Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Latihan menembak


__ADS_3

Dua minggu berlalu. Dengan riang Lina berlari keluar dari ruang laboratorium nya yang memang dibuat khusus oleh Daniel. Lina tidak memperdulikan teriakan Emma dan Judy memperingatkan nya untuk hati-hati. Ia berlari menuju ruang kerja Daniel. Tampa mengetuk pintu lagi, Lina menerobos masuk begitu saja dan melompat memeluk Daniel. Hal hasil semua lembaran kertas yang Daniel pegang berhamburan di udara.


"Akhirnya aku berhasil. Daniel lihat ini. Akhirnya eksperimen ku berhasil juga setelah sekian lama," dengan riang Lina menunjukan sebuah pil kecil berwarna merah gelap pada Daniel.


"Sabar-sabar kucing kecil. Apanya yang berhasil? Ceritakan pelan-pelan padaku. Astaga, kau berenergi sekali hari ini."


"Hihihi..."


Daniel menggendong Lina membawanya untuk duduk di sofa. "Nan, bisa ceritakan apa yang terjadi? Pil apa yang kau tujukan itu padaku?"


"Makanlah," Lina menyodorkan pil tadi dan langsung di telan Daniel. "Kau sungguh langsung memakannya. Apa kau tidak takut yang kuberikan itu adalah sebuah racun?"


"Jika kucingku menyuruhku memakannya, maka akan aku makan walau racun sekalipun. Tapi aku percaya kalau kucingku tidak mungkin memberiku racun."


"Kau beruntung itu memang bukan racun. Pil itu merupakan hasil dari eksperimen penawar racunku. Berkat Ganoderma Darah yang berhasil di dapat dari pelelangan dan kerja keras selama dua minggu ini serta bantuan dari Emma, Judy dan robot yang kau berikan waktu itu, akhirnya aku berhasil membuat penawar racun untuk semua jenis racun. Bagi kau yang telah memakan pil ini, tubuhmu sekarang kebal terhadap jenis racun apapun, baik racun kecil sampai menengah dan untuk racun tingkat tinggi kau hanya akan mengalami gejalanya saja tapi racun tersebut tidak dapat membunuh mu. Bagaimana, aku hebat bukan?"


"Hmmph."


Daniel mencium bibir Lina dengan tekanan panas namun lembut. Lina seketika membalas ciuman tersebut. Satu menit berlalu Daniel melepaskan ciumannya.


"Betapa beruntungnya aku bisa mendapatkan istri secerdas dirimu. Aku tidak bisa membayangkan hadiah apa yang cocok kuberikan padamu. Kau mau apa katakan saja. Aku pastikan dapat memberikan semuanya yang kau inginkan."


"Em... Aku mau belajar menembak, boleh? Aku sudah terbiasa menggunakan senjata jarak dekat dan sekarang aku mau belajar menggunakan senjata jarak jauh."


"Tentu saja boleh. Apa yang tidak boleh untuk istri kecil ku. Besok aku akan mengajakmu ke tempat pelatihan tembak khusus anggota Black Mamba. Secara pribadi aku akan mengajarimu."


"Terima kasih Daniel. Kau yang terbaik," Lina memeluk Daniel begitu eratnya sangking senangnya. "Oh, iya ambil ini," Lina memberikan sebuah botol kecil berwarna putih pada Daniel.


"Apa ini?" tanya Daniel begitu menerima botol tersebut.


"Botol itu berisi empat pil sama seperti yang kau telan tadi. Hadiahkan itu pada ayah, ibu, Via dan kakekmu. Dari ke seluruh Ganoderma Darah aku berhasil membuat sepuluh pil dengan pil yang gagal lebih dari belasan. Empat yang ini, satu yang kau makan, masing-masing kuberikan satu untuk Emma dan Judy karna telah membantuku, satu untukku dan dua lagi ku simpan."


"Baiklah. Aku akan memberikannya secara langsung pada mereka. Mereka pasti sangat senang menerima hadiah yang super istimewa ini darimu."

