
Setelah puas mengelus perut Lina, Briety menarik tangan Lina untuk duduk di sofa. Ia ingin berbincang lebih dengan menantunya itu.
"Jadi sayang, apa putra ku yang dingin itu memanjakanmu? Aku tahu dia pria yang tidak mengerti terhadap perasaan wanita."
"Aku sering melihatnya diam-diam membaca buku tentang 'Cara mayenangkan istri' atau 'Cara merawat ibu hamil'."
"Wah... Sepertinya ia sedang berusaha menjadi suami yang baik. Aku turut senang mendengarnya. Aku hampir sempat berpikir kalau ia itu tidak akan perna jatuh cinta pada seorang wanita. Dan waktu pertama kali bertemu dengan mu di pesta ulang tahun ayah mertua, aku kira itu hanya alasannya untuk menghindari pertunangannya dengan putri keluarga Cershom. Tapi aku tidak menyangka kalau kalian benar-benar saling mencintai. Maafkan ibu sempat meragukan cinta kasih kalian."
"Tidak. Firasat seorang ibu memang selalu benar. Pada waktu itu aku dan Daniel belum saling mencintai, mala sebenarnya saling benci. Aku dipaksa menjadi kekasih palsu nya agar ia bisa menghindari pertunangannya," pikir Lina.
"Harap maklum lah, Daniel itu terlalu sibuk dengan perkerjaannya dan tidak perna mau berpikir untuk mencari pasangan. Kehadiranmu merupakan kuncup bunga yang indah untukku."
"Ny. Flors... Em, maksudku ibu. A, apa tidak mengapa seperti ini. Mengingat Daniel telah memiliki tunangan... A, aku merasa bersalah, karna aku hubungan keluarga Flors dan keluarga Cershom menjadi rengang. Aku..."
"Ssutt... Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Hubungan kedua keluarga ini sudah sangat erat sejak dulu sebelum pertunangan ini ada. Pertunangan ini terjadi karna ayah mertua yang bersikeras ingin membalas kebaikan Ariana dengan cara menjodohkan putri Ariana dengan Daniel."
"Apa yang telah dilakukan ibu Violet sampai tuan besar Flors bersikeras menjodohkan Daniel dengan Violet?"
"Ariana perna menyelamatkan nyawa ayah mertua. Aku juga tidak tahu cerita lengkapnya seperti apa. Ayah mertua tidak perna menceritakannya pada kami."
"Oh..." Lina hanya tertunduk sambil meratapi kandungan.
"Tapi kau jangan khawatir. Aku pasti akan berusaha menyakinkan ayah mertua agar merestui hubungan kalian. Apa lagi setelah mengetahui kehamilan mu ini pasti..."
"Bisa jangan beritahu dia dulu. Aku..." potong Lina tapi ia tidak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Hah... Baiklah. Aku mengerti kekhawatiranmu. Aku akan memberitahunya pada waktu yang tepat," diraihnya tangan Lina digenggamnya erat sambil meratap sedih kandungan Lina.
"Ada apa?" tanya Lina yang tidak mengerti maksud tatapan itu.
"Lina, aku bukan bermaksud menakutimu tapi aku harus mengatakan ini. Kehamilanmu kali ini mungkin akan sedikit menyulitkan untukmu. Ini adalah kehamilan pertama mu dan dalam keadaan kembar pula. Dengan tubuhmu yang kecil ini..."
Setelah menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, Lina mengelus perutnya dari atas ke bawah. "Seberapa sakit saat melahirkan?"
Briety terdiam sebentar, kemudian berkata. "Semua rasa sakit akan hilang disaat kau mendengar suara tangis bayi mu nanti. Itu akan menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidup seorang wanita. Selama Daniel bersamamu aku yakin kau pasti bisa melewati hari persalinanmu dengan lancar. Jangan takut, aku akan ada untuk mendapingimu di hari-hari kehamilanmu ini. Akan aku beritahu semua hal yang aku tahu tentang pengalanku disaat aku mengandung dulu. Sekarang ayok ikut aku," Briety menarik tangan Lina ke luar.
"Kita mau kemana?"
"Ke tempat dimana yang paling banyak disukai wanita, Mall. Emma! Judy! Kalian berdua ayok ikut kami," teriak Briety memanggil mereka dari luar.
"Baik," jawab Emma dan Judy sambil bergegas ke luar.
Mobil berhenti tepat di depan pintu mall tersebut. Mereka berempat keluar dari mobil dan melangkah masuk. Bagian dalam mall ini lebih luar biasa lagi dari penampakannya di luar. Benar-benar tempat yang pas untuk mencuci mata dengan keindahan yang ada bagi orang-orang berkantung tebal. Jiwa berbelanja Lina seketika memuncak, dan Briety telah menyadari hal itu. Tidak akan ada wanita yang bisa tahan untuk tidak berbelanja di tempat ini.
Dengan cepat Briety mengajak Lina berkeliling. Berbagai tempat yang menarik perhatian segera mereka masuki. Toko busana, toko sepatu dan tas, toko perhiasan, toko kue, dan dari toko ke toko mereka datangi. Setiap berkunjung mereka pasti membelih sesuatu. Walau dalam kondisi mengandung tapi itu tidak membuat Lina lelah. Yang lelah adalah Emma dan Judy. Mereka berdua harus membawa semua barang yang dibeli ibu dan anak ini. Mereka sampai meminta batuan dari pegawal bayangan untuk membawa barang-barang tersebut kembali ke mobil.
Cukup puas berkeliling mereka kini menuju restoran terdekat untuk makan siang sambil melepas lelah juga. Hidangan di pesan dengan berbagai menu yang ada. Briety sengaja memilih restoran yang memiliki ruangan privasi agar Lina dapat lebih leluasa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Setelah makan Lina menyandarkan tubuhnya di sebuah sofa panjang yang tersedia disana dengan kaki terjulur ke depan. Lina sedikit meregangkan tubuhnya sambil mengelus perutnya yang buncit. Briety menghampiri Lina dan mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Merasa lelah?" tanya nya pada Lina.
"Iya. Mereka membuatku lelah," Lina membetulkan posisi duduknya sedikit lebih tegak.
__ADS_1
"Hei, bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke tempat spa? Itu bagus untukmu merilekskan diri," saran Briety.
"E... Ini... Mungkin lain kali saja. Ibu sudah membelikan ku banyak barang hari ini. Aku merasa tidak enak hati."
"Apa yang kau pikirkan? Aku sudah bilang padamu berkali-kali jangan perna menolak pemberianku. Aah... Menantuku tidak menyukai aku. Huhu.......hu...." kata Briety pura-pura menangis.
"Baik, baiklah ibu. Berhentilah menangis. Aku, aku akan pergi ke spa bersamamu."
"Bagus. Biarkan aku memanjakan mu hari ini," kata Briety kembali bersemangat.
"Hah... Aku tidak perna mengira kalau ibu Daniel bisa bertingkah seperti anak kecil," batin Lina. "Aku mau ke toilet dulu," ujar Lia kemudian sambil berdiri.
"Iya. Cepatlah kembali."
Lina melangkah keluar menujuh toilet yang berjarak 50 m dari ruangan tersebut. Keinginannya untuk buang air kecil semakin sering ia rasakan sejak kandungannya semakin besar. Selepas dari toilet Lina hendak kembali ke ruangan dimana Briety, Emma dan Judy menunggu, namun di tengah perjalanan ia tampa sengaja menyenggol salah satu pria dari tiga pria yang melaluinya, walau lebih tepatnya ia lah yang di senggol.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε