
Marjorie mengeluarkan hpnya lalu segera menghubungi Julia. Berulang kali mencoba menelpon Julia namun masih saja tidak diangkat.
"Telponnya tidak diangkat. Julius. Julius, bangun Julius," kepanikan semakin menyelimuti Marjorie disaat Julius tidak kunjung membuka matanya.
"Dia sepertinya sangat kelelahan. Biarkan dia istirahat. Sebentar lagi kita akan memasuki area pemukiman," ujar Yusra yang melirik dari kaca spion.
Yusra mempercepat laju mobilnya begitu memasuki jalanan beraspal. Kondisi jalanan yang sepi membuat Yusra bisa menambah kecepatan lagi sampai batas kemampuannya mengendalikan laju mobil. Tidak ada percakapan yang terjadi antara Marjorie dan Yusra. Mereka terlihat seperti tidak terlalu saling mengenal. Suasana di dalam mobil terasa begitu canggung bagi Yusra. Hubungannya dengan Marjorie kini bukan lagi antara atasan dan bawahan. Mereka sekarang cuman sekedar hubungan antar murid sekolah, tidak lebih. Dari suasana yang senyap itu, mungkin dikarenakan terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing, tidak ada satupun dari mereka yang mendengar suara notifikasi hp Julius yang sendari tadi terus berbunyi selang beberapa menit.
..."Peringatan! Sistem mendeteksi detak jantung pengguna meningkat."...
..."Peringatan! Sistem mendeteksi kodisi tubuh pengguna mengalami cedera."...
..."Peringatan! Sistem mendeteksi daya tahan tubuh pengguna melemah."...
..."Peringatan! Sistem mendeteksi ada racun di aliran darah pengguna."...
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Julia!" teriak yang lain bersamaan.
"Ups. Maafkan aku, nona Flors. Aku tidak sengaja."
Sambil tersenyum, Hans menarik pisau lipat nya. Julia meringkuk menahan sakit dengan darah yang mengalir deras sampai menggenang di lantai. Ia berusaha menghentikan pendarahan tersebut dengan cara menutup lukanya menggunakan tangan namun itu kurang efektif. Nisa hendak menghampiri Julia tapi Julia segera memberi isyarat untuk tidak mendekat.
"Aku sudah menduga hal ini. Bagaimana rasanya nona Flors? Pasti sakit, bukan?"
"He! Kau pikir luka kecil ini bisa membunuhku?" Julia mengangkat wajahnya menatap benci pada Hans.
"Kau benar. Luka kecil itu tidak akan membunuh mu dengan cepat tapi aku telah mengoleskan racun mematikan di pisau lipatku ini. Dalam hitungan menit kau akan tewas seketika."
__ADS_1
"Sepertinya informasi yang kau dapat tidaklah lengkap."
Julia memanfaatkan kelengahan Hans agar bisa menancapkan belatinya tepat menembus telapak kaki Hans. Refleks Hans membungkuk kesakitan dan hendak menarik belati tersebut namun tanpa diduga Julia menonjok wajah Hans sampai ia tersungkur di lantai. Darah mengalir di ujung bibi Hans akibat kerasnya pukulan tersebut.
"Kami keluarga Flors memiliki daya tahan tubuh terhadap semua jenis racun apapun. Kau tidak akan bisa membunuh kami dengan mengandalkan racun."
"Aku sudah tahu itu namun sama sekali tidak mempercayainya. Tidak aku sangkah ternyata rumor itu benar."
Hans menyekat darah yang mengalir diujung bibirnya. Tapi bersamaan dengan itu ia tiba-tiba melemparkan semacam bom asap yang menyebabkan jarak pandang mereka seketika berkurang. Hans mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri. Dengan jalan yang pincang, Hans tidak pergi sendirian. Ia menarik Gerda untuk ikut bersamanya. Hans masih belum membuat perhitungan dengan Gerda yang telah menghancurkan seluruh rencananya. Nisa mencoba mencegat Hans membawa Gerda pergi namun ia malah didorong sampai terduduk di lantai. Tidak cukup sampai disitu, Nisa juga memberanikan diri meluncurkan satu tembakan namun lagi dan lagi usahanya sia-sia. Tembakannya meleset dari sasaran.
