Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Toko busana


__ADS_3

Stap pegawai itu menujukan beberapa gaun menawan yang terpajang di manekin atau tergantung di rak pakaian yang tersedia.


"Julia, apa kau serius mau beli gaun disini?" tanya Febby begitu melihat harga yang tertera di gaun tersebut.


"Harga sangat mahal. Aku tak yakin memiliki uang yang cukup bulan ini untuk membelinya."


"Kalian tenang saja. Kan aku sudah bilang ingin mentraktir kalian hari ini. Jadi pilihlah gaun mana yang kalian suka. Lihatlah semua ini bagus-bagus. Sangat cocok dengan kalian."


Julia mengambil salah satu gaun yang tergantung lalu mencocokkannya ditubuh Febby atau Wendy. Mereka berdua merasa tidak enak hati dibelikan pakaian dengan tarif yang begitu mahal dan dari bred internasional.


"Itu benar. Sebagian besar gaun disini adalah keluaran terbaru. Silakan dilihat-lihat yang mana kalian suka, mungkin ada yang menarik perhatian kalian, para gadis-gadis manis. Atau saya bisa bantu merekomendasikan, seperti gaun hijau daun ini, warna merah muda juga bagus," ujar stap toko itu dengan lembut. Ia membantu Wendy dan Febby memilih gaun mereka. Sedangkan Julia jangan tanya, sudah ada dua sampai tiga gaun yang menjadi pilihannya dan masih terlihat memilih yang lain.


"Iya, iya, semuanya bagus-bagus. Tapi kami berdua ingin bicara dulu dengan teman kami," Wendy menarik tangan Febby mendekati Julia yang asik memilih gaun.


"Julia, bagaimana kalau kita pergi ke toko lain saja? Disana masih banyak model gaun yang cantik dengan harga terjangkau. Disini terlalu mahal," saran Wendy sambil berbisik.


"Sudah aku katakan kalian tidak perlu khawatir. Aku memilih toko ini tentunya sudah memiliki perhitungan matang. Jangan malu-malu."


"Tapi..."


"Jika kalian memang tidak sanggup membeli sebaiknya keluarlah dari toko ini. Kami tidak menerima pelanggan miskin seperti kalian," kata stap toko lain yang tiba-tiba datang menghampiri.


"Vidia, bukan seperti itu caranya melayani pelanggan. Jika bos tahu, kau bisa dipecat!" tegur stap toko yang melayani mereka sebelumnya dengan sedikit ancaman.


"Cihk! Apa kau tidak lihat tampang miskin mereka ini, Linn? Mau sok-sokan beli gaun di toko ini, yang ada malah mengotori. Gaun disini mahal-mahal. Kalian tidak akan sanggup membelinya," kata stap toko yang sombong itu meremehkan.


"Hah? Siapa bilang kami tidak sanggup membelinya? Mau 10 gaun terbaikmu yang ada di toko ini aku masih sanggup membelinya, bahkan berserta toko dan dirimu sekalian!" tunjuk Julia dengan geram pada stap toko bernama Vidia itu.


"Oh ya? Apa kau pikir aku budek? Aku mendengarnya sendiri kalau temanmu itu mengatakan tidak sanggup membeli gaun disini karna terlalu mahal. Kau mau mengelak apa lagi?"


"Sudah cukup, Vidia! Jangan buat keributan di toko atau aku akan sungguh akan melaporkanmu! Saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Salah satu stap kami telah tidak sopan pada kalian. Ini sungguh bukanlah pelayanan yang diajarkan di toko kami. Saya akan melaporkan hal ini agar tidak terulang kembali dan merugikan pelanggan lain untuk kedepannya," Linn menundukkan kepala sebagai ucapan minta maaf.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan memperpanjang masalah ini..."


"Jangan sok belaga menjadi orang kaya!" potong Vidia. "Sebaiknya kalian pergi dari sini. Kami tidak melayani orang miskin."


"Kembalilah ke tempatmu! Aku lah yang melayani mereka. Kau tidak berhak ikut campur."


"Aku sungguh binggung padamu, Linn. Untuk apa kau melayani orang-orang seperti mereka ini? Buang-buang waktu. Pantas saja kau sering ditipu pelanggan. Sudah capek-capek melayani mereka dengan baik tapi ujung-ujungnya tidak jadi beli. Makanya lihat pelanggan itu dari penampilan agar tidak tertipu."


"Hei, hei. Ada ribut-ribut apa ini?"


Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri keributan yang terjadi di toko tersebut. Menyadari siapa dia membuat kedua stap toko seketik membungkuk memberi hormat.


"Selamat datang tuan muda Gelael," kata mereka serempak.


"Ada apa ini?" tanya Sean, lalu pandangan matanya melirik pada Julia. "Oh, bukan kah ini adalah gadis-gadis yang satu sekolah denganku?"


"Tuan muda kenal dengan mereka?" tanya Vidia mulai gugup.


"Tentu saja. Layani mereka dengan baik."


"Siapa pria ini? Kenapa dia sok akrab dengan kita?" tanya Julia pada Wendy dan Febby sambil berbisik.


"Sstt... Dasar kau ini suka bicara sembarangan. Apa kau tidak tahu? Dia adalah putra pertama dari keluarga Gelael, Sean Gelael. Pemilik dari mall ini," jelas Febby.


"Oh... Ternyata begitu."


"Tapi aku merasa sedikit bingung kenapa dia bisa mengenali kita? Tidak mungkin dia mengingat setiap wajah seluruh murid di sekolah Anthony."


"Aku juga berpikiran sama denganmu."


"Maaf atas perlakuanku tadi. Mari saya bantu memilihkan gaun yang kalian inginkan," ujar Vidia dalam sekejap berubah ramah. "Aku harap tuan muda Gelael tidak melihat sikapku tadi pada mereka, kalau tidak... Tamat lah sudah riwayatku. Aku tidak tahu kalau mereka ternyata teman tuan muda Gelael," batinnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau dilayani olehmu. Bukankah tadi kau menganggap kami ini cuman orang miskin yang tidak mampu bayar," kata Julia.


"Sa, saya tidak bermaksud begitu. Tadi itu sungguh cuman kesalahpahaman belakang. Saya sungguh tidak tahu kalau kalian adalah teman tuan muda Gelael. Maafkan saya."


"Aku yang bayar semua apa yang mereka beli," ujar Sean berharap Julia terharu.


"Apa?! Apa maksudnya kau bilang itu? Kau pikir aku tidak sanggup membeli gaun yang aku mau?" bukannya terharu, Julia malah tidak terima dianggap tidak mampu membayar apa yang ingin dibelinya.


"Ha? Bu, bukan itu maksudku."


"Eh... Julia, jangan berprasaka buruk dulu. Aku yakin tuan muda Gelael tidak bermaksud begitu," kata Febby mencoba menenangkan Julia dan berusaha tersenyum pada yang lain.


"Tidak bermaksud apa? Dasar! Dia itu ternyata sama saja dengan pelayan ini!" tunjuk Julia pada Vidia dengan nada sedikit tinggi.


Vidia dan Linn dibuat terkejut karna untuk pertama kalinya mereka melihat ada seseorang berani membentak tuan muda Gelael. Sedangkan Wendy dan Febby malah dibuat lebih terkejut lagi. Kebanyakan gadis bukannya akan merasa senang jika dibelikan gaun oleh seorang pria kaya dan tampan? Ini kenapa malah marah? Mereka sungguh tidak tahu apa yang ada dalam pikiran temannya satu ini. Tapi untuk Sean lain lagi ceritanya. Ia menganggap hal itu biasa jika dia adalah Julia, walau masih dibuat bingung juga dengan reaksi Julia yang sempat tidak terpikirkan olehnya.


"Aku lebih suka sifat kekanak-kanakannya tadi dari pada sifat yang ini," pikir Wendy yang tidak tahu harus berbuat apa.


"Aku dengar nama mu Linn, kan?" tanya Julia pada stap toko yang pertama kali melayani mereka.


"Iya."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2