Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Keajaiban itu pasti ada


__ADS_3

Briety terdiam. Dia mengerti perasaan Ducan. Ducan telah kehilangan orang yang ia cintai, sang istri dan dipisahkan dari putrinya selama 17 tahun. Dia tentunya sungguh tidak sanggup kehilangan lagi.


"Briety! Daniel!" panggil Rayner sambil berlari mendekat bersama Via.


"Rayner, Via."


"Bagaimana keadaan Lina?" tanya Rayner.


"Masih diruang UGD. Dokter belum kunjung keluar, jadi kami belum tahu," jelas Briety.


"Kenapa kalian tidak memberitahu kami? Jika Emma tidak menelpon dari rumah sakit dan memberitahu kami kalau Lina dalam bahaya, kami pasti tidak ada disini. Dan juga kenapa hp kalian tidak ada yang bisa dihubungi?"


"Maaf aku. Aku terlalu panik. Daniel tidak bisa dihubungi, jadi aku menyusulnya. Aku meminta tetangga untuk membawa yang lain ke rumah sakit. Begitu bertemu Daniel, kami bergegas mencari Lina. Di kepalaku cuman berharap kami tidak terlambat menemukan dia. Hiks... Hiks... Aku mengkhawatirkan dirinya. Aku cuman tidak ingin dia mengalami hal yang sama sepertiku dulu! Huaaahh....haa..." Briety menangis terseduh-seduh.


"Apa maksud ibu dengan kalimat ibu yang terakhir tadi?" tanya Via.


"Maaf, kami tidak bermaksud merahasikan ini dari kalian. Daniel, sebenarnya kau memiliki saudara kembar, tapi ia meninggal tak lama setelah kau lahir," jelas Rayner. Ia menarik istrinya dalam pelukannya untuk menenangkan hati yang bersedih.


"Aku tidak sekuat Lina. Aku tidak sanggup melahirkan bayi keduaku. Aku ibu yang buruk. Hiks... Hiks..."


"Sudah, sudah. Jangan menyalahkan dirimu terus. Kita tahu kalau dia telah meninggal sebelum dilahirkan."


"Tidak. Ini masih tetap salahku. Andai aku tidak jatuh dari tangga waktu itu, ia tidak akan mungkin meninggal. Hiks... Hiks... Aku masih tidak bisa memaafkan diriku sendiri."


"Aku harap kak Lina baik-baik saja."


Semuanya diam, hanya ada suara tangis Briety yang menghiasi lorong rumah sakit. Daniel terus melirik kaca pintu. Di dalam hatinya ia terus berharap yang sedang terbaring di sana dapat selamat. Namun semuanya hancur disaat Daniel melihat garis hijau tiada henti di layar monitor. Itu menandakan kalau detah jantung pasien telah menghilang.


Terjadi kepanikan di dalam sana. Dokter segera menyiapkan alat AED untuk memicu detak jantung pasien. Hanya ini pertolongan pertama apabila pasien mengalami henti detak jantung mendadak. Beberapa saat melakukan upaya penyelamatan, dokter terlihat berhenti dan menggelengkan kepala kepada suster. Daniel mengerti apa yang terjadi, Lina tidak dapat tertolong.


"TIDAK ! ! !"

__ADS_1


Daniel menerobos masuk ke ruangan tersebut. Rayner, Briety, Via dan Ducan yang terkejut bercampur binggung ikut bergegas masuk. Di dalam Daniel telah menangis sambil menggengam erat tangan Lina. Ia terus memohon pada Lina untuk membuka matanya. Ia berharap semua ini cuman mimpi. Ia benar-benar tidak sanggup kehilangan Lina. Dokter dan para suster tidak dapat menghentikan Daniel. Mereka cuman meminta Daniel untuk mengikhlaskan istrinya.


"Tidak! Istriku tidak mati. Ia masih hidup, masih hidup. Aku mohon sayang, jangan tinggalkan kami."


Tiba-tiba Daniel melakukan CPR dengan cara membantu memompa jantung Lina secara manual. Semenit mencoba namun tidak membuahkan hasil, tapi Daniel tidak mau menyerah. Ia percaya kalau keajaiban itu ada dan Lina pasti kembali padanya. Dokter yang melihat itu ikut membantu.


"Daniel! Aku tidak akan memaafkanmu. Jauhkan tanganmu dari putriku!" teriak Ducan hendak menghentikan Daniel namun ia dicegat Rayner dan Briety.


"Ducan, tenangkan dirimu! Daniel sedang melakukan upaya penyelamatan," kata Rayner.


"Tidak. Ini salahku. Tidak seharusnya aku percayakan putriku pada kalian. Seharusnya aku membawanya kembali ke kediaman Cershom. Ia akan lebih aman disana."


Kemudian mereka dikejutkan dengan suara monitor yang mendeteksi detak jantung sekali lalu menghilang. Melihat tanda-tanda itu menamba semangat Daniel. Dua menit berusaha detak jantung Lina kembali walau masih dalam keadaan lemah. Perlahan-lahan organ vital lainnya juga kembali berfungsi. Ini adalah sebuah keajaiban yang sangat diharapkan.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Jam 15.45 ke esokan harinya. Walau keadaan Lina sudah melewati masa kritis, namun ia belum kunjung membuka matanya. Daniel senan tiasa menunggu Lina sadar. Sejak Lina dipindahkan ke ruang rawat, Daniel tidak perna beranjak dari kursinya. Bahkan untuk makan pun ia tidak mau. Makanan yang dibelikan ibunya saja tidak disentuhnya sama sekali, masih tergeletak di atas meja. Daniel menggenggam erat tangan Lina dan diciumnya beberapa kali sambil memohon.


"Kucing kecil, aku mohon buka matamu. Aku merindukan suaramu. Aku rindu sifat manja dan ekspresi imutmu," Daniel mendekap tangan Lina menggunakan kedua tangannya lalu di dekatkan ke wajah nya.


"Da... Daniel."


Mendengar itu, Daniel mengangkat wajahnya melihat ke arah Lina. "Kucing kecil. Syukurlah, akhirnya kau sadar juga. Kau benar-benar membuatku takut," Daniel seketika memeluk Lina dan mencium wajahnya.


"Aku masih hidup?" pertanyaan aneh itu meluncur begitu saja diri bibir Lina yang pucat.


"Iya, iya. Tidak akan kubiarkan kau meninggalkanku. Terima kasih, terima kasih telah kembali," Daniel melepaskan pelukannya.


"Dimana mereka?" tanya Lina. Suaranya masih terdengar sayup.


"Mereka ada disampingmu,"

__ADS_1


Lirik Daniel ke arah dua ranjang bayi yang tepat berada disamping kanan ranjang Lina. Lina menoleh. Dipandangnya dua bayinya yang sedang tertidur lelap itu sambil tersenyum.


"Siapa namanya?"


"Em... Karna ini bulan juli, jadi yang terlintas dipikiran ku cuman Julius dan Julia."


"Julius, Julia," ulang Lina.


"Iya. Eh, kalau kau tidak suka, kita bisa menggantinya."


"Tidak. Aku suka. Nama yang indah."


"Julius Franklin Flors dan Julia Francesca Flors," kata Daniel menyebutkan nama lengkap kedua bayi mereka.


"Apa sungguh kau buru-buru mencari nama itu? Kedengarannya sudah dipersiapkan sejak lama," Lina kembali menoleh pada Daniel. Ia baru menyadari kalau ada luka sebab di ujung bibir Daniel. "Ada apa dengan wajahmu?"


"Eh... Ini, bukan apa-apa. Jangan pedulikan aku. Sebaiknya aku panggil dokter untuk memeriksa kondisimu," kata Daniel mengalikan pembicaraan.


Daniel memanggil dokter dari tombol yang tepat berada di atas kanan kepala Lina. Tak berselang lama dokter datang. Ia segera melakukan pemeriksaan pada kondisi tubuh Lina. Dokter menyatakan kalau keadaan Lina sekarang sudah mulai membaik. Hanya perlu beristirahat beberapa hari lagi dan kemungkinan sudah diperbolehkan pulang. Setelah selesai melakukan pemeriksaan Lina kembali tertidur. Tubuhnya masih lemah dan harus banyak-banyak istirahat.


Pagi esoknya barulah Rayner, Briety, Via datang berkunjung. Sedangkan Ducan, dia sudah datang sejak tadi sore namun Lina sudah tertidur. Tentunya ia tidak mau membangunkan Lina yang tengah beristirahat. Dengan terpaksa Ducan menunggu Lina bangun baru bisa meluapkan tangis haru nya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2