Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Dia itu musuh atau kawan?


__ADS_3

"Itu pasti parfum dari wanita tadi. Sepertinya baunya melekat di jaket ku. Hachi!" Julius kembali bersin begitu mencium bau jaketnya sendiri. "Oh, astaga. Tenyata bau ini juga yang membuatku bersin. Wanita itu pasti telah memberi suatu obat di parfum nya sampai membuatku bersin dan Julia muntah begini."


Julius melepaskan Jaketnya lalu melemparkannya sejauh mungkin, terjun bebas ke bawah jurang yang ada di bawah sana.


"Julia, coba makan ini."


Marjorie memberikan sebuah pil kecil berbentuk bundar dan berwarna coklat pada Julia. Tanpa merasa curiga sedikitpun kalau Marjorie bisa saja memberi ia obat yang aneh-aneh atau lebih parah lagi adalah sebuah racun (kita tahu racun tidak akan mempan pada keluarga Flors) Julia tanpa ragu menelan pil tersebut.


"Hei, ini cukup enak."


"Bagaimana perasaanmu?"


"Lumayan baik."


"Syukurlah."


"Apa yang kau berikan padanya tadi?" tanya Julius yang sudah berdiri dibelakang Marjorie.


"Jangan khawatir. Ini cuman pil serba guna yang selalu aku bawa kemanapun. Fungsinya bisa untuk pereda rasa sakit, pusing, mual serta muntah dan juga dapat menghentikan pendarahan pada luka luar. Cukup haluskan saja pilnya sampai menjadi serbuk lalu taburkan pada luka," jelas Marjorie tanpa melirik Julius.


"Praktis sekali," kata Nisa.


"Itu benar. Apa boleh aku minta satu?" ujar Julius.


"Boleh."


Marjorie mengeluarkan satu pil lagi dari kota kecil penyimpanan obat dan menyerahkan itu kepada Julius. Namun ia seketika mematung melihat penampilan Julius yang cuman mengenakan baju kaos putih polos, celana jeans dan sepatu putih. Penampilan yang sederhana tapi entah mengapa bisa begitu menawan di mata Marjorie.


"Terima kasih," kata Julius menyadarkan Marjorie dari lamunannya.


"I, iya. Sama-sama," dengan cepat Marjorie mengalikan pandangnya dari Julius. "Aah! terjadi lagi. Ini benar-benar membuatku malu. Bagaimana bisa aku terpesona olehnya? Tidak. Sadarlah Marjorie!" gerutu nya pada diri sendiri.


"Walau sebenarnya aku tidak perlu khawatir kalau kami mungkin diracuni, tapi ada beberapa jenis obat biasa yang terkadang tidak berpengaruh pada aku dan Julia. Obat dari Marjorie cukup unik. Itu bisa membuat Julia kembali pulih dengan cepat. Sepertinya aku harus mengirim obat ini pada mama untuk diperiksa," Julius menyimpat obat tersebut dalam balutan sapu tangannya. "Jika kondisimu sudah lebih baik Julia, sebaiknya kita kembali ke sekolah. Marjorie, kau bisa membawa mobil itu, kan?"


"Iya. Aku bisa."


"Bagus. Kalau begitu, kau dan Nisa pulanglah menggunakan mobil itu. Aku dan Julia akan menggunakan mobil ini," Julius menarik tangan adiknya menuju mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa aku harus satu mobil denganmu? Aku baik-baik saja," Julia sempat menolak karna ia ingin pulang bersama teman-temannya.


"Sutt... Ada yang ingin aku bicara padamu, ini soal Marjorie," bisik Julius agar Julia mau satu mobil dengannya.


"Marjorie?"


Mendengar itu mau tidak mau Julia setuju satu mobil dengan kakaknya. Sebelum masuk ke mobil, Julia sempat melirik kebelakang. Terlihat Marjorie dan Nisa sudah melangkah masuk ke mobil. Julius mendahulukan mobil yang Marjorie kendarai dan barulah mobilnya mengiringi mereka dari belakang.


"Seharusnya aku mengatakan ini sejak awal kau mengenal Marjorie," kata Julius memulai percakapan.


"Memangnya ada apa Marjorie? Apa kakak tidak suka aku dekat dengannya?" tanya Julia merasa bingung.


