarisi perusahan Flors."
"Sungguh? Aku pikir kakakmu yang akan mewarisi perusahan itu."
"Tidak. Dia lebih ingin menjadi dokter seperti mama dari pada menjadi CEO. Kakak sudah berencana setelah tamat SMA ia mau masuk ke universitas kedokteran tempat dimana mama kuliah dulu. Hoam..." Julia menguap panjang karna diserang rasa kantuk.
"Sebaiknya kita kembali ke dalam dan tidur. Hari sudah semakin larut," saran Nisa.
"Kau benar."
Mereka berdua kembali masuk. Karna sudah larut, Nisa terpaksa harus menginap. Malam ini Nisa akan menjadi teman sekamar, hanya mereka berdua. Besok paginya, mereka terbangun karna panggilan dari seorang pelayan. Julia mengucek matanya dan melihat jam sudah menunjukan pukul 07.00. Ia turun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi. Hari ini adalah hari terakhir dari festival kebudayaan. Walau siswa dan siswi sebenarnya dalam keadaan libur selama festival tapi mereka tetap harus mengisi daftar kehadiran setiap paginya.
"Selamat pagi sayang. Bagaimana keadaanmu?" sapa Lina sambil meneteng kemoceng.
"Pagi sayang. Apa yang terjadi? Kenapa kau mengikatku seperti ini?"
"Kau tidak ingat apa yang kau lakukan semalam?"
"Semalam?"
Daniel mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Bayangan sesaat sebelum ia pingsan masih samar-samar di kepalanya sampai ia mengingat sebagian dari ingatan tersebut. Ia seketika mengerti kenapa tiba-tiba istrinya menatapnya dengan begitu mengerikan pagi ini.
"Eh... Tunggu, tunggu dulu. Sepertinya ada kesalahpahaman disini."
"Ooh... Kesalahpahamannya," dengan lankah gemulai Lina berjalan mendekati suaminya. "Kaki ku sampai mati rasa karna tidak bisa bergerak dan kesemutan pagi ini. Bagaimana kau bisa menjelaskan itu padaku?"
"Eh..."
__ADS_1
Daniel tidak bisa menjawab begitu telapak tangan istrinya mulai membelai membuat wajahnya. Perasaan tidak enak menjalar ke seluruh tubuh Daniel. Ia tidak bisa lari ataupun menghindar.
"Aku memperbolehkanmu minum minuman beralkohol tapi dengan catatan jangan sampai mabuk berat. Lalu apa yang kau lakukan semalam?"
"Ini, ini karna ulah Samuel. Tidak adil jika cuman menghukum ku seorang."
"Benar. Kau tidak perlu khawatirkan dia. Kakak sepupuku itu sudah menghadapi mimpi terburuk nya."
"Oh, a, apa itu."
"Bermain dengan laba-laba. Aku yakin kalau saat ini dia sedang menjerit ketakutan begitu terbangun dengan puluhan laba-laba merayapi tubuhnya. Makhluk satu itukan memiliki phobia terhadap laba-laba."
"Aku baru tahu itu."
"Aku juga baru tahu. Sekarang giliranmu," tunjuk Lina menggunakan kemoceng.
"Aku tidak memiliki phobia apapun. Bagaimana caranya kau bisa menakutiku?"
"Aku tahu betul kalau aku tidak bisa menakuti suamiku, namun apa kau perna berpikir? Dengan dirimu yang tidak mengenakan baju dan diriku yang membawa kemoceng berbulu ini. Apa yang pertama terlintas dipikiran mu?"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1