
Lina masih sedikit kebingungan dengan sikap begitu ramah Tn. Cershom pada dirinya. Ia seperti orang yang sudah sangat dikenal lama oleh Tn. Cershom.
"Hei! Kembalikan istriku!" Daniel bergegas menyusul mereka.
"Kau bilang kalian belum menikah."
"Kami sudah menikah. Cincin ini sebagai buktinya," Daniel menunjukan cincin di jari manisnya.
"Apa benar kalian sudah menikah?" tanya Ducan pada Lina.
"Iya," jawab Lina ragu-ragu. "Bagaimana reaksi Tn. Cershom setelah mengetahui hal ini?"
"Kenapa kalian tidak mengundangku?!!" pertanyaan itu lebih ditujukan pada Daniel.
Mendengar itu membuat Lina dan Daniel terkejut.
"Untuk apa kami mengundangmu?" tanya Daniel.
Buk!
Satu pukulan mendarat di kepala Daniel.
"Aduh," rintih Daniel sambil mengusap kepalanya.
"Bagaimana bisa kau menikah tanpa ayah mertuamu! Aku tidak mengakui ini, kalian harus menikah lagi!" Ducan menoleh pada Lina, kemudian meraih kedua tangan mungil itu dan didekapnya dalam gegamannya. "Maafkan aku. Di pernikahanmu nanti aku pasti akan mendampingimu menuju altar pernikahan yang megah."
"Tn. Cershom apa maksud semua ini? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?" tanya Lina.
"Karna aku ayah kandungmu."
Mendengar itu membuat Lina tidak bisa berkata apa-apa. Ia terdiam dengan mulut sedikit terbuka menatap Ducan. Selang beberapa saat barulah Lina berkata.
"A, ayah kandungku? Tunggu dulu, aku perlu mencerna semua ini perlahan," Lina mundur selangkah dari Ducan dan sedikit memijit dahinya. "Apa kau tidak salah mengenali orang?"
"Itu benar Tn. Cershom. Kau tidak bisa mengakui sebarang orang sebagai putrimu."
"Kau tidak percaya padaku?" Ducan mencabut sehelai rambutnya lalu mencabut sehelai rambut Lina.
"Aduh," Lina mengusap kepalanya begitu rambutnya dicabut.
"Tony!" panggil Dukan pada salah satu bawahannya.
__ADS_1
"Iya, tuan."
"Bawah dua sempel rambut ini ke laboratorium untuk tes DNA," Ducan menyerahkan dua helai rambut yang telah dibalut di saputangan berbeda pada Tony.
"Baik, segera saya laksanakan," Tony berlalu pergi setelah menerima dua sempel rambut tersebut.
"Akan aku buktikan kalau kucing manis ini memang putriku," tunjuk Ducan pada Lina.
"Aku tidak bermaksud begitu Tn. Cershom. Tapi bukankah memang sedikit aneh, kau kan cuman memiliki seorang putri setelah kepergian istrimu, atau..."
Buk!
Belum selesai Daniel menyelesaikan kalimatnya, satu pukulan kembali mendarat di kepalanya. Dengan wajah cemberut, Daniel kembali mengusap kepalannya.
"Jaga pikiranmu itu Daniel! Aku ini orang yang paling setia. Hanya Ariana yang bisa menempati hatiku dan tidak akan tergantikan selamanya."
"Hmh! Aku sungguh tidak sudi mendapatkan mertua yang galak," gerutu Daniel pelan.
"Apa katamu? Apa kau mau kupukul lagi!! Dasar menantu kurang ajar!" dengan geram Ducan mengepalkan tinjunya ke Daniel.
"Hah... Mereka mulai lagi," Lina menghela nafas panjang. "Bisa kita membicarakan sambil duduk. Aku sungguh tidak sanggup berdiri lagi melihat pertengkaran kalian berdua."
"Apa kau sedang sakit, sayang? Apa perlu aku menyuruh koki untuk membuat hidangan yang bisa menambah stamina?" tanya Ducan.
"Dia sedang hamil, Tn. Cershom," jelas Daniel.
"Oh, sedang hamil. Kau harus perbanyak makan buah-buahan sayang," Ducan menarik kursi di samping Lina. Baru sedetik duduk. "Tunggu dulu, Apa?!! Ka, kau hamil?" Ducan baru sadar atas apa yang didengarnya. Ia menuduk melihat perut Lina yang memang lebih tampak disaat ia duduk. Lalu pandangan Ducan berbalik tajam menatap Daniel. "Apa yang telah kau lakukan pada putriku?!"
"Kami sudah menikah Tn. Cershom, sudah sewajarnya kami ingin memiliki seorang bayi," kata Daniel.
"Hari ini adalah hari yang paling menggembirakan."
Sikap Ducan seketika berubah 180° yang membuat Lina tidak habis pikir, apa benar dia Tn. Cershom yang dikenal dingin itu?. Ducan berjongkok di depan Lina. Ia memeluk pinggang putrinya sambil mengeluskan pipinya di perut Lina.
"Oh... Andai Ariana ada disini, ia pasti sangat bahagia. Tidak lama lagi kita akan memiliki seorang cucu, sayangku Ariana. Putri kita telah kembali dengan seorang cucu dalam perutnya. Aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan perasaan senang yang meluap-luap ini. Berapa usia kandunganmu sekarang?"
"21 minggu," jawab Lina.
"Hiks... Hiks..." tawa riang tadi kini berubah menjadi suara tangis. Air mata Ducan mulai membasahi gaun Lina. "Aku sungguh minta maaf padamu. Aku telah gagal menjadi seorang ayah. Aku tak ada disaat kau membutuhkanku. Aku telah membuatmu menderita. Kau boleh marah padaku, memukulku karna aku memang pantas mendapatkannya."
"Tn. Cershom bangunlah, jangan seperti ini. Tidak pantas bagimu yang merupakan orang besar berlutut dan menangis di depanku," Lina mencoba meminta Tn. Cershom duduk kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
"Tidak. Aku sudah bersalah padamu. Aku sudah bersalah pada Ariana karna tidak merawatmu selama 17 tahun ini. Aku mohon katakan apa saja agar aku bisa menebus semua kesalahan ini."
"Dengan cara menceritakan apa yang telah terjadi 17 tahun yang lalu. Aku ingin sekali tahu hal ini."
"Baiklah."
Ducan bangkit sambil menyekat air matanya. Ia kembali duduk ke tempatnya semula. Ia memberi isyarat pada pelayan untuk menyajikan semua hidangan yang ada. Daniel juga telah mengambil tempat duduk di samping kiri Lina. Semua pelayan masuk membawa masing-masing hidangan yang telah di persiapkan. Setelah selesai menyajikan semuanya mereka berlalu pergi.
"Mari nikmati pejamuan yang telah aku persiapkan untuk menyambut kepulangan putriku. Aku akan menceritakan semuanya sambil kita makan malam."
Sambil menikmati hidangan yang ada Ducan mulai menceritakannya, diawali dari identitas tersembunyi Ariana, ibu kandung dari Veliana.
"Ariana, ibumu berasal dari keluarga tersembunyi."
"Keluarga tersembunyi? Apa itu?" tanya Lina.
"Keluarga tersembunyi merupakan keluarga paling misterius di negara ini. Mereka menggunakan marga berbeda disetiap kota dan bahkan negara berbeda. Tidak ada yang tahu pasti nama marga mereka. Namun yang aku tahu keluarga tersembunyi memengang hampir seluruh aset tak ternilai di ibu kota. Mereka juga melakukan bisnis di dunia bawah tanah dan menjadi yang paling ditakuti. Tidak ada satupun kelompok mafia yang berani mengusik satupun anggota dari keluarga tersembunyi," jelas Daniel.
"Itu benar. Tapi perselisihan antar keluarga sering terjadi dalam keluarga tersembunyi, dan inilah yang terjadi pada ibumu. Sebagai putri dari anak perempuan satu-satunya dari keluarga tersembunyi, secara otomatis ibumu mewarisi rumah lelang Red Krisan."
"Apa? Ibuku pemilik dari rumah lelang Red Krisan? Ru, rumah lelang terbesar itu," Lina teperangak begitu mengetahuinya.
"Iya. Rumah lelang Red Krisan berserta Casino, hotel dan seluruh gedung itu merupakan kepemilikan dari ibumu," jelas Ducan lebih tegas lagi.
"Luar biasa. Pemilik rumah lelang Red Krisan yang misterius ternyata ibu dari istriku," ujar Daniel setelah meletakan cangkir minumannya.
"Lalu apa yang terjadi?"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1