"Aku tidak melarangmu untuk dekat dengan Marjorie tapi aku minta padamu sebaiknya lebih berhati-hati pada setiap kata-kata mu dan jangan sesekali ungkapkan identitasmu padanya," ujar Julius memperingatkan dengan tegas.


"Tapi kenapa? Dia orang yang baik dan bukankah kakak menyukainya?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Dengarkan aku, kau itu ceroboh."


"Hei, aku tidak terima penghinaan disini!"


"Terserah. Yang pasti kau harus menuruti semua perkataan ku karna aku tidak mau Lady Blue sampai tahu siapa kita sebenarnya."


"Kau itu bodoh. Aku sudah perna bilang kalau keluarga Arlo berkerja sama dengan Lady Blue, sedangkan Marjorie merupakan pengawal pribadi dari Yusra."


Sebelum Julius menyelesaikan situasinya pada adiknya, Julia malah memukul Julius berulang kali dengan kesalnya. Hal itu membuat mobil yang dikendarai Julius oleng dan dengan susah payahnya Julius mengendalikan stir mobil agar tidak menabrak kendaraan lain disela-sela ia melindungi dirinya dari pukulan adiknya sendiri


"Aduh! Hentikan itu Julia! Aw! Kita bisa menabrak tahu!"


"Siapa suruh kakak mengataiku?!! Awas saja kalau kakak berani lagi, aku benar-benar akan menghajarmu!" ancam Julia dengan tegas.


"Hah... Dasar kau ini," Julius melirik Julia yang masih cemberut. Hanya sebentar lalu kembali fokus ke jalan raya.


"Oh, iya kak. Soal Marjorie tadi, bisa kakak ulang?" kata Julia hati-hati.


Lirikan tajam seketika mengarah pada Julia. "AAH! Inilah yang aku maksud kau bodoh tadi! Kau sama sekali tidak mendengarkan apa yang aku katakan!" bentak Julius. Kali ini dia yang kesal karna Julia.


"Maaf! Aku bukannya tidak dengar tapi tidak mengerti. Marjorie kan cuman pelayan pribadi dari Yusra. Walau ia tahu tentang Lady Blue, juga bukan berarti ia musuh kita."

__ADS_1


"Kau tidak tahu siapa dia yang sebenarnya."


"Memangnya siapa?"


"Ingat rumor tentang Death knell?"


"Death knell? Em..." Julia mencoba mengingat-ingat nama itu. "Tidak."


Julius memaklumi daya ingatan Julia yang sedikit terganggu. "Death knell merupakan seorang gadis pembunuh bayaran yang selalu datang dengan suara lonceng sebelum ia menghabisi musuhnya. Kemampuannya adalah membunuh jarak dekat dengan mengandalkan senjata tajam, langsung menyerang titik vita dan pergi tanpa meninggal jejak sedikitpun."


"Oh... Sebab itu dia dinamakan Death knell. Kakak tahu banyak juga rupanya."


"Aku mendengar semua itu darimu. Sejak kemunculan Death knell, kau lah yang paling bersemangan menceritakannya dan bermimpi ingin bertemu dengannya secara langsung."


"Benarkah? Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?" Julia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sepertinya ingatanmu semakin terganggu. Jika terus seperti ini, kau bisa melupakan semuanya."


"Kesampingkan itu. Kenapa kakak tiba-tiba menceritakan Death knell? Jangan bilang kalau Marjorie merupakan gadis dibalik julukan tersebut."


"Itu benar. Marjorie adalah Death knell, tapi tidak ada yang tahu soal itu termasuk keluarga Arlo. Aku curiga ia berkerja dibawah naungan Lady Blue. Cuman aku tidak tahu kenapa Lady Blue menempatkan orang sehebat Death knell untuk berpura-pura menjadi pengawal orang tak berguna seperti Yusra? Apa yang mau direncanakannya?"


"Jika itu benar kalau Marjorie merupakan kaki tangan Lady Blue, itu berarti dia... Musuh kita," kata Julia pelan dengan nada sedih.


"Tidak! Walaupun ia berkerja sama dengan Lady Blue, bukan berarti dia musuh kita. Dia hanya menjalankan perintah dari bosnya tanpa tahu apa tujuannya. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa dengan semua ini. Dia cuman alat yang digunakan untuk mencapai tujuan dari seseorang."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2