
"Tapi sekarang aku bukan lagi orang yang bisa kalian rendahkan. Aku adalah tuan putri sesungguhnya yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang besar. Tidak ada yang mampu menghentikan ku, termaksud ayahku sendiri."
"Ayahmu? Bukannya kau..."
"Itu benar. Selama ini aku tidak mengenal siapa ayah ku. Namun sejak kematian ibu ku, datanglah seorang utusan dari kerajaan Denmark yang mengatakan kalau aku merupakan putri luar dari sang pangeran Denmark. Walaupun cuman putri luar tapi tetap saja ada darah bangsawan yang mengalir dalam tubuhku."
"Oh... Sebab itu kau menggunakan julukan Lady Blue, gadis biru maksudnya gadis berdarah biru, darah bangsawan," kata Julia mulai mengerti arti dibalik nama julukan tersebut.
"Sudah terlambat untuk mengetahui itu sekarang," Gerda mengeluarkan hpnya. "Aku rasa sudah waktunya memerintahkan mereka menyerbu markas keluarga tersembunyi."
"Aku mohon Gerda, jangan lakukan ini!" kata Julia mencoba mencegat Gerda.
"Memangnya kenapa? Tidak ada hubungannya juga denganmu."
"Soal itu, Gerda sebenarnya... Em... Ada sesuatu yang harus kau tahu," Julia merasa tidak sanggup mengatakannya.
"Julia merupakan putri dari ketua mafia Black Mamba," teriak Nisa lantang membuat semua menoleh padanya dengan ekspresi kaget terutama Rica. "Maafkan aku Julia. Aku cuman merasa kalau dia seharusnya mengetahui hal ini."
"Terima kasih Nisa," ucap Julia sambil tersenyum. Nisa sudah membantunya memberitahukan hal yang tidak mampu Julia katakan pada Gerda.
"Maksudmu, Nisa. Mafia Black Mamba ada dibawah kendali keluarga Flors?" tanya Gerda memastikan.
"Itu benar Gerda. Maaf tidak perna memberitahu mu soal ini. Aku takut kau akan menjauhiku dan tidak mau berteman denganku lagi. Siapa yang mau berteman dengan seorang gadis yang telah membunuh banyak nyawa. Mendengar kata Mafia saja kalian sudah ketakutan, bagaimana jadinya jika kalian tahu identitas ku yang sebenarnya. Kalian pasti menjauhiku, menatapku penuh ketakutan dengan tubuh gemetar. Aku sama sekali tidak menginginkan dipandang seperti itu. Aku ingin kalian melihatku dengan senyuman, menyapaku tanpa rasa takut dan terpaksa."
"Kau putri dari ketua mafia dan sudah perna membunuh orang?" raut wajah Gerda terlihat seolah-olah ketakutan begitu mengetahui itu.
"Eh... Iya," Julia cukup dibuat bingung dengan reaksi Gerda. "Bukankah hal yang biasa terjadi di dunia bawah tanah?"
"Ternyata kau seorang penjahat Julia! Kau seharusnya menekam di balik jeruji besi karna telah sengaja melenyapkan nyawa seseorang," bentak Rica namun dengan ekspresi ketakutan.
__ADS_1
"Hei, aku tidak sembarangan membunuh orang. Mereka memang pantas dibunuh, biarpun diserahkan pada polisi juga pasti dihukum mati."
"Kalau begitu, apa kau juga akan membunuhku? Setelah apa yang aku lakukan padamu..."
"Tidak ada gunanya membunuh mu, Rica. Aku cuman suka bermain dengan gedis-gadis sombong sepertimu."
Mendegar itu membuat Rica membuang mukanya yang malu karna sangking ketakutannya dan tanpa sadar bertanya demikian. Melihat ekspresi ketakutan Rica tadi membuat Julia membandingkannya dengan raut wajah Gerda. Walau tidak tampak jelas tapi dari mata Gerda bisa ditebak kalau ia juga merasa takut setelah mengetahui kalau Julia telah perna membunuh orang.
