
Di sebuah restoran terkemuka bernuansa klasik di pulau Balvana. Bersama ibunya, Rica turun dari mobil mewah berwarna silver. Seorang penjaga bergegas membukakan pintu untuk mereka sambil menundukkan kepala. Didalam, mereka disambut beberapa orang pelayan wanita disisi kiri dan pelayan pria disisi kanan yang berbaris rapi. Para pelayan tersebut menuntun Rica dan ibunya menuju ruang VIP yang ada di lantai dua. Sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang langsung menyajikan pemandangan paronama laut dimalam hari. Restoran terkemuka ini memang berdiri di persisir pantai. Dan jika kalian ingin tahu, restoran ini sebenarnya berjarak tidak jauh dari vila milik Samuel. Jarak diantara keduanya mungkin cuman berkisaran 300 meter saja.
Restoran berbintang lima ini dikenal dengan hidangan laut nya paling lezat diantara restoran lain yang ada di pulau Balvana. Bahkan kelezatnya terkenal sampai keluar pulau dan