Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Apa itu yang aku sebut bermain


__ADS_3

Lina belum perna sedekat di dengan laki-laki kecuali Daniel. Paling cuman saling berpegangan tangan saja, tidak lebih. Itupun sebisa mungkin Lina hindari. Tapi dengan Daniel sangat berbeda. Tubuh Lina tidak terlihat menolak setiap sentuhan dari Daniel. Ia mala merasa nyaman dan ingin tetap di dekap Daniel. Rasa kehangatan dari tubuh Daniel benar-benar membuatnya terbuai dalam waktu.


"Kau begitu manis mengenakan pakaian ini. Sangat cocok untuk gadis mungil sepertimu."


Bukannya melepaskan, Daniel mala mempererat pelukannya. Bahkan pistol yang digunakannya untuk membunuh semua orang masih di genggam erat di tangan kanannya. Daniel memangkuhkan dagunya di bahu Lina sambil mengendus leher Lina. Entah mengapa Daniel juga merasakan hal yang sama. Ia ingin sekali terus memeluk Lina seperti ini tanpa melepaskannya sedetik pun.


"Tubuhmu bau anggur. Manis sekali," bisik Daniel menggoda.


Daniel benar-benar sudah tidak tahan dan hendak menjilati leher Lina, namun seketika Lina mendorong wajah Daniel menjauhi lehernya. Lina juga tidak tahan dengan setiap hembusan nafas Daniel yang hangat di lehernya. Lina hampir mengeluarkan suara ******* manja.


"Aku menyuruhmu melepaskan ku, bukannya bernafas di leher ku!" kata Lina membuat Daniel sadar atas apa yang baru saja ia lakukan. Daniel seketika melepaskan pelukannya. Tubuh dan hati mereka kini dilanda rasa kekecewaan.


"Rey! Norman!" panggil Daniel pada anak buahnya. Dua nama yang di panggil itu segera menghadap bos mereka.


"Ada perintah tuan muda?" tanya mereka bersamaan.


"Seret nona Rylie kemari. Perintahkan pada yang lain untuk membantai seluruh orang yang tersisa."


"Baik."


Kedua orang itu segera menjalankan perintah yang diberikan. Daniel mengajak turun Lina ke bawah, berjalan melewati setiap mayat yang ada. Mereka menuju ruangan yang dikhususkan untuk tamu VIP. Ruangan luas dengan sofa mewah terdapat disana begitu empuk saat di duduki. Tapi nanti ruangan ini akan menjadi tempat bermain Lina.


"Tuan muda, ini orangnya."


Dua orang anak buah Daniel membawa masuk seorang wanita yang keadaan tangannya terikat dan wajahnya tertutup kain hitam. Salah satu anak buah Daniel mendorong wanita itu ke lantai sampai wanita itu hampir tersengkur. Kain yang menutupi kepalanya di tarik lepas. Begitu Lina melihat wajah wanita tersebut ia sedikit terkejut. Wanita yang terduduk di hadapannya ini teryata wanita yang sama. Dialah yang telah menculiknya dan juga mengirim Lina ke ranjang babi gemuk di atas tadi. Lina hanya tersenyum melihat ironi ini.


"Wah... Wah... Siapa yang kau bawa ini Daniel? Apa dia orang yang kau maksud untuk menemaniku bermain? Jujur saja babi gemuk di atas itu sungguh membosankan," kata Lina menyipitkan matanya melihat Rylie.


"Kau sudah bermain dengan babi gemuk?" tanya Daniel yang tidak tahu babi gemuk mana yang di maksud Lina.


"Sudah kuduga kau menipuku!! Daniel ternyata benar kekasihmu!" bentak Rylie.


"Apa yang sudah kau katakan padanya, sayang?" kata Daniel dengan nada mengodah.


"Berhentilah menunjukan ekspresi itu!" Lina memalingkan muka dengan kesal dan sedikit memerah. "Ada apa dengan pria ini? Kenapa ia mulai sering menggoda? Aah.... Wajah tampannya tidak mau hilang dari pikiranku."

__ADS_1


"Kenapa kau jadi malu?" Daniel mendekati Lina lalu berbisik. "Bukankah kau menyukainya?"


Seketika wajah Lina bertambah merah seperti tomat. Lina merasakan ada aliran panas naik begitu cepat ke atas kepalanya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Jantungnya kini berdegup kencang tak beraturan.


"Dasar kau Daniel!! Kenapa kau berbicara seperti itu?!!" pekik Lina dalam hati.


"Berhentilah menunjukan cinta kasih kalian padaku!!" bentak Rylie lagi tidak tahan melihat kemesraan mereka. "Daniel kau sungguh keterlaluan!!! Kenapa kau membunuh adikku begitu keji? Apa salahnya?"


"Salahnya? Aku rasa aku harus mengingatkan padamu lagi kalau adik mu itu telah lancang menaruh obat perangsang ke minumanku!" kata Daniel dengan tatapan seketika menajam melihat Rylie.


"Obat perangsang?" Lina jadi teringat hari dimana mereka pertama kali bertemu. Jadi ini ulah adik Rylie yang membuat Lina kehilangan keperawanannya dan terjebak bersama Daniel sampai sekarang.


"Memangnya kenapa kalau dia melakukan itu? Dia mencintaimu! Kau tidak bisa membunuhnya begitu saja karna ia mencintaimu, bukan?" air mata mengalir di pipi Rylie.


Tiba-tiba satu buah anggur melesat cepat menerobos tenggorokan Rylie, membuat ia tersedak sampai terbatuk-batuk.


"Kau tidak bisa mencari alasan karna cinta untuk berbuat salah," kata Lina sambil berjalan mendekati Rylie. "Mencintai seseorang itu memang tidak salah tapi cara adik mu itu memang pantas mati!" tekan Lina dengan tatapan tajam.


Daniel mulai tersenyum melihat Lina telah memperlihatkan karakter aslinya. Gadis ini seketika berubah menjadi lebih mendominasi lawannya. Daniel semakin penasaran apa yang akan dilakukan gadis ini selanjutnya.


"Apa maksudmu?" Lina semakin bingung dengan kata-kata Rylie.


"Jangan berpura-pura lagi."


"Berpura-pura? Aku berpura-pura di mananya? Bisakah kau menaruh sedikit kepercayaan pada setiap kata-kataku?" pikir Lina.


"Daniel, apa kau pikir pacarmu ini sangat bersih? Apa kau tahu yang dimaksud bermain dengan babi gemuk seperti dikatakannya barusan? Kau tidak bertanya-tanya kenapa pakaiannya telah berubah? Itu karna ia telah bercinta dengan bos besar dari sebuah perusahan parfum yang terkenal di ibu kota! Seorang pria gemuk yang sangat suka bermain dengan banyak gadis. Ia tidak sebersih yang kau pikirkan Daniel. Bukankah dia jauh lebih pantas mati!!" oceh Rylie panjang lebar.


"Ffpp.... Hahaha........... Haha..... Aduuh....... Kau membuatku sakit perut. Hahaha............." tawa Lina terbahak-bahak mengisi ruangat itu.


"Apa... Apa yang lucu?" Rylie benar-benar terkejut melihat Lina yang tertawa begitu lucunya.


"Hahaha............ Bermain, cinta. Hahaha......... Kau sungguh lucu. Haha........" Lina tidak bisa berhenti tertawa sampai mengeluarkan air mata.


"Tuan muda, ini..." kata salah satu bawahan Daniel.

__ADS_1


"Kucing kecil..." panggil Daniel membuat Lina menoleh.


"Hah? Apa?" Lina menyekat air mata diujung matanya. "Oke, oke, aku tidak akan tertawa lagi. Ffpp..." Lina sedikit kesulitan menahan untuk tidak tertawa lagi. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


"Tuan muda," seorang bawahan Daniel menerobos masuk ke ruangan itu. "Ditemukan pria gemuk yang tewas di kamar 103. Keadaannya sungguh sangat mengenaskankan. Saya sudah bertanya pada seluruh anggota tapi tidak ada satupun di antara mereka yang melakukannya."


"Jangan khawatirkan itu. Saya sudah tahu pelakunya. Kembalilah berkerja," kata Daniel.


"Baik tuan muda," pria itu berlalu pergi.


"Tidak mungkin. Si, siapa yang telah berani membunuhnya?" Rylie sungguh tidak percaya atas apa yang baru saja di dengarnya. Ia seketika langsung melirik Lina.


"Bermain yang aku maksud sangat jauh berbeda dengan bermain yang kau maksud. Akan ku tunjukan apa itu yang kusebut bermain," tatap tajam Lina membuat Rylie merinding. "Ada belati?"


"Ambil ini," Daniel menyodorkan sebuah belati cantik nan tajam miliknya. Belati itu begitu indah dengan hiasan permata dan berukir emas.


"Tajam sekali," Lina terlihat terpesona begitu menerima belati tersebut. "Terlalu tajam, tidak cocok untukku," Lina melemparkan belati itu ke belakang tubuhnya.


"Apa?!! Itu adalah salah satu senjata dari koleksiku. Berani sekali kau membuangnya begitu saja," kata Daniel. Ia sungguh tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran gadis kecil ini.


"Itu tidak cocok sebagai alat mainku. Terlalu tajam."


"Bukankah seharusnya begitu? Semakin tajam semakin baik."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2