"Apa Gerda takut padaku tapi dia sekarang kan bagian dari dunia bawah tanah. Apa jangan-jangan dia belum perna membunuh seseorang?" Julia tersenyum. "Gerda, ternyata kau sama sekali tidak berubah. Walaupun kau terlihat garang namun hatimu masih tetap lembut. Kau seperti seekor harimau kertas."
"Siapa yang kau panggil harimau kertas?!!" teriak Gerda tidak terima.
"Apa kau perna mencium bau anyir darah yang kental?"
"I, itu... Aku..."
"Tidak. Sudah terlambat untuk itu. Tidak ada yang bisa menghentikan ku."
"Jangan macam-macam Gerda! Atau aku..." Julia hendak mengacungkan pistol nya namun tangannya terlalu gemetar untuk mengatakan pistol tersebut ke teman lamannya.
"Kenapa kau diam saja? Kau mau menebakku? Ayok lakukan kalau kau bisa! Tembak aku, Julia!"
"Tidak. Aku tak bisa melakukan ini. Kau temanku, Gerda," Julia menurunkan pistol nya.
"Tidak ada gunanya juga kau terus berteriak dan mengatakan kalau aku adalah temanmu. Kau bahkan sudah melupakan ku, Julia. Sudah lebih dari setahun ini kau sama sekali tidak pernah mengunjungi makam ku. Iya, walau itu cuman makam bohongan tapi itu membuktikan kau benar-benar telah melupakan temanmu ini!"
"Maafkan aku, Gerda. Aku bukannya bermaksud begitu. Aku..."
"Sudah cukup! Alasan apa lagi yang bisa kau gunakan?" potong Gerda. "Selama ini aku terus mematau dirimu. Aku mengetahui semua yang kau lakukan. Kau memang telah melupakan aku. Kau menganggap ku seperti tidak perna ada dalam kehidupan mu."
__ADS_1
"Itu karna aku mengalami hilang ingatan semua tentang dirimu."
"Hilang ingatan?"
"Iya. Apa kau ingat disaat aku mengejarmu sewaktu menyaksikan hujan meteor? Waktu itu aku benar-benar sangat merindukan sahabatku. Untuk menghibur diri, kakak ku mengajakku menyaksikan hujan meteor di puncak bukit. Sungguh pemandangan yang indah dan aku memohon pada bintang jatuh untuk dapat melihat wajahmu sekali lagi. Siapa menduga ternyata permohonanku itu terkabul. Aku benar-benar dipertemukan kembali denganmu tapi sayangnya kau malah lari dariku. Tidak mau kehilangan temanku lagi, aku mengejarmu."
"Aku sangat jelas mengingat peristiwa itu. Entah mengapa ada dorongan yang kuat memintaku pergi ke puncak bukit. Aku tidak mengira kalau akan ada kau disana. Tidak mau identitas ku terbongkar, aku segera pergi dari tempat itu. Tapi ternyata kau mengejar ku. Aku ingat kau mengalami kecelakaan dan mobilmu jatuh ke jurang."
"Itu benar. Karna kecelakaan itu yang menyebabkan aku hilang ingatan dan anenya cuman ingatan tentang dirimu yang aku lupakan. Setiap kali hatiku merindukan mu otakku malah merespon itu sebagai ancaman dan memberiku rasa sakit yang luar biasa. Aku terpaksa minum obat setiap minggunya agar rasa sakit tersebut tidak terlalu menyiksaku tapi lama-kelamaan aku malah melupakan yang lainnya. Untuk mencegah aku tidak dapat mengingat semuanya, aku diharuskan mengingat peristiwa sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku harus mengingat mu agar bisa sembuh dan semua foto yang aku lihat dibawah tadi telah membantuku mengingat semuanya. Aku mengingat kau sebagai teman baik ku, orang terpenting dihatiku."
"Sebab itu kau terlihat lebih pucat dari biasanya. Tenyata kau sakit selama ini dan aku tidak mengetahui hal itu. Aku malah berpikir kau telah melupakan aku," Gerda tertunduk sedih dan merasa bersalah telah salah sangka pada Julia. "Aku..."
"Jangan percaya setiap kata-kata Yang mulia. Itu cuman alasan agar bisa melarikan diri darimu," kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Gerda.
Gerda menoleh. "Pengurus Hans?"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1