
"Wendy sungguh berani mempermainkan gadis itu. Tapi aku benar-benar penasaran dengan masalah yang terjadi pada keluarga kalian. Tidak mungkin perselisihan antara keluarga kalangan atas sampai mengakibatkan kalian terluka separah ini? Aku perna dengar kalau Rica itu adalah juara karate berturut-turut, namun dia sekarang terluka karna tanpa sengaja ikut terlibat. Belum lagi Marjorie juga cedera saat ini. Dia kan merupakan pengawal pribadi Yusra. Apa masalah ini berhubungan dengan keluarga Arlo? Sejauh yang aku tahu Tn. Arlo adalah pemimpin dari salah satu mafia... Em... Sepertinya masalah yang kalian alami benar-benar serius atau..." kata Carl mengutarakan kecurigaannya tanpa sadar.
"Sudah cukup Carl. Buang saja pikiranmu itu jauh-jauh. Kau juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Lagi pula itu bukan misi mu," kata Julius membuat Carl tersadar.
"A, apa yang kau katakan ini Julius? Misi apa yang kau maksud? AKenapa aku tidak mengerti sama sekali?" Carl berpura-pura tidak mengerti apa yang dikatakan Julius namun ia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
"Tidak perlu berpura-pura lagi, aku sudah tahu," Julius menyandarkan tubuhnya di tempat tidur yang telah diposisikan tegak. "Agen 09."
Carl tersentak mendengar itu. "Dari mana kau tahu?"
"Aku mulai curiga sejak kau menunjukan situs perdagangan hewan gelap tempat dimana kau membeli tarantulamu itu. Caramu berinteraksi dengan mereka lebih seperti sedang mengumpulkan informasi. Sebab itu aku iseng-iseng meminta Marjorie mencari tahu identitas rahasiamu dan apa yang kami temukan. Kau adalah Agen rahasia negara."
"Luar biasa. Ternyata Marjorie lebih dari sekedar pengawal pribadi. Ia dapat melacak identitas ku dengan mudah. Jadi aku ketahuan rupanya. Sekarang apa? Haruskah aku membungkamu dan dia?"
"Kau tidak akan melakukan itu."
"Kenapa kau berpikir demikian? Aku bisa saja melakukannya."
"Karna misi mu bukanlah menyelidiki kami. Kau bahkan tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Bisa saja aku ini seorang penjahat atau malah rekanmu."
"Masuk akal juga."
"Tapi tidak menutup kemungkinan kita akan bertemu antara satu sama lain dalam identitas kita yang sebenarnya."
"Aku akan menunggu sampai hari itu tiba. Dan untuk sekarang aku cuman mengenalmu sebagai teman sekolah."
"Teman sekolah. Aku juga berpikir demikian. Aku cuman ingin menjalani kehidupan SMA ku dengan tenang. Siapa yang mau mengurusi satu agen seperti mu."
__ADS_1
"Aku anggap percakapan ini tidak perna terjadi."
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan diketuk dari luar. Selang beberapa saat Lina melangkah masuk bersama seorang perawat yang membawa nampan.
"Hai, anak-anak. Maaf mengganggu. Aku cuman ingin mengantarkan obat untuk Julius dan Julia," kata Lina.
Julius dan Julia memang diharuskan meminum beberapa obat-obatan untuk mempercepat masa penyembuhan paska operasi dan mengembalikan stamina yang hilang. Tidak hanya Julius dan Julia yang diminta minum obat, Marjorie juga diberi beberapa obat-obatan agar lukanya cepat sembuh. Melihat Rica ada diruangan itu dengan perban dan pester luka dibagian tubuhnya, Lina menawarkan Rica salah satu obat racikannya sendiri. Awalnya Rica menolak namun Lina memaksa. Obat itu merupakan salah satu obat yang Julius, Julia dan Marjorie minum untuk mempercepat kesembuhan luka dalam.
