Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Diperlakukan dengan manja


__ADS_3

15 menit kemudian, diruang makan. Daniel menyerumput kopinya sambil melirik Lina yang sedang menikmati es krim. Apa ia tidak merasa kedinginan menikmati krim lembut manis yang cocoknya dinikmati saat panas terik. Menyatunya saja aku tidak mau pagi-pagi begini.


"Aku mau lagi," pinta Lina sambil menggigit sendok.


"Apa?! Tidak, kau sudah menghabiskan tiga mangkok es krim. Siang nanti baru makan lagi," bujuk Daniel.


Lina melirik tiga mangkok yang ada didepannya dengan sendok masih menempel di bibirnya. "Satu mangkok lagi saja, please..." kata Lina dengan tatapan memohon pada Daniel seperti seekor kucing yang manja.


"Astaga wajahnya imut sekali. Tidak Daniel, jangan terperdaya dengan wajah imutnya."


Daniel berusaha agar tidak terpengaruh dengan cara memalingkan wajahnya dari tatapan penuh memohon itu. Namun hal yang tidak terduga adalah Lina mengecup pipi Daniel. Sentuhan dingin dari bibi Lina dan lengketnya krim coklat itu membuat Daniel tak berdaya. Ditambah lagi wajah imut Lina yang sangat dekat dengan wajahnya ketika ia menoleh. Bagaimana bisa Deniel menolak keinginan Lina kalau seperti ini.


"Satu mangkok lagi saja."


"Hah... Aku benar-benar tidak bisa menolakmu. Kau kucing kecilku yang manja," Daniel menarik Lina lalu didudukannya di pangkuannya. "Ambilkan satu mangkok es krim lagi," perintah Daniel pada Judy.


"Terima kasih," senyum Lina bahagia.


Daniel turut senang melihat Lina kembali ceria apa lagi setelah kejadian kemari. "Apa yang tidak untukmu. Asalkan bisa melihat senyummu sudah cukup bagiku."


"Nona Lina, es krim mu."


Judy kembali dengan semangkuk es krim coklat. Ia meletakan semangkuk es krim tersebut di hadapan Lina dan Daniel. Dengan riang Lina menerimanya lalu memakan es krim itu dengan begitu nikmatnya.


"Orang hamil bukannya suka yang asam-asam, kenapa kau mala kebalikannya? Mala lebih menyukai yang manis-manis."


"Aku bosan yang asam, sekarang maunya yang manis."


"Pelan-pelan makannya. Jangan sampai belepotan begini. Kau seperti anak kecil sekarang. Padahal sebentar lagi mau jadi seorang ibu," Daniel menyekat bekas coklat yang mempel di pinggir bibir Lina. "Aku ingat kita belum menyiapkan beberapa keperluan untuk bayi kita, bagaimana kalau hari ini..."


"Tidak-tidak, bisa kita membeli semua itu disaat mendekati bulan kelahiran saja. Melihat seluruh perlengkapan bayi membuatku gugup," potong Lina.

__ADS_1


"Kau masih belum siap memiliki seorang bayi?"


"Bukan itu. Aku sangat suka anak-anak, tapi aku gugup menjelang persalinan nanti."


"Jangan takut. Aku akan selalu ada disisimu disaat itu tiba," Daniel menepuk pelan perut Lina sambil berbisik. "Anak ayah jangan menyulitkan ibumu nanti ya. Supaya ibumu tidak terlalu takut untuk membawamu melihat dunia."


"Akan kah mereka akan mendengarkan mu?"


"Pasti."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Jam 10.08 Lina sedang bersantai di balkon kamar sambil menikmati secangkir teh. Udara hangat menerpa wajah lembut Lina. Disinilah ia menatap keelokan ibu kota. Tidak perna terpikirkan oleh Lina akan dapat duduk di sini. Disebuah rumah mewah dalam lingkungan perumahan elit. Menjalani kehidupan barunya bersama orang yang ia kini cintai. Seorang pria dengan kelembutan dan berjanji akan selalu ada untuknya. Tapi disisi lain pria itu juga salah satu seorang tuan muda dari anggota mafia terkejam di ibu kota.


Pandangan Lina teralihkan ketika ia melihat sebuah mobil silver memasuki halaman rumah. Em... Mobil siapa itu? Perasaan semua mobil di rumah ini berwarna hitam. Siapa yang berkunjung hari ini? Daniel tidak ada di rumah sekarang. Ia pergi untuk mengurus beberapa keperluan perusahaan dan kemungkinan akan pulang sore nanti. Lina bangkit dari kursi nyamannya sambil menopang perutnya menggunakan tangan kanan. Ia berjalan pelan masuk ke kamarnya.


"Hu... Kalian semakin tumbuh besar saja."


"Daniel putra ibu yang dingin! Dimana kau sayang?"


Begitu masuk pandangan Briety tertuju pada Lina yang berdiri di ujung tangga. Matanya seketika menurun ke arah perut Lina. Menyadari arah tatapan itu Lina bergegas menurunkan tangan nya dari perutnya agar mini dresnya jatuh dan menyembunyikan kehamilannya. Tapi gerakan itu tidak cukup cepat bagi ibu Daniel untuk tidak mengetahuinya.


"Te, tenyata benar. Kau, kau hamil," kata Briety tergagap-gagap setelah mengetahui itu.


Lina memundukan wajahnya. Apa yang akan di pikirkan ibu Daniel setelah tahu hal ini? Bahwa seorang gadis telah hamil di tangan putranya yang sebenarnya telah memiliki tunangan. Akan kah ibu Daniel merestui hubungan mereka? Atau ia akan mengusir Lina ke jalanan? Bagaimana nasif Lina dan dua bayinya nanti? Kepala Lina kini di penuhi dengan pikiran yang bermacam-macam namun semua itu hilang disaat reaksi tak terduga dari Briety.


"Wah...! Sudah kuduga!" Briety segera memeluk pinggang Lina sambil menggosokan pipinya di perut Lina dengan gemas.


Lina sangat terkejut dengan reaksi dari ibu Daniel. Ia bingung mau mengatakan apa. Diperlakukan seperti ini membuat Lina menjadi cangung dan malu. "E... I, ini... Ny. Flors..."


Briety mengangkat wajahnya menatap Lina tampa melepaskan rangkulan tangannya. "Apa Ny. Flors, Ny. Flors? Mulai sekarang kau harus memanggilku 'Ibu' mengerti?"

__ADS_1


"I, ibu?"


"Iya. Kau sekarang adalah menantuku," Briety kembali menggosokan pipinya di perut Lina. "Ukuran perutmu ini sudah cukup besar, setidaknya pasti telah memasuki enam bulan atau tujuh bulan kehamilan. Itu berarti kurang lebih tiga bulan lagi aku akan menjadi nenek. Wah... Senangnya. Mereka pasti iri melihatku yang kini memiliki seorang cucu," gumang Briety.


"Em... Sebenarnya Ny. Flors, maksudku ibu..."


"Iya sayang, ada apa? Aku akan segera menjadi. nenek. Tiga bulan lagi aku sudah menggendong cucu," kata Briety terus bergumang.


"Sebenarnya kandunganku baru habis bulan keempat masa kehamilan," jelas Lina malu-malu.


Mendengar itu Briety menatap Lina sebentar dalam diam. "Tapi ini terlalu besar jika baru memasuki awal bulan ke lima. Atau jangan-jangan... WAAH.....! ! !" teriakan Briety semakin kencang begitu ada sesuatu yang melintas di pikirannya. "Berarti aku akan memiliki dua cucu sekaligus!"


"Hah..." Lina menghela nafas panjang begitu melihat tingkah dari ibu Daniel. "Sebenarnya tiga."


"Tiga? Tiga juga juga boleh. Apa?!!"


"Hihi... Maaf, maaf. Becanda."


"Kau membuatku senang setengah mati."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2