"Gerda!" pekik Julia memanggil Gerda begitu mendengar suara teriakan temannya itu.
Selang beberapa saat, asap mulai menipis dan pendangan mereka kembali normal. Rica dan Nisa bergegas menghampiri Julia yang terluka.
"Sstt... Aku harus menolongnya," Julia berusaha bangkit dibantu Nisa dan Rica.
"Tapi Julia kau terluka," ujar Nisa dengan nada khawatir.
"Bagaimana denganmu?" tanya Rica begitu menerima kunci mobil berlumuran darah itu.
"Aku harus menyelamatkan Gerda. Aku tidak mau kehilangan temanku lagi."
Dari tatapan mata Julia, Rica segera mengerti maksud Julia. Perasaan tidak mau kehilangan orang yang berharga, sebenarnya Rica perna diposisi tersebut namun ia tidak mampu menyelamatkan orang yang paling berarti dalam hidupnya, ayah kandungnya. Biarpun Julia terluka saat ini namun ia tetap bertekat ingin menyelamatkan temannya. Ia tidak peduli luka pada tubuhnya asalkan ia dapat membawa Gerda kembali. Rica tahu kalau Julia tidak mungkin bisa dicegat. Ia menghargai keputusan Julia. Dengan berat hati Rica menarik Nisa untuk melepaskan Julia.
"Pulanglah bersama kakakmu, Nisa," dengan masih menahan perutnya yang terluka, Julia mempercepat langkahnya keluar menyusul perginya Hans dan Gerda.
"Tidak Julia! Kembalilah!" pekik Nisa histeris. Ia mencoba mengejar Julia namun Rica menahan tangannya.
"Nisa. Kita harus pergi," ajak Rica.
__ADS_1
"Tidak! Lepaskan aku kak Rica! Aku tidak bisa meninggalkan Julia disini. Dia datang kesini karna aku, mana mungkin aku meninggalkannya begitu saja," Nisa memberontak mencoba melepaskan diri dari cengkraman Rica dengan air mata yang telah membasahi pipinya.
"Nisa. Kita pergi dari sini juga bukan berarti meninggalkannya. Kita cari bantuan," Rica berusaha membujuk Nisa agar mau pergi bersamanya.
"Itu membutuhkan waktu yang lama. Tidak akan sempat. Jika kak Rica ingin pergi, silakan saja. Aku masih mau disini membantunya semampu yang aku bisa. Aku tidak takut mati untuk menolong temanku!" dengan sekuat tenaga Nisa berhasil menepis tangan Rica. "Bagiku Julia adalah matahari yang membawa kehangatan dalam hidupku setelah sekian lama. Aku tidak mau kehilangan matahariku," Nisa berbalik dan hendak melangkah pergi.
"Sunisa!" teriak Rica.
Langkah Nisa seketika berhenti disaat Rica memanggilnya dengan nama panjangnya. Sudah lama sekali Nisa tidak mendengar seseorang memanggilnya seperti itu. Terakhir kali Nisa dipanggil dengan nama panjangnya itu adalah sewaktu ibunya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit. Dengan nafas yang sangat lemah, ibunya membisikkan nama tersebut di telinga Nisa sebelum akhirnya memejamkan mata untuk selamanya. Nisa sangat sedih atas kepergian ibunya. Lebih dari dua bulan lamanya Nisa tidak mau berbicara dengan siapapun. Dia semakin pendiam dari hari ke hari dan lebih suka menyendiri di dalam kamarnya. Setiap kali ia mengingat nama panjangnya itu membuat ia merindukan ibunya. Karna alasan ini ia lebih suka dipanggil Nisa.
"Aku akan ikut denganmu," sambung Rica tanpa melirik pada Nisa.
Nisa menoleh. "Kak Rica. Terima kasih."
Disisi lain. Saat Julia keluar. Ia melihat bayangan Hans yang menarik Gerda menaiki tangga menuju lantai tiga. Tanpa pikir panjang lagi Julia mengikuti bayangan itu secara mengendap-enda. Julia cukup dibuat bingung juga, kenapa Hans malah membawa Gerda naik ke lantai tiga dari pada turun menuju lantai dasar dan melarikan diri? Apa mungkin Hans memiliki rencana lain? Julia terus membuntuti Hans sampai mereka masuk ke salah satu ruangan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε