
Telpon dimatikan. Tak berselang lama, satu pesan yang masuk ke hpnya. Itu adalah data berserta lokasi yang menjadi targetnya saat ini.
Nama : Dinzo
Usia : 43 tahun
Pekerjaan : tidak tercatat
Alasan : Gagal menjalankan misi dan sudah tidak berguna lagi.
Lokasi : Hotel Tiffany, lantai 6, No kamar 354.
"Ini sangat mudah. Suatu misi yang biasa aku terima. Tn. Dinzo ini malang sekali nasipnya."
Marjorie mengeringkan rambutnya dan berpakaian. Ia mulai bersiap-siap menjalankan tugas dari bosnya yang sebenarnya. Setiap menjalankan misi, Marjoriet tidak perna mempertanyakan alasan apapun selain dari informasi yang didapatnya dari data yang dikirimkan padanya. Ia tidak peduli apa atau mengapa harus melenyapkan orang tersebut. Menjalankan misi sesuai arahan adalah yang terpenting. Tidak peduli misi tersebut terkadang tidak masuk akal baginya.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Karna masalah yang terjadi di mall membuat Julia, Wendy dan Febby sedikit terlambat bersiap-siap pergi ke pesta pejamuan yang diadakan paman Rica. Awalnya Wendy dan Febby engan untuk pergi. Kejadian siang tadi masih menghatui mereka, namun karna tidak enak hati dengan Julia yang sudah merogoh kocek sangat dalam untuk membelikan gaun serta perlengkapan ke pesta membuat mereka mengubur dalam-dalam ingatan mencekap tersebut. Mereka berperilaku seolah-olah semua itu tidak perna terjadi.
Julia yang mengetahui hal ini sebenarnya tidak memaksa Wendy dan Febby untuk ikut. Tapi mereka bersekeras mengatakan kalau mereka baik- saja dan telah melupakan hal itu. Jam 19.00 mereka bertiga berangkat dari vila milik Samuel menuju restoran Moon. Kembali dari mall Julia memang menyarankan untuk langsung mengunjungi vila ketimbang pulang ke asrama sekolah begitu mengetahui pestanya diadakan di restoran Moon. Kali ini mereka diantar oleh sopir pribadi Samuel ke pesta perjamuan.
Di restoran Moon, tempat diadakannya pesta, semua tamu undangan telah berdatangan. Sebagai tuan rumah yang baik, Zack menyambut kedatangan tamu-tamunya secara langsung. Gloria dan suaminya juga tidak tinggal diam. Mereka menebar senyum pada semua orang yang hadir malam ini.
"Rica, dimana adikmu, Nisa?" tanya Tn. Pinkston.
"Dia masih ada di atas. Ayah tahu sendiri 'kan Nisa itu pemalu jika bertemu orang banyak."
"Tapi ia tidak bisa terus seperti ini, selalu bersembunyi. Panggil dia turun!" perintah Tn. Pinkston pada Rica.
"Sudahlah sayang. Jangan marah begitu. Nisa pasti memerlukan waktu sebentar lagi. Aku sendiri nanti membujuknya turun saat acaranya dimulai," bujuk Gloria menenangkan suaminya.
"Baiklah. Aku percayakan dia padamu."
"Kau tidak perlu khawatir."
"Tn. Pinkston, Ny. Pinkston, selamat malam," sapa Tn. Gelael sambil berjalan menghampiri bersama sang istri.
__ADS_1
"Tn. Gelael, Ny. Gelael, sudah lama tidak bertemu," Tn. Piskston menjabat tangan Tn. Gelael dengan hangat. "Saya turut prihatin atas apa yang terjadi siang ini. Saya dengar anda mengalami kerugian yang terbilang cukup besar."
"Iya. Tapi, walaupun begitu saya bersyukur tidak ada korban jiwa selain para penyandera itu yang telah ditemukan tewas. Pihak polisi sedang mendalami kasus ini," jelas Tn. Gelael.
"Semua ini berkat dua orang misterius itu yang telah menyelamatkan putraku dan juga sandera yang lainnya. Aku teringin sekali bertemu langsung dengan mereka," sambung Ny. Gelael.
"Mungkin mereka menyamar diantara para sandera?" kata Tn. Pinkston menebak-nebak.
"Tidak ada yang tahu pasti. Mereka hilang seperti ditelan bumi."
"Peristiwa itu benar-benar menegangkan. Saya yang menontonnya di tv saja dibuat begidik ngeri, apalagi bagi yang mengalaminya secara langsung. Kalau tidak salah, ada ledakan bom juga yang terdengar di dalam mall?" tanya Ny. Pinkston memastikan.
"Ada empat bom yang ditemukan. Tiga diantaranya meledak dalam kurun waktu tidak berjauhan. Naman anehnya, bom yang paling besar sudah dijinakkan sebelum bom lainnya meledak. Para polisi juga bingung dengan hal ini karna tidak ada satupun dari para sandera yang tahu tentang bom tersebut. Dan lagi bom tersebut termasuk ke dalam jenis bom yang sulit dijinakkan."
"Rica!" panggil Alwen yang baru datang bersama Sean.
"Alwen, Sean, akhirnya kalian datang juga," kata Rica balik menyapa.
"Maaf ya, kedua orang tuaku tidak bisa datang. Harap maklumlah orang tuaku cukup sibuk beberapa hari ini," kata Alwen.
"Tidak apa-apa, dari pada Delfa yang tidak bisa datang sama sekali."
"Dia tiba-tiba jatuh sakit. Tubuhnya panas sekali. Sore tadi aku menjenguknya di rumahnya."
"Kami baru tahu itu."
Dikeasikan mengobrol, Rica, Sean dan Alwen sedikit teralikan oleh orang-orang yang saling berbisik antara satu sama lain. Mereka segera tahu siapa yang menjadi bahan perbincangan begitu melihat seorang pria mengenakan setelan jas biru gelap melangkah masuk. Dia adalah Yusra.
"Bukankah itu tuan muda Arlo."
"Dia juga diundang ke pesta ini."
"Wah... Hebat. Ternyata Tn. Zack juga memiliki hubungan baik dengan keluarga Arlo."
"Aku dengan keluarga Arlo masuk peringkat teratas keluarga paling berpengaruh tahun ini."
"Iya."
__ADS_1
"..."
Dan beberapa ucapan lainnya yang dilontarkan para tamu undangan.
"Sungguh sebuah keberuntungan tuan muda Arlo datang ke pesta kecil kami," ucap Zack yang tidak tahu kalau tuan muda Arlo datang ke pestanya.
"Saya datang kesini atas undangan dari nona Rica," jawab Yusra.
"Yusra, terima kasih sudah berkenanan hadir. Aku senang sekali," dengan riang Rica menghampiri Yusra.
"Kau cantik sekali malam ini," puji Yusra.
"Aah... Kau membuatku malu," mendengar itu membuat pipi Rica merona.
"Bagaimana bisa aku kenal dengan tuan muda Arlo, Rica?" tanya ibunya sambil berbisik pada putrinya.
"Ia adalah siswa tahun ajaran baru disekolah Anthony dan tentunya satu asrama denganku," jelas Rica.
"Oh... Kau memang hebat keponokanku dengan mengundangnya datang kemari," puji Zack pada Rica.
"Aku mengatakan kalau paman punya kenalan dari anggota Black Mamba. Sebab itu ia bersedia datang kesini."
"Baiklah. Aku akan perkenalkan dia pada Norman. Mungkin dengan begini koneksiku semakin bertambah."
Tapi tak berselang lama kehebohan para tamu undangan tiba-tiba berubah. Mereka semua dibuat terpesona oleh kedatangan tiga orang wanita yang dengan penuh percaya diri datang ke pesta tersebut. Tidak hanya itu, Alwen, Sean dan Yusra pun ikut tidak bisa dibuat berkata-kata saat melihat mereka. Julia, Wendy dan Febby melangkah masuk bak model di lantai catwalk.
Julia mengenakan gaun hitam berhiaskan ratusan manik-manik yang begitu indah memantukan cahaya lanpu. Gaun yang memperlihatkan bahu itu sangat pas mengikuti lekuk tubuhnya dengan rok brokat mengembang diatas lutut namun memanjang di bagian belakang. Sepatu hak tinggi berwarna senada dan tak lupa membawa tas jinjit dari brend internasional. Untuk gaun yang dikenakan Wendy dan Febby memiliki model yang hampir serupa dengan Julia, yang membedakan cuman dari segi warna. Gaun Wendy berwarna cream muda, sedangkan gaun Febby berwarna lavender.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε