
...Hai semuanya...π€...
...Novel "Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia" kembali berlanjut. Kali ini ceritanya akan lebih berfokus pada Julius dan Julia semasa SMA. Mau tahu keseruannya seperti apa? Kenakalan Julia dihari pertama yang sudah membuat Julius repot. Belum lagi pertemuan Julius dengan seorang kenalan yang ia rindukan. Siapa Lady Blue yang menjadi penjahat utamanya kali ini? Yuk ikuti ceritanya dan cari tahu jawabannya disetiap episode....
...ββββββββββ...
Sepuluh tahun kemudian. Di dapur yang berantakan, dua kakak adik saat ini sedang bertengkar hebat karna masalah sepeleh.
"Kakak salah! Seharusnya kocok telur dan batter menggunakan mixer dulu, baru masukan tepung terigu nya," bantah Adelia pada kakaknya.
"Tidak! Ini sudah benar. Batter dan gula dulu yang dimixer, baru tambahkan telur dan tepung terigu secara bertahap."
Julia tetap pada caranya. Ia menyakini kalau caranya lah yang paling benar. Julia meraih semua bahan dan hendak membuat cupcake tersebut sesuai caranya, namun Adelia merebut semua bahan-bahan itu. Ia tidak yakin kalau cara kakaknya adalah yang paling benar.
"Aah.... Berikan padaku! Biarkan aku yang membuatnya. Kakak tidak bisa," teriak Adelia sambil menarik mangkuk berisi tepung terigu.
"Kau lah yang tidak bisa! Aku lebih tua darimu, jadi aku yang lebih paham cara pembuatannya," Julia tentunya tidak mau mengalah.
"Aku sering melihat di internet cara pembuatannya, jadi aku tahu betul cara membuat cupcake itu!"
"Aku lebih sering melihat mama membuatnya secara langsung. Aku lah yang lebih paham!"
Aksi tarik-menarik itu terus berlanjut. Tidak ada satupun diantara mereka yang mau mengalah, sampai... Tiba-tiba mangkuk itu terlepas dari tangan mereka, terpental ke belakang Julia. Hal hasil tepung yang ada dalamnya berhamburan keluar menghujani mereka yang telah terduduk di lantai.
"Adelia, Julia, apa kalian sudah selesai?"
"Mama awas!!"
Teriak mereka memperingatkan disaat melihat mama mereka melangkah masuk ke dapur. Namun sudah terlambat. Mangkuk yang masih menyisakan tepung di dalamnya mendarat tepat di atas kepala Lina. Senyap sebentar. Julia dan Adelia berdiri dan hendak kabur sebelum gunung meletus di depan mereka.
"Jangan berpikir untuk melarikan diri," kata Lina dengan tekanan yang sangat kuat.
Lina melepaskan mangkuk dari kepalanya. Ia tersenyum sambil menatap tajam pada putri-putrinya yang manis. Dengan tubuh bermandikan tepung, Adelia dan Julia saling berpelukan. Tubuh mereka gemetar ketakutan melihat tatapan tajam dari mama mereka.
"Tamatlah sudah riwayat kita, kak."
__ADS_1
"Aku menyayangimu adikku. Semoga kita dapat selamat dari amukan kucing manis ini."
"Jadi, bisa kalian ceritakan apa yang terjadi?" tanya Lina sambil berjalan mendekat.
"Eh... I, ini..." dengan terbata-bata mereka mencari alasan agar tidak dimarahi mamanya.
"Salah kakak!" kata Adelia spontan. Ia melepaskan pelukannya lalu menunjuk Julia. "Kakak yang sok-sokan bisa membuat cupcake."
"Apa?! Kenapa kau menyalahkan ku? Kau itulah yang tidak bisa membuatnya dan merebut tepung itu dariku!" kata Julia membela diri.
"Memang benar kok. Semua masakan yang kakak buat selalu tidak enak."
"Katakan sekali lagi kalau berani?!!" Julia mulai geram dan mengepalkan tinjunya pada Adelia.
"Uhu... Kak tak pandai masak. Kak tak pandai masak," ejek Adelia semakin memancing Julia.
"Awas saja kau Adelia!!" bentak Julia sambil berlari mengejar adiknya yang telah kabur duluan.
"Hah... Sudah aku duga akan jadi seperti ini jadinya. Untung aku tidak mempercayakan kue itu pada mereka."
"Adududuuuh.....! Sakit! Maafkan kami ma," teriak mereka berdua kesakitan disaat telinga mereka ditarik.
"Masih mau bertengkar lagi?" Lina melepaskan Julia dan Adelia.
"Ampun. Kami tahu salah. Kami tidak akan buat lagi. Maafkan kami," kata mereka memohon ampun sambil menggosok telinga mereka yang merah.
"Papa kalian sebentar lagi pulang. Lebih baik kalian kembali ke kamar, bersihkan semua tepung ditubuh kalian dan ganti baju."
"Baiklah," kata mereka serempak dan masih tertunduk.
"Em, bagaimana dengan cupcakenya? Kami belum buat satupun," tanya Julia.
"Serahkan saja semuanya pada mama."
Julia dan Adelia kembali ke kamar mereka masing-masing mengikuti perintah mama mereka. Setelah mandi dan mengenakan pakaian yang mama mereka ambil di butik beberapa menit sebelumnya, Adelia dan Julia turun menemui Julius dan Adelio yang masih mendekorasi ruang utama. Sedangkan Lina saat ini sedang menghias cupcake yang baru di dinginkan. Lina sengaja melakukan semua ini sendirian tanpa bantuan pelayan karna hari ini adalah hari spesial untuknya dan Daniel.
__ADS_1
Dimalam pada tanggal yang sama 16 tahun yang lalu, Lina dan Daniel bertukar cincin dan mengucapkan janji suci cinta semati mereka. Lina berencana memberi kejutan untuk Daniel sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 16 tahun. Sudah sejak kemarin ini Lina bersama putra-putrinya membuat skenario agar Daniel dilanda kesialan. Lina bahkan melibatkan seluruh stap di perusahaan agar Daniel lebih stres lagi. Untuk kabar terbaru sore ini, Daniel benar-benar telah marah besar pada seluruh stap bawahannya. Daniel bahkan mengancam untuk memecat seluruh bawahannya yang bermasalah sedikit saja.
Selesai menyelesaikan cupcake, Lina kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ia mendapat kabar dari sopir pribadi Daniel kalau mereka sudah dalam perjalanan pulang. Lina tentu memberitahu kabar ini pada semua sebelum menuju kamarnya. Mereka semua secepatnya menyelesaikan dekorasi, kemudian Julius mematikan lampu. Tinggal menunggu aba-aba kepulangan Daniel. Tak berselang lama orang yang ditunggu akhirnya pulang juga.
"Kenapa rumah jadi gelap begini?"
Daniel dibuat kebingungan dengan kondisi rumahnya yang gelap gulita. Tapi sebelum Daniel menyadari semuanya, Julius segera menyalahkan kembali lampu.
"Selamat hari ulang tahun pernikahan!!"
Teriak Julius, Julia, Adelio dan Adelia bersamaan dengan balon berwarna berjatuhan dihadapan mereka. Daniel tidak bisa berkata apa-apa. Semua kekesalan dan amarahnya dari kemarin sampai sore ini menguap seketika. Sepanduk bertuliskan 'Ulang tahun pernikahan Daniel dan Veliana yang ke 16 tahun' lengkap dengan foto pernikahan mereka yang pertama terbentang di dinding berhiaskan balon dan rangkaian bunga. Tepat dibawahnya tersusun foto-foto kenangan mereka selama 16 tahun ini.
"A, aku tak tahu harus bilang apa. Ini benar-benar mengejutkanku."
"Simpan dulu rasa keterkejutan papa. Ini baru awal dari semuanya," Adelio menyerahkan paper bag pada papanya.
"Sebaiknya sang raja bersiap-siap lah dulu agar tampak tampan jika ingin bertemu dengan sang ratu," Adelia mendorong papanya agar cepat-cepat mengenakan pakaian yang telah dipersiapkan.
"Iya, tidak baik membuat sang ratu menunggu."
.
.
.
.
.
.
ΞΎΞΊΟΞ±Ξ΅
__ADS_1