Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Masih ada kartu yang tersisa


__ADS_3

"AAW!!" rintih Gerda begitu Hans menarik rambutnya ke belakang.


"Dasar tidak tahu di untung. Selama hampir dari dua tahun ini Aku sudah membuat mu merasakan kehidupan mewah sebagai tuan putri tapi ini balasan yang aku terima!" Hans membenturkan kepala Gerda ke tembok sampai kepalanya terluka.


"Itulah yang memang seharusnya kau dapatkan!"


"AAH!!!" dengan marahnya Hans membanting tubuh Gerda ke lantai. "Kau itu cuman gadis miskin yang tidak tahu malu! Seharusnya aku sudah membunuh mu sejak lama."


"Bunuhlah aku, karna aku memang pantas mendapatkannya. Aku telah bersalah pada ibuku dan aku bersalah pada temanku. Tapi aku sama sekali tidak merasa bersalah karna telah menggagalkan seluruh rencanamu!"


"Apa kau pikir kau sungguh telah menghancurkan seluruh rencanaku? Andai kau tahu saja, aku memiliki sejumlah bawahan yang hanya tunduk padaku. Saat ini mereka sedang menyerang rumah lelang dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Dengan semua kekacawan dikediaman, keluarga tersembunyi tidak akan sempat mempertahankan harta karun terbesar mereka. Rumah lelang itu akan menjadi milikku."


"Aku rasa tidak," kata Julia yang telah berdiri di depan pintu.


Mendengar itu membuat Hans menoleh. "Tidak aku sangkah ternyata kau masih sanggup ke atas sini setelah kehilangan banyak darah itu. Sungguh gadis yang tangguh."


"Lepaskan temanku!"


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"


"Maka kau akan kehilangan semua yang kau miliki."


"Hahaha.... Jika kau datang ke sini cuman sekedar membuat lelucon, sebaiknya pergi saja. Aku tidak akan kehilangan apapun, malahan kau lah yang akan kehilangan segalanya."


"He, Satu hal yang kau lupa tentang kami, yaitu aku masih memiliki adik."


"Hah! Apa yang bisa dilakukan anak-anak kecil seperti mereka?"


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Dikediaman keluarga tersembunyi. Pertempuran yang sengit telah berhenti. Tidak ada lagi suara tembakan dan darah atau nya yang menghilang. Kelompok Dragon telah beranjak pergi dari kediaman dengan sisa anggota mereka. Beberapa orang yang terpaksa menjadi korban malam ini segera di evakuasi dan dipersiapkan acara pemakaman nya. Hal yang lumbra terjadi di dunia bawah tanah. Nyawa seseorang seperti tidak berati demi kepentingan pribadi dan kerakusan akan dunia ini. Bala bantuan yang sempat dihubungi telah diminta kembali ke markas masing-masing.

__ADS_1


Semuanya telah berakhir, begitu menurut mereka. Daniel dan Lina baru saja hendak pamit pada kepalah keluarga tersembunyi dibuat kembali tegang begitu mendapat panggilan dari Joe. Kabarnya rumah lelang Rad Krisan tiba-tiba diserang penyusup. Pengamanan di rumah lelang memang sangat terjaga. Tidak sembarangan orang dapat masuk ke ke ruangan rahasia atau ingin mengambil alih secara paksa. Namun tetap saja para penyusup ini telah mengganggu aktivitas perhotelan berserta Casino. Mereka bahkan berani merusak barang-barang dan membuat takut para pengunjung. Hal ini bisa berdampak kerugian bagi rumah lelang Red Krisan.


Setelah mendapat kabar tersebut, Daniel dan Lina bergegas menuju rumah lelah. Mereka ingin sekali tahu siapa yang telah berani membuat kekacauan disana. Beberapa saat kemudian, mobil yang Daniel kendarai perlahan memasuki halaman depan rumah lelang. Daniel dan Lina dibuat bingung dengan kesunyian yang mereka dapat begitu mereka keluar dari mobil. Tidak ada suara kebisingan yang biasa terdengar dari riuhnya pengunjung Casino. Tepat di depan pintu Daniel dan Lina melihat bekas tembakan yang menembus kaca pintu utama. Dengan pikiran bertanya-tanya mereka melangkah masuk. Lina dibuat kaget melihat keadaan di dalam Casino tersebut. Semuanya berantakan dan porak-poranda tidak karuan. Lampu gantung berukuran sangat besar yang biasanya menghiasi langit-langit Casino kini telah terjatuh dan merusak apa saja yang ada di bawahnya. Tempat itu sekarang seperti baru saja di terjang angin topan.


"Astaga, apa yang terjadi? Semuanya hancur tak bersisa. Seberapa banyak orang yang menyerang tempat ini?" dengan hati-hati Lina berjalan diantara puing-puing meja permainan. "Butuh biaya yang lumayan besar untuk mengembalikan Casino ini seperti semula."


"Kita cari tahu dulu siapa yang telah melakukan semua ini dan minta dia mengganti rugi seluruh kerusakan yang ada. Tapi dimana mereka sekarang? Kenapa sendari tadi kita tidak melihat satu orang pun disini?"


"Aku akan coba hubungi Joe."


"Mama!" panggil Adelia sambil menuruni tangga.


Adelia tidak sendirian, ia menggandeng seorang bocah laki-laki. Bocah itu adalah Arya, putra pertama Qazi dan Judy. Tidak jauh dibelakang mereka, Judy dan Emma juga melangkah turun menyusul Adelia dan Arya.


"Judy, Emma, apa yang kalian lakukan disini? Bukankah aku meminta kalian menjaga Adelia dan Adelio di rumah?" tanya Lina.


"Kami mendapat kabar kalau rumah lelang di serang penyusup..."


"Ini pasti idemu yang meminta untuk kesini, bukan?" tebak Lina sambil melirik pada Adelia.


"Apa salahnya?" ujar Adelia dengan senyuman.


Lina tidak bisa marah begitu melihat senyum itu. "Hah... Mama sudah sering bilang untuk tidak bertindak sendirian."


"Aku tidak sendiri. Bibi Judy dan bibi Emma ada bersamaku."


"Dimana adikmu, Adelio?" tanya Daniel pada Adelia.


"Oh... Mungkin masih di atas."


"Apa yang dilakukannya sendirian di atas?"

__ADS_1


"Dia tidak sendirian. Ah, itu dia," tunjuk Adelia pada Adelio yang turun ditangga di depan mereka.


Daniel dan Lina menoleh ke arah yang ditunjuk Adelia. Mereka dibuat terpesona pada Adelio yang dengan kerennya turun dari tangga tersebut bersama seorang pria dibelakangnya. Walau masih muda tapi aura kepemimpinan yang terpancar darinya sungguh kuat. Benar-benar layak menjadi pemimpin kelompok Tasmania Devil selanjutnya.


"Apa semuanya sudah diperiksa?" tanya Adelio pada pria disebelahnya. Ia belum menyadari kehadiran papa dan mamanya.


"Semua anggota telah memberikan laporan mereka. Tidak ditemukan lagi penyusup di setiap sudut bangunan ini."


"Minta mereka menyelusuri di sekitar halaman rumah lelang. Pastikan semuanya benar-benar aman," perintah Adelio pada orang yang telah menjadi kepercayaannya.


"Siap, tuan muda," jawab pria itu.


Pria tersebut adalah putra kedua dari Tony, salah satu bawahan terpercaya Tn. Cershom. Namanya Osbert, berumur 17 tahun. Awal perkenalannya dengan Adelio setahun yang lalu, ia tidak mempercayai kesanggupan Adelio yang akan memimpin Tasmania Devil suatu hari nanti. Karakter yang terlalu pemalu baginya merupakan gambaran orang lemah. Namun disaat Adelio menunjukan sisi lain kepribadiannya yang jarang terlihat. Osbert seketika dibuat merinding dan tidak berani meremehkan nya lagi. Kemampuan Adelio dalam mengunakan berbagai senjata memang pantas diacungi jempol.


"Adelio," panggil Adelia membuat Adelio mengangkat wajahnya.


"Mama? Papa?" kata Adelia begitu sadar kehadiran kedua orang tuanya dihadapannya.


"Aah... Putraku sangat menawan. Kemari lah biar mama memelukmu," Lina berjongkok di depan Adelio lalu memeluknya. Tidak hanya itu, ia juga menciumi pipi Adelio berkali-kali.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2