
"Kalimat yang indah," kata Daniel yang tiba-tiba memeluk Lina dari belakang.
"AAAH ! !" teriak Lina kaget. "Kau ini seperti hantu saja, muncul tiba-tiba."
"Itu untuk pagi tadi."
"Kau balas dendam padaku?"
"Jika itu menurutmu."
Dengan cemberut Lina mengambil sepotong kue jahe lalu memasuknnya ke dalam mulut Daniel. "Hah, bagaimana kau membalas itu sekarang?"
"Mudah," Daniel berpindah ke depan, mengambil kue jahe dan memasukan itu ke dalam mulut Lina. "Terbalaskan."
Dengan kesal Lina memukul-mukul Daniel. "Kalau sekarang?"
"Hei, itu curang. Masa iya aku memukul anak SMA."
"Apa?!! Siapa yang kau bilang anak SMA?" Lina kembali memukul Daniel.
"Oke, oke. Bukan anak SMA tapi melainkan anak SMP."
"Dasar kau sengaja membuatku kesal."
"Ampun... Ada kucing galak."
Ducan hanya mengeleng melihat kelakuan Lina dan Daniel. "Aku tidak menyangka kalian berdua memiliki sisi anak-anak seperti ini. Bagaimana jadinya kalau media tahu soal ini? Seorang Daniel yang dikenal dingin bisa menjadi anak kecil di hadapan istrinya."
"Siapa mengira kalau putrimu sangat mengemaskan. Aku benar-benar tidak tahan menggodanya," kata Daniel melirik Lina yang cemberut. "Lihat kan, apa lagi dengan wajahnya seperti ini," Daniel mencubit kedua pipi Lina dengan gemas.
"Aah.... Lepaskan aku. Sakit tahu!"
"Haha... Kau benar Daniel. Wajahnya sungguh membuat orang tidak tahan untuk mencubitnya," Ducan mencubit sekali wajah Lina.
"Bahkan ayah juga," Lina mengusap kedua pipinya yang sakit.
"Ehem, tuan muda. Saya disini ingin menyampaikan kalau saya telah berhasil membuka data komputer tersebut," kata Qazi.
"Lalu apa yang kau dapat?" tanya Daniel sambil membetulkan posisinya.
Qazi mengeluarkan leptop dari tasnya dan mulai menyalakannya. "Hampir semua data itu berisi tentang data perusahaan. Cuman saya menemukan kalau Tn Stevan merupakan calon kandidat terkuat untuk pemilihan kepalah keluarga tersembunyi saat ini. Hal itu dikarnakan pencapaiannya dalam salah satu bisnis keluarga meningkat pesat," Qazi menyodorkan leptopnya pada Daniel untuk memperlihatkan grafik dan kurva pertumbuhan.
"Itu berarti kemungkinan Tn. George yang ingin mendapatkan Token rumah lelang. Sebagai putra pertama pastinya ia tidak terima menjadi kandidat kedua dari adiknya," kata Ducan mengutarakan pikirannya.
"Bisa jadi. Dengan mengandalkan kekayaan rumah lelang ia bisa menjatuhkan adiknya," ujar Daniel.
__ADS_1
"Tapi bukankah Tn. George ada diluar negeri?" tanya Lina yang ragu.
"Dia memang dikenal jarang ada di dalam negeri. Urusannya di perusahaan membuat ia harus pergi ke berbagai negara. Namun menurut informasi yang di dapat anak buah ku, sebenarnya Tn. George sedang membentuk kekuatan di luar negeri."
"Tidak salah lagi. Untuk membentuk sesuatu kekuatan yang besar memerlukan dana yang besar pula."
"Kita harus melakukan persiapan dengan matang. Disaat mereka siap menyerang, kita juga lebih siap melawan."
"Aku telah meningkatkan kekuatan seluruh anggota ku selama ini. Akan kubalaskan dendam Ariana berkali-kali lipat," geram Ducan sambil mengepalkan tangan.
"Anggota Black Mamba juga akan ikut membantu. Disaat mereka memakan umpan, kita serang mereka bersama-sama."
"Aku mau ikut," kata Lina.
"Tidak! Kau tidak boleh ikut," jawaban Daniel dan Ducan serempak.
"Kenapa?"
"Karna kami tidak mau kehilanganmu," kata mereka serempak lagi.