"Ah, disini kau rupanya kucing kecil. Adelia tadi telpon, ia menanyakan apa kau mau menitip sesuatu karna sebelum datang kesini mereka mau mampir sebentar ke swalayan untuk membeli buah-buahan," kata Daniel sambil melangkah masuk.
"Sepertinya tidak ada, tapi kalau mereka mau beli buah-buahan, aku nitip melon saja."
"Baiklah."
Daniel dan Lina tidak menyadari tatapan penuh keheranan dari Febby, Wendy, Carl dan Jeffri. Mereka tidak percaya kalau ternyata Tn. Flors yang dikenal dingin rupa-rupanya menggunakan nama panggilan lucu bagi istrinya.
"Papa memang selalu memanggil mama 'kucing kecil'. Aku saja tidak tahu kenapa."
"Hihi... Tapi itu sungguh manis, terutama Tn. Flors yang dikenal dingin yang mengatakannya," Wendy tak bisa menahan tawanya.
"Kenapa? Tidak boleh?" aura beku seketika terpancar dari diri Daniel begitu melirik mereka. Hal itu membuat Wendy berhenti tertawa.
"Ma, maafkan saya, Tn. Flors. Saya tidak bermaksud menyingung anda."
"Ada alasannya aku memanggil dia seperti itu."
__ADS_1
Daniel menarik Lina untuk berdiri tepat di depannya. Ia lalu memeletakan dagunya di atas ubun-ubun istrinya itu sambil memeluk pinggang Lina yang ramping.
"Karna istriku ini manis dan terkadang bertingkah imut tapi sesekali bisa mencakar layaknya seekor kucing yang sedang marah dan alasan yang paling utama... Tubuhnya pendek."
"Oh... Sebab itu dipanggil 'kucing kecil'. Masuk akal juga."
"Apa maksud perkataan terakhirmu itu? Kau mengejek ku?" kata Lina dengan raut wajah cemberut.
"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Kau memang pendek. Tinggi Julia saja sudah melebihi dirimu. Jika aku menggadeng tangan dan mengajakmu jalan-jalan ke luar, semua orang pasti mengira kalau aku sedang menggandeng putriku saja."
Lina tidak bisa membantah kalau tubuhnya memang pendek. Dengan masih cemberut, Lina bergumang. "Ini karna kesukaanku memainkan racun sejak kecil, entah mengapa itu malah mempengaruhi tinggi badanku."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Setelah menjalani rawat inap selama tiga hari, Julius dan Julia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Selama seminggu mereka belum diizinkan bersekolah. Lina menekankan untuk pada mereka untuk menjalani pemulihan lagi di rumah. Julius dan Julia benar-benar dilanda kebosanan selama menjalani pemulihan. Mereka tidak diperbolehkan melakukan apapun yang melibatkan gerakan berlebih. Lina bahkan menempatkan satu pelayan pribadi untuk senang tiasa membantu mereka. Sekurang-kurangnya Lina sendiri yang bahkan turun tangan sendiri membantu Julius dan Julia. Selama seminggu itu Lina mengambil izin cuti agar bisa langsung mengawasi masa penyembuhan putra dan putrinya secara langsung.
Daniel, Adelia dan Adelio telah pulang duluan kembali ke ibu kota karna mengingat Adelia dan Adelio masih harus sekolah. Sesuai permintaan Nisa, selama seminggu itu Lina masih menyempatkan diri melatih Nisa ilmu bela diri dan penggunaan berbagai macam senjata. Nisa ternyata cepat memahami apa yang Lina ajarkan. Selama seminggu itu ia sudah cukup mampu menembak target berturut-turut dengan tepat dan kelincahan serta kekuatannya juga perlahan bertambah seiring giat nya Nisa berlatih. Walau sempat kesulitan karna daya tahan tubuh Nisa yang bisa terbilang lumayan lemah bagi kebanyakan orang yang sempat Lina latih, namun tekat kuat dan pantang menyerahnya membuat ia terus berusaha. Latihannya ini sama sekali tidak diketahui oleh siapapun termasuk ayahnya sendiri.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε