Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Ini kehidupan barumu


__ADS_3

Paginya Lina terbangun dengan keadaan sudah berganti pakaian. Piyama putih begitu lembut menyentuh kulitnya. Ia bangkit dari tempat tidur sambil melihat sekeliling. Ruang kamar besar dengan nuansa elegan tidak membuat Lina bahagia. Ia masih mengingat kejadian semalam. Ia mulai sangat membenci tempat ini. Lagi-lagi ia dilecehkan pria brengsek itu. Namun apalah daya tenaganya tidak cukup besar mengalahkannya.


Dengan rasa kesal yang memadat Lina beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Cukup lama Lina mengguyur tubuhnya dengan air dingin sambil meratapi nasibnya di tangan orang seperti Daniel. Akankah penderitaan ini terus berlanjut?


Lina keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja. Ia tidak memiliki baju ganti. Iseng-iseng ia membuka lemari yang ternyata penuh oleh pakaian, aksesoris, tas dan sepatu dari berbagai brand internasional.


"Apa ini untukku?"


Lina sangat menyukai semua barang-barang yang dalam lemari itu. Sebagai seorang wanita muda, fashion adalah hidupnya. Tanpa memperdulikan milik siapa Lina langsung memilih dan mencoba pakaian yang menurutnya cocok untuknya. Baju hitam berlengan pendek dengan bahu kiri terbuka dihiasi silangan tali berwarna senada, rok mini kotak-kotak dan sepatu putih polos. Pakaian itu begitu pas di tubuhnya seolah-olah semua barang ini memang di khususkan untuk dirinya.


Lina turun mengendap-endap takut bertemu pria brengsek itu. Tapi sayangnya hal itu tidak mungkin.


"Mau kemana kau?" tanya Daniel yang duduk di meja makan.


Seperti tertangkap basa sedang melakukan kejahatan, Lina terkejut dan menoleh perlahan ke arah Daniel.


"Kemari!" pinta Daniel.


"Hah..."


Dengan menghela nafas panjang Lina berjalan mendekati Daniel sambil menunduk. Ia tidak mau berurusan dengan Daniel di pagi hari ini, apa lagi membuat ia marah. Lina tidak mau kejadian semalam terulang lagi.


"Duduk!" perintah Daniel tanpa mengangkat wajahnya. Ia masih menikmati sarapannya.


Lina mengambil tempat duduk disamping Daniel. Beberapa pelayan wanita menyajikan berbagai makanan dihadapan Lina. Semua hidangan itu begitu menggugah selera Lina.


"Makan," kata Daniel singkat.


"Aku tidak lapar," dengan perasaan masih kesal Lina memalingkan mukanya.


Kriiiieuk.......

__ADS_1


Suara perut Lina berbunyi yang membuat seketika wajah Lina memerah karna malu. Daniel cuman melirik Lina begitu mendengarnya.


"Apa susahnya tinggal makan saja jika memang lapar. Kenapa harus membohongi diri sendiri?" batin Daniel.


"Baiklah, baiklah aku makan."


Awalnya Lina malu-malu dan mencoba untuk terlihat biasa saja, tapi perutnya terlalu lapar dan juga semua hidangan ini sangat enak. Dengan lahap Lina memakan semua hidangan yang ada. Ia benar-benar kelaparan. Kemarin cuman sempat makan beberapa potong kue jahe saja. Daniel yang melihat itu tersenyum kecil.


"Mau kemana?" tanya Daniel setelah Lina menyelesaikan makannya. "Kau dilarang meninggalkan rumah ini!"


"Tapi aku masih harus pergi kuliah. Kau tidak bisa mengurungku disini seperti seekor burung. Aku masih punya kehidupan." jawab Lina.


"Hm, kehidupan? Kehidupan apa yang dimiliki gadis kecil sepertimu? Ini kehidupan barumu. Nikmatilah," ujar Daniel setelah menyerumput kopinya.


"Tidak mau! Lebih baik aku mati dari pada menjadi tawananmu disini!!" tegas Lina.


"Silakan. Tapi aku ingat kau masih memiliki Ramona di desa. Jangan tanya bagaimana aku bisa mengetahuinya. Informasi gadis kecil sepertimu sangat mudah di dapat, walau aku masih tidak tahu masa lalumu sebelum kecelakaan."


Kalimat tersebut membuat Lina tersentak. Ia jadi teringat dengan Ramona di desa. Jika ia mati, tidak akan ada lagi yang mengirimkan uang untuk membantu pengeluaran sehari-hari Ramona. Dan juga Ramona akan sangat sedih. Ia sudah seperti ibu bagi Lina. Harapannya dapat melihatnya sukses sebagai dokter terhebat di ibu kota. Lina harus menguatkan hatinya untuk melewati semua cobaan dan penderitaan ini. Hm, memang apalagi yang lebih buruk dari ini?


"Benarkah," wajah murung Lina seketika berubah ceria. "Apa syaratnya?"


"Kembali lagi kesini. Mulai sekarang ini rumahmu. Jika kau berani mencoba kabur aku bisa pastikan dapat menemukan mu biar menjadi debu sekalipun," tatapan tajam Daniel membuat Lina merinding. "Qazi, kau yang bertanggung jawab kemanapun kucing ini pergi. Jangan biarkan ia hilang dari pengawasanmu kalau tidak kupenggal kepalamu."


"Baik bos," seorang anak buah Daniel bernama Qazi membungkuk menerima perintah.


Lina sedikit cemberut. Jika salah satu anak buah Daniel selalu mengawasinya, kehidupan damai kuliahnya tidak akan tenang lagi. Gerak geriknya akan terus di awasi. Kalau seperti ini bagaimana Lina bisa bermain. Jiwa Psychopathnya sudah meronta-ronta ingin mendengar jeritan keputus asaan. Lina meneliti Qazi, sepertinya pria terlihat mudah untuk diajak kerja sama.


Lina berangkat kuliah diantar Qazi menggunakan mobil hitam. Ini seperti salah satu impian kecil yang terwujud. Diantar ke universitas oleh sopir pribadi menggunakan mobil mewah sama seperti mahasiswa lainnya di kampusnya. Dalam perjalanan tidak ada percakapan diantara keduanya. Lina hanya memandang kosong keluar jendela tapi ia merasakan tatapan yang terus memperhatikan dirinya. Qazi sering kali diam-diam melirik Lina dari balik kaca spion mobil.


"Ada apa?" tanya Lina akhirnya. "Kenapa kau terus melihatku seperti itu?

__ADS_1


"Aku tidak menyukaimu."


"Alasannya?"


"Aku ini salah satu anggota elit terbaik yang dimiliki tuan muda dan sangat dipercaya, tapi bisa-bisa ia memberi perintah untuk mengawasi gadis SMA seperti mu," ujar Qazi dengan tatapan sinis.


"Hm, sembarangan kau mengataiku gadis SMA! Apa kau tahu umurku sekarang sudah menginjak 20 tahun dan aku ini seorang mahasiswi jurusan kedokteran di universitas ternama di ibu kota." kata Lina sambil menyilangkan kedua tangan di dada. "Memang kau pikir aku juga mau terus di awasi olehmu? Jika kau mau pergi ya silakan. Aku juga tidak membutuhkan mu."


"Jika bisa memang akan aku lakukan. Tapi ini perintah langsung dari tuan muda. Kau tidak tahu seberapa kejamnya ia. Ia bisa membunuh siapa saja tanpa pandang bulu jika suasana hatinya sedang buruk. Kau cukup beruntung masih bisa hidup setelah apa yang kau lakukan."


"Oh... Benarkah? Apa kau perna berpikir kalau aku bisa lebih kejam dari tuan muda kalian itu?" tatap tajam Lina pada Qazi.


Entah mengapa tiba-tiba tubuh Qazi merinding setelah mendengar itu. Aura membunuh yang dimiliki Lina hampir sama menakutkannya dengan Daniel. Qazi menggeleng cepat, mengehalau perasaan tersebut. Tidak mungkin gadis kecil dan semanis Lina memiliki aura membunuh yang sangat kuat. Ia tahu betul identitas Lina karna ia juga salah satu orang yang di perintahkan mencari tahunya. Tidak ada yang aneh. Lina hanya gadis yang dikenal lugu di sekolah. Ia bahkan sering dibully dan tidak memiliki teman. Cuman satu yang membuat binggun Qazi, setiap orang yang membully Lina pasti mendapat kesialan. Apa mungkin semua itu ulah Lina?


"Jangan membual. Tidak mungkin gadis kecil sepertimu bisa sekejam tuan muda. Aku yakin kau belum perna melihat apa warna darah yang sesungguhnya," kata Qazi mencoba memastikan itu.


"Warna darah yang sesungguhnya? Memang ada warna lain?" tanya Lina tidak mengerti maksud Qazi. "Perasaan warna darah sengar tetap merah cerah."


"Kau bahkan tidak tahu itu. Bagaimana bisa kau menyamakan dirimu dengan tuan muda kami."


"Sepertinya pengalamanku dalam bidang ini belum cukup luas," pikir Lina tanpa memperdulikan Qazi lagi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2