"Tumben kompak," gumang Lina.
"Dalam kondisimu seperti ini mana mungkin aku membiarkan mu ikut ke tempat berbahaya seperti itu," kata Daniel melarang.
"Itu benar. Sebaiknya kau tunggu saja di rumah, duduk santai dan biarkan kami yang membereskan semua ini."
"Tapi kucing kecil..."
"Tidak ada tapi. Apa kalian lupa kalau aku seorang Master ahli racun? Dengan racunku, aku dapat membunuh siapa saja yang berani melukai keluargaku. Lagi pula aku sudah berlatih menembak dan ilmu bela diriku tidak lebih buruk dari kalian. Jangan khawatir, mereka tidak mungkin dapat melukaiku. Aku mohon izinkan aku ikut, kalau tidak... Aku akan menyelinap!!" ancam Lina.
"Woi, woi, baiklah, baiklah. Kau boleh ikut. Tapi berjanjilah kau tidak boleh terluka sedikitpun. Aku akan menempatkan beberapa anak buah ku untuk melindungi mu."
"Tidak perlu banyak-banyak. Cukup Emma dan Judy saja."
"Emma dan Judy?"
"Percayalah padaku dan percayalah pada mereka dapat melindungi ku. Aku punya cara untuk memperlemah kekuatan lawan sampai 50% atau bahkan bisa lebih."
"Jenis racun apa kali ini yang akan kau gunakan?" tanya Daniel penasaran.
"Bukan sesuatu yang istimewa. Tapi pastikan semuanya mengenakan masker anti gas beracun disaat penyerangan nanti."
"Baiklah, sesuai perintahmu Yang mulia."
"Tidak seharusnya aku meremehkan putriku sendiri. Oh, iya. Aku ingin tahu racun apa yang kau berikan pada Robert? Tidak ada satupun dokter di rumah sakit itu yang menemukan kandungan racun pada tubuhnya."
__ADS_1
"Sebagai sepupuku tentunya aku memberi dia kehormatan untuk mencoba salah satu jenis racun kesayanganku yaitu racun Foxglove. Sudah muncul gejala apa pada dirinya?"
"Soal itu, kelima fungsi indra nya menghilang dan ia mengeluh merasakan sakit perut."
"Besok dia akan lebih menderita lagi. Ia akan merasakan sakit yang teramat sangat di seluruh organ tubuhnya, dan Lusa siap-siap untuk pemakaman nya."
"Racun yang mengerikan. Robert sungguh sial bertemu denganmu."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Tok! Tok! Tok!
Ducan mengetuk pintu kamar Violet lalu memutar knop pintu. Di dalam terlihat Violet masih meringkuk di atas tempat tidur menahan sakit.
"Violet, bagaimana keadaanmu?" tanya Ducan sambil mendekati tempat tidur. Ia mengambil tempat duduk di tepi ranjang.
"Seperti yang ayah lihat. Perutku semakin sakit. Rasa sakitnya lebih para dari bulan lalu. Obat yang diberikan dokter sama sekali tidak membantu," kata Violet dengan susah payah.
"Ini, ayah sudah pintakan obat penawarnya dari Lina," Ducat menyerahkan botol putih kecil itu pada Violet. "Ada dua pil disini tapi kau cukup minum satu. Untuk yang satunya kau minum saat sakit mu kambuh lagi."
"Terima kasih," Violet menerima botol itu kemudian langsung menelan satu butir pil yang ada di dalamnya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Ducan sambil menyodorkan segelas air putih.
Violet menerima gelas itu dan meneguk habis airnya. "Huh... Merasa lebih baik, walau masih sedikit sakit."
"Perlahan-lahan juga akan hilang."
"Kenapa ayah lama sekali?"
"Eh... Iya, kau tahu... Tidak mudah membujuk Lina untuk memberikan obat penawar itu," kata Ducan mencari alasan.
"Dasar gadis kampung itu!! Dia pasti senang melihat aku menderita seperti ini! Lihat saja nanti, aku pasti membalasnya berkali-kali lipat!" kata Violet dengan geramnya
"Sudahlah, ini juga salahmu yang tidak bisa berbuat apa-apa padanya. Lebih baik kita turun untuk makan malam," Ducan bangkit dan beranjak keluar dari kamar disusul Violet di belakangnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε