Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kejutan tak terduga


__ADS_3

"Oh... Tentu saja tidak. Aku belajar titik-titik pinjat ini dari ahlinya. Ini semua demi kenyamanan pasien ku. Dan sebagai pasien ku, aku sarankan kau jangan terlalu kelelahan. Lakukan olahraga yang ringan-ringan saja, seperti naik turun tangga, jalan-jalan ringan, melakukan yoga ibu hamil semua itu sudah cukup untuk dilakukan setiap minggunya."


"Dirumah memang tersedia lif tapi aku lebih suka menggunakan tangga untuk menuju kamarku. Dan juga setiap ibu Daniel datang ia lalu mengajak ku melakukan yoga."


"Itu bagus. Tapi kau juga harus perhatikan suasana hatimu. Jangan terlalu sering emosian, marah berlebih atau sedih itu akan berdampak pada kesehatan janinmu. Melakukan meditasi sesekali merupakan solusi yang cocok untuk masalah ini. Aku ingin tanya padamu. Apa akhir-akhir ini kau mengalami emosional yang berlebih?"


"Emosi yang berlebihan? Em... Merasa kehilangan apa juga bisa disebut emosi?"


Ira merasa iba melihat raut wajah temannya yang murung. "Dasar Daniel! Aku akan memukulnya jika ketemu dia nanti. Tidak seharusnya ia meninggalkanmu sendirian dalam suasana hatimu yang rentan ini."


"Sudahlah Ira. Aku tidak apa-apa kok. Terima kasih karna aku memiliki teman sepertimu."


"Apa yang kau bicarakan? Sebagai temanmu, sahabatmu. Sudah sewajarnya aku peduli padamu. Aku sudah mengangapmu seperti adikku sendiri," peluk Ira erat pada Lina. "Jadi adikku. Kau mau makan siang apa? Aku bisa pesankan untukmu."


"Bagaimana kalau kita masak sendiri saja makan siang hari ini?"


"Masak sendiri? Tapi aku tidak bisa masak. Aku belum perna menyentuh pisau dapur selama hidupku."


"Kalau begitu kau akan menyentuhnya hari ini," Lina menarik Ira keluar dari pondok kayu. "Kau beruntung adikmu ini sangat pandai memasak. Aku akan mengajarimu membuat hidangan sederhana namun akan membuatmu ketagihan."


Di dapur mereka berdua menyiapkan semua keperluan untuk memasak. Sesuai instruksi dari Lina, hari ini untuk pertama kalinya Ira menyentuh pisau dapur dan peralatan memasak lainnya. Sebagai putri tunggal dari keluarga terpandang tentu saja Ira tidak perna memasak sebelumnya. Jangankan memasak, pergi ke dapur saja baru kali ini. Harap maklumlah, semua makanan disiapkan oleh koki ahli dirumahnya atau terkadang ia makan sebuah di restoran bintang lima.


Harum semerbak dari hasil masakan mereka berdua mengisi setiap sudut dapur tersebut. Karna terlalu keasikkan memasak tampa terasa mereka telah membuat banyak hidangan. Dari hidangan pembuka sampai hidangan penutup yang manis.


"Aku baru tahu kalau memasak bisa semenyenangkan ini," kata Ira.


"Tentu saja menyenangkan. Apalagi semua bahan tersedia lengkap disini."


"Yang lebih menyenangkannya lagi adalah kita dapat mencicipi semuanya," Ira terlihat sudah tidak sabar untuk mencoba masakannya sendiri.

__ADS_1


"Tunggu apalagi, ayok kita nikmati hidangan yang telah kita buat ini."


Lina dan Ira mulai menyantap makanan yang telah mereka buat. Terlihat Ira begitu menikmati hasil masakannya. Walau untuk pertama kalinya memasak tapi hasilnya tidak buruk juga. Setelah makan siang, mereka menghabiskan waktu santai mereka dengan cara menonton acara tv. Tidak terasa waktu cepat berlalu. Jam telah menunjukan pukul 17.41. Daniel, Emma, Judy dan beberapa orang yang biasa ada di rumah masih belum terlihat pulang juga.


"Bagaimana ini? Apa tidak apa aku meninggalkanmu sendirian?" tanya Ira.


"Ini bukan pertama kalinya aku tinggal sendirian. Apa kau lupa, dulu aku tinggal disebuah kontrakan sendirian selama bertahun-tahun. Tidak akan terjadi sesuatu padaku."


"Iya, tapi itu sebelum kau hamil. Bagaimana terjadi sesuatu padamu?"


"Sudahlah, nona Xavira. Kekhawatiranmu berlebihan. Aku akan baik-baik saja."


"Segera telpon aku jika ada masalah. Aku pasti akan datang secepat mungkin."


"Iya."


Ira berjongkok di depan Lina. "Nah... Keponakanku, bibi pulang dulunya. Kalian berdua jangan nakal ya. Sampai jumpa lagi besok."


Ira berdiri lalu memeluk Lina. "Aku pulang dulu."


"Hati-hati di jalan."


Ira melepaskan pelukannya lalu melakah masuk ke mobil. Ira menyempatkan diri melambaikan tangan sebelum mobil melaju pergi. Lina melangkah masuk ke dalam rumah, kemudian ia mengunci pintu. Baru lima langkah dari pintu tiba-tiba bel rumah berbunyi. Lina berbalik lagi untuk melihat siapa yang bertamu. Apa itu Daniel yang baru saja pulang? Begitu pintu dibuka, Lina mendapati Emma dan Judy tepat di depan pintu dengan beberapa kotak ditangan mereka.


"Emma, Judy, kalian sudah pulang," Lina membuka lebar pintu tersebut mempersilakan mereka masuk. "Apa yang kalian bawa?" tanya Lina penasaran setelah menutup pintu.


"Oh... Ini semua untukmu," jawab Emma.


"Untukku?" Lina seketika bingung mendengarnya.

__ADS_1


"Iya. Kau harus mengenakan semua ini malam ini."


Judy membuka kotak yang paling besar dari semua nya. Kotak tersebut berisi sebuah gaun biru elegan berpadu dengan warna pink lembut yang mewah berhiaskan bunga mawar berpita emas.



Emma dan Judy segera membantu Lina berganti pakaian. Dengan perasaan masih bingung, Lina mengikuti saja kemauan mereka. Gaun tersebut begitu pas di tubuh Lina. Kemudian mereka mulai mengrias wajah Lina serta menata rambut Lina dengan hiasan mawar yang sama. Lina tampak begitu cantik. Namun yang membuatnya semakin bingung begitu Emma menutup matanya menggunakan kain hitam.


"Emma, ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian mendandaniku seperti ini dan menutup mataku?" tanya Lina yang sangat kebingungan.


"Nona Lina akan segera tahu."


Emma dan Judy membantu Lina berjalan menuju sebuah Limousine yang telah terparkir tepat di depan rumah. Limousine itu mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Di perjalanan kepala Lina hanya di penuhi pertanyaan, kemana mereka sekarang membawa nya? Lima menit perjalanan Limousine berhenti. Emma dan Judy kembali membantu Lina keluar dari Limousine tersebut. Tutup mata Lina masih belum dibuka. Ia dituntun berjalan pergi ke suatu tempat.


Kain yang menutupi matanya kini dibuka. Cahaya terang seketika menyambutnya. Sedetik kemudian setelah pandangannya membaik Lina benar-benar dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangan dan berusaha menahan air mata haru nya. Sebuah taman yang dekorasi dengan begitu indah berhiaskan bunga dan untaian sutra putih. Deretan kursi tersusun rapih disisi kiri dan kanannya. Karpet merah membentang di depannya dengan taburan kelopak mawar merah. Tepat di ujung karpet merah tersebut Daniel telah menunggunya. Ia mengenakan setelan jas putih dengan dasi kupu-kupu. Dan disamping Daniel berdiri seorang pendeta.


Sangking gugup karna senangnya Lina tak sanggup melangkahkan kakinya menujuh altar pernikahan yang ada di depannya. Tiba-tiba dari arah kiri Lina, Ira muncul dan langsung merangkul tangan Lina kemudian membimbingnya melangkah maju. Ira menyerahkan rangkaian bunga pada Lina. Pakaian Ira saat ini telah berganti dengan sebuah gaun pink.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2