Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kecemasan


__ADS_3

"Lady Blue bahkan mengetahui semua itu. Tidak. Aku harus mempertanyakan hal ini dengan jelas padanya," Marjorie memantapkan hatinya dan memberanikan diri untuk menanyakan hubungan Lady Blue dengan Julia. "Maaf sebelumnya. Pertanyaan ku kali ini sedikit lancang tapi aku sangat ingin tahu hal ini. Apa hubungan Lady Blue dengan Julia? Dari yang saya dengar anda sepertinya begitu mengenal Julia."


Lady Blue tersenyum begitu mendengar pertanyaan tersebut. "Kau sungguh ingin tahu?"


"Jika tidak keberatan."


"Sama sekali tidak. Julia sebenarnya merupakan teman lama ku."


"Apa?!" Marjorie tersentak kaget mendengarnya. Ia tidak menyangaka atas jawaban yang diberikan Lady Blue.


"Itu benar. Aku dan Julia telah berteman sejak lama. Tapi satu setengah tahun yang lalu ada satu alasan yang membuat kami harus terpisah. Sutt... Jangan beritahu dia soal ini ya. Suatu hari nanti aku ingin memberi kejutan untuknya dan mungkin aku akan minta tolong padamu. Jangan khawatir. Semua ini diluar dari misimu."


"Fiuhh... Ternyata aku yang berpikir berlebihan. Syukurlah kalau begitu," Marjorie menghembuskan nafas lega setelah mengetahuinya. "Baiklah. Aku akan melakukan apapun agar kalian bisa bertemu lagi."


"Gadis pintar."


"Apa tidak apa anda memberitahu Marjorie soal Julia yang merupakan teman lama anda?" tanya pengurus Hans yang baru saja datang menyajikan secangkir teh.


Lady Blue menyerumput tehnya lalu berkata setelah ia mematikan speaker pada hpnya. Hal itu untuk mencegah Marjoret menguping pembicaraan mereka. "Mau bagaimana lagi. Jika aku tidak berkata demikian, Marjorie akan memberontak melawanku. Misi yang sudah disiapkan berbulan-bulan bisa hancur berantakan karna dia."


"Saya mengerti."


"Oh, iya pengurus Hans. Apa pesawat pribadi sudah kau siapkan untuk penebanganku besok pagi? Akan gawat jika aku terlambat ke sekolah."


"Sudah. Nona tidak perlu khawatir akan terlambat besok."


"Baguslah. Kau bisa istirahat sekarang."


"Terima kasih nona. Saya undur diri dulu."


Setelah pengurus Hans pergi, Lady Blue kembali mengatifkan speaker hpnya. "Maaf percakapan kita sempat terputus sayang. Pengurus Hans tadi datang."


"Tidak seharusnya anda minta maaf. Sebagai bawahan anda saat ini sudah sewajarnya saya lah menunggu. Pekerjaan anda lebih penting."


"Ngomong-ngomong soal Julia, apa kabarnya hari ini?"


"Oh... Kabarnya sangat baik. Ia benar-benar lincah dan ceria. Tapi sewaktu ia tertangkap basa oleh kakaknya karna balapan, ia sempat muntah sore tadi."

__ADS_1


"Muntah?" Lady Blue sedikit terkejut mendengarnya. "Apa dia sedang sakit?"


"Lady Blue terdengar cemas disaat ia mengetahui hal ini. Sepertinya ia sangat peduli pada Julia," batin Marjorie. "Tidak. Julia muntah karna aroma dari parfum kakaknya yang terlalu menyengat. Itu saja."


"Oh, benarkah?" Lady Blue tersadar atas sikapnya yang barusan. "Em... Sebaiknya kau cepat tidur. Bukankah besok kau masih harus sekolah. Selama malam."


"Selamat malam."


Lady Blue memutup telponnya. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan mata menatap langit-langit. "Seperti Marjorie tidak tahu sama sekali tentang penyakit Julia. Hah... Kenapa hal ini terus mengganguku?"


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Keesokan paginya. Julia terbangun dari tidur lelapnya. Sambil menguap, ia meregangkan tubuhnya. Alih-alih terbangun di tempat tidurnya, Julia malah mendapati dirinya tertidur di sofa. Ia tidak terlalu ingat apa yang terjadi semalam dan bagaimana bisa ia kembali ke asrama. Setahunya semalam ia dan kakaknya menikmati pemandangan malam penuh bintang di bukit tapi ia malah ketiduran.


"Kau bangun juga akhirnya Julia," sapa Febby yang sedang menyisir rambutnya.


"Febby. Kapan kau pulang?" tanya Lina begitu tahu siapa yang mengajaknya bicara.


"Semalam, sekitar jam 22. Tapi kulihat kau sudah tidur. Aku tidak tega untuk membangunkan mu."


"Oh..."


"Bagaimana caranya ia bisa masuk ke asrama wanita? Bukankah laki-laki tidak diperbolehkan masuk kesini?" tanya Julia pada Nisa.


"Keadaan lorong sudah sepi disaat ia mengantarmu kembali. Itu memungkinkan kakakmu tidak ketahuan masuk ke asrama wanita."


Julia melirik ke kanan dan ke kiri begitu sadar ada satu orang yang kurang. "Ngomong-ngomong, dimana Wendy? Dia tidak kembali bersama denganmu, Febby?"


"Aku tidak melihatnya di bandara semalam. Aku pikir ia sudah di pesawat, tapi nyatanya sampai pagi ini aku belum melihatnya."


"Sejak semalam juga hpnya tidak bisa dihubungi, begitu juga pagi ini," Nisa melihat layar hpnya yang menujukan panggilan berulang yang ia lakukan semalam.


Brak!


Pintu kamar mereka tiba-tiba terbanting cukup keras yang membuat mereka bertiga menoleh. Tepat di depan pintu, dengan nafas terengah-engah Wendy melangkah masuk sambil menarik satu koper abu-abu. Ia mengambil tempat duduk disamping Julia untuk melepas lelah.


"Hosk... Hosk... Akhirnya sampai juga."

__ADS_1


"Wendy, kami baru saja membicarakan mu."


"Apa yang terjadi? Kau seperti buru-buru kesini," tanya Febby.


"Ah... Aku benar-benar sial. Semalam aku ketinggalan pesawat jadi aku mengejar penerbangan pagi tapi malah kesiangan, untung masih sempat ke bandara dan tidak ketinggalan pesawat lagi. "


"Ternyata itu sebabnya aku tidak melihatmu di bandara semalam. Kau ini ceroboh sekali Wendy."


"Hah... Aku pikir akan terlambat hari ini," nafas Wendy masih terdengar lelah. Ia menggapai kopernya lalu membukanya. "Oh, iya aku baru ingat. Aku bawakan oleh-oleh untuk kalian."


"Benarkah? Terima kasih Wendy," kata Julia, Nisa dan Febby serempak.


"Jeng-jeng... Empat guci mini masing-masing satu untuk kita semua. Aku harap kalian suka."


Wendy menyusun empat guci dengan warna hijau, biru, pink dan kuning di atas meja. Guci seukuran cangkir itu memiliki corak nama mereka masing-masing di badan gucinya.


"Wah... Ini lucu sekali Wendy," kata Julia. Ia mengambil guci berwarna biru.


"Iya, sungguh imut," Nisa mendapatkan guci berwarna pink.


"Aku sangat suka. Terima kasih Wendy," ucap Febby begitu menerima guci berwarna hijau.


"Aku senang kalau kalian menyukainya. Aku membelinya di pameran tembikar yang berada tidak jauh dari rumahku. Ada banyak sekali berbagai macam kerajinan tangan dari tanah liat yang dipamerkan disana. Awalnya aku ingin belikan kalian yang besar tapi aku bingung bagaimana cara membawanya, sebab itu aku pilih yang kecil."


"Kecil juga tidak apa, malah lebih imut."


"Itu benar, dan ada sesuatu yang bisa membuat guci kecil ini menjadi lebih cantik," Febby mengambil seluruh tangkai bunga lavender yang tersusun di dalam vas bunga di atas mejanya. Ia lalu membagi tangkai-tangkai bunga lavender tersebut menjadi empat rangkaian. "Kita bisa menepatkan bunga lavender ini di guci kita, maka dia akan menjadi vas bunga yang cantik."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2