__ADS_1


"Aku harap juga begitu."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Keesokan harinya. Seperti yang dijanjikan kemarin, Daniel membawa Lina pergi ke tempat latihan tembak yang di khusus untuk anggota Black Mamba. Sebuah gedung berwarna putih dengan area tembak terbuka di sisi kiri gedung. Lokasi latihan tembak ini terletak di pinggiran kota. Kurang lebih butuh waktu satu jam perjalanan dari rumah untuk sampai ke lokasi. Sampai disana tidak ada satupun sambutan dari staf atau pegawai yang berkerja di tempat latihan tembak tersebut. Daniel harus membuka sendiri pintu masuk untuk dirinya dan Lina. Ia datang seperti perserta pelatihan tembak lainnya. Salah satu staf yang menyadari ke dagangan Daniel seketika membungkukkan badannya memberi hormat. Sedangkan yang lain mengetahui hal itu dari jauh bergegas memberi tahu kepalah yang bertanggung jawab mengurus tempat tersebut.


"Selamat datang tuan muda. Ada perlu apa anda menyempatkan diri untuk datang hari ini dan tidak memberi kabar sebelumnya?" sapa seorang pria dengan kumis melintang yang berjalan cepat menghampiri Daniel.


"Apa aku harus memberitahu mu terlebih dahulu untuk datang ke tempat ku sendiri?" kata Daniel dingin.


"Maaf tuan muda. Saya bukan bermaksud begitu," pria itu menyekat bulir keringat yang muncul di pelipisnya menggunakan sapu tanga. "Kalau saya tahu lebih awal saya akan dengan sendirinya menyambut anda di depan pintu."


"Tidak perlu penyambutan. Sediakan saja satu tempat arena tembak untuk pemula berserta perlengkapannya."


"Baik, baik. Saya sendiri akan menyediakannya secara pribadi untuk tuan muda. Em... Kalau boleh tahu, apa semua ini untuk nona disebelah anda?"


"Iya."


"Apa perlu meminta pelatih profesional untuk melatih nona muda ini?"


"Ah, maafkan saya. Saya akan segera menyiapkan semuanya," kata pria itu sambil berlalu pergi.


"Oh, siapa gadis kecil itu? Kenapa tuan muda memperilakukannya dengan sangat spesial?" bisik salah satu orang yang melihat Daniel menggadeng tangan Lina ke ruang latihan.


"Apa kau belum perna dengar kalau sekarang tuan muda sudah memiliki seorang kekasih?"


"Apa mungkin gadis itu orangnya?"


"Sepertinya iya. Tuan muda dikenal tidak perna dekat dengan seorang wanita."


"Itu berarti sudah pasti gadis itu kekasih tuan muda."


"Ternyata selerah tuan muda adalah gadis kecil yang manis."

__ADS_1


"Pantas saja beberapa wanita yang mencoba mendekatinya langsung ditolak."


"Selerah tuan muda memang unik."


"Tapi gadis itu memang sungguh manis. Aku juga mau memiliki gadis kecil seperti dia."


"Tidak hanya manis, sepertinya gadis itu masih polos. Berdampingan bersama tuan muda lebih mirip tuan muda menggadeng adiknya dari pada kekasihnya."


Diruang pelatihan yang telah disediakan, disinilah Lina akan belajar menembak dengan Daniel sebagai pelatihnya. Sebuah pistol telah berada di tangan dan Lina siap membidik target. Dengan mengikuti arahan dari Daniel, Lina menarik pelatuk pistol tersebut.


Dor!


Satu tembakan berhasil meluncur namun tidak tepat mengenai sasaran tembak. Sudah berulang kali Lina mencoba tapi hanya tiga yang berhasil mengenai target dan itu pun cuman mengenai tepi target saja.


"Hah... Sepertinya aku tidak mahir menembak," ujar Lina sambil menurunkan pistol nya.


"Baru belajar sehari wajar saja belum mahir. Segala sesuatu butuh proses, tidak bisa dalam sekejap mata."


Dor!


Mereka dikejutkan dengan suara tembakan yang tepat berasal dari sebelah mereka. Seorang gadis berdiri di samping mereka. Ia baru saja selesai meluncurkan satu tima panas dan tepat mengenai titik tengah dari sasaran. Gadis itu menoleh.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2