Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Makan siang


__ADS_3

"Pergilah!"


Wanita itu bangkit lalu berlalu pergi. "Sial! Semua ini karna ****** kecil itu. Kalau bukan karna dia tuan muda tidak akan memperlakukan ku seperti ini. AAAA ! ! Geram sekali!! Bagaimana aku mau mendekati tuan muda lagi. Tuan muda kini sangat membenciku."


"Ia wanita yang berani tapi bodoh," gumang Lina.


Dengan senyum diwajahnya, Daniel beralih pada Lina. Lina mulai merasakan perasaan tidak enak melihat senyum itu. Tampa sadar ia melangkah mundur.


"Ke, kenapa kau tersenyum seperti itu padaku?"


"Kenapa tidak kau tanyakan pada dirimu sendiri? Bagaimana caramu menjelaskan semua kejadian ini?" Daniel memojokan Lina ke tembok.


"Ah... Itu... Bagaimana ya?" kini Lina yang bagaimana bisa keluar dari situasi menyeramkan ini.


Kriiieuk.............!


Suara perutnya sendiri yang menyelamatkan nyawanya. Tapi itu benar-benar membuatnya malu. Lina sedikit menekan perutnya yang keroncongan.


"Hah... Ayok, seperti kataku tadi mau mentraktir mu makan siang di restoran BL."


Daniel menggadeng tangan Lina mengajaknya pergi makan siang. Restoran BL merupakan restoran kelas atas yang terkenal di ibu kota. Hanya pemilik kartu masuk saja yang bisa mengunjungi restoran kelas atas ini. Dan tentu nya Daniel memiliki kartu masuk. Ia telah menjadi tamu VIP di restoran tersebut.


Mobil berhenti di depan restoran BL. Para petugas disana segera tahu siapa yang baru saja datang. Dengan sigap mereka membukakan pintu bagi Daniel dan Lina. Ruang restoran yang elegan begitu memanjakan mata Lina. Beberapa pelayan segera menyambut mereka. Daniel dan Lina di tuntun ke ruangan khusus bagi tamu VIP di lantai atas. Ruangan luas dengan satu meja besar berbentuk bundar serta memiliki Delapan kursi ini kini hanya berisi dua orang saja. Mereka diberikan masing-masing buku menu. Lina melihat-lihat menu apa yang ingin dipesannya.


"Em... Enaknya yang mana ya?" pikirnya sampai matanya tertuju pada hidangan laut. "Saya mau pesan lobster saja."


"Bawakan saja semua hidangan terbaik kalian," kata Daniel pada pelayan tersebut.


Pelayan tersebut segera berlalu pergi setelah menerima kembali buku menu.


"Jika kau mau seluruh hidangan terbaik, untuk apa melihat-lihat menu?" tanya Lina.

__ADS_1


"Kalau cuman dilihat bagaimana kita bisa tahu itu enak atau tidak?"


"Kalimat bagus."


Selang beberapa saat. Hidangan yang dipesan sampai juga. Secara bergilir para pelayan masuk membawakan semua hidangan. Hampir penuh mejah itu oleh semua makanan yang ada. Lina terdiam sesaat menatapi semua makanan tersebut.


"Siapa yang akan menghabiskan semua ini?"


"Tentu saja kau," tunjuk Daniel pada Lina.


"Aku? Aku tidak akan sanggup menghabiskan semuanya."


"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku tidak memberimu makan dengan baik sampai kau bisa kurus begini. Akan kubuat kau gemuk seperti kalkun."


"Hei, aku cuman bercanda. Jangan kau anggap serius. Hmp..."


Satu potongan daging lobster Daniel suapkan masuk dalam mulut Lina. "Berhentilah mengoceh dan makanlah."


Lina tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia cuman beranggapan kalau dirinya hanya menyesuaikan diri dengan kesehariannya saat ini. Dulu Lina harus berkerja keras sampai lupa untuk mengisi perutnya, sebab itu ia tidak mudah merasa lapar karna terbiasa jarang makan. Namun dalam dua bulan ini Lina sangat santai sekali. Ia bahkan bingung mau mencari kesibukan apalagi untuk mengisi waktu luang nya sampai makan adalah pilihan yang tidak disadari.


Film diputar. Awal yang tenang berubah menjadi menegangkan disaat pemeran utama mulai mengalami konflik. Nuansa mencenkam terasa begitu nyata sampai pada penonton. Alunan suara seram menambah ketakutan. Jantung seakan-akan mau copot begitu hantu nya muncul tiba-tiba mengagetkan. Iya jika itu orang lain. Namun bagi Lina... Hah, tidak ada seram-seramnya sama sekali. Ia cuman duduk diam menikmati flim sambil makan brondol jagung dan minum soda.


Hancur sudah harapan Daniel yang berpikiran kalau kucing disebelahnya ini ketakutan. Harapan Lina akan berteriak sambil menyembunyikan wajahnya di tubuh Daniel dan sebagai seorang pria, ia akan mencoba menenangkan kucing ini.


"Salahku berpikiran demikian. Aku lupa kalau kucing ini bukanlah gadis yang sama seperti kebanyakan gadis di luar saja. Mencoba menakuti ia dengan hantu, hantu nya yang takut."


Daniel melirik Lina yang sangat tenang menikmati film. Matanya terlihat hampir tidak berkedip sama sekali.


"Apa kau tidak takut pada hantu?" tanya Daniel.


"Tidak. Tidak ada hantu di dunia ini. Kalaupun mereka ada, sudah lama aku dihantui oleh semua teman mainku itu. Tapi sampai sekarang aku belum perna melihat satupun dari mereka."

__ADS_1


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Hari senin tiba. Lina memulai keseharian biasanya. Bangun pagi, bersiap-siap, sarapan dan pergi berangkat ke kampus. Tidak ada kejadian apapun yang terjadi di universitas itu. Violet terlihat tidak mencari gara-gara padanya, padahal ada tugas yang diberikan dosen pada mereka. Apa kecelakaan tersebut membuat ia berubah atau ia memiliki suatu rencana yang besar? Lina tidak mau memusingkan itu. Jika Violet tidak menggagunya, ya sudah. Lina juga tidak mau repot-repot berurusan dengannya.


Jam makan siang tiba. Lina asik berbincang sambil makan siang bersama Ira di kantin universitas.


"Sekarang kehidupanmu terlihat jauh lebih baik Lina," ujar Ira.


"Lumayan," jawab Lina.


"Lumayan apa? Sekarang kau bisa merasakan hidup mewah berkat pria yang kau selamatkan itu. Ia memberimu segala keperluanmu. Ia pria yang baik. Apa mungkin ia benar-benar telah jatuh cinta padamu."


"Fftt... Cinta? Hubungan kami hanya sebatas kerja sama. Aku diminta untuk menjadi kekasih palsu nya agar ia gagal bertunangan. Itu saja, tidak ada yang lain," jelas Lina. Walau sebenarnya dia juga tidak tahu hubungannya dengan Daniel dan bagaimana perasaannya pada Daniel.


"Apa benar hanya sebatas hubungan kerja sama?" kata Ira dengan lirikan mencurigai. "Jika seorang pria memperlakukan wanita dengan sangat baik, lembut, dan pengertian apalagi kalau ia menyukai wanita tersebut. Jadi aku tanya padamu, bagaimana perlakuan pria itu padamu, Veliana?"


"Apa yang kau bicarakan ini Ira? Hidupku ini seperti burung dalam sangkar. Ia memang menyediakan apa yang aku perlukan tapi aku dilarang pergi kemanapun. Berada di rumah sepanjang waktu sangatlah membosankan. Jika ia menyukaiku, seharusnya ia menuruti semua kemauanku. Bukannya mengurungku seperti peliharaannya."


"Mungkin dia terlalu pelit. Ia hanya mau menyimpan dirimu untuk dirinya sendiri. Ia takut ada orang yang merebutmu jika kau berkeliaran di luar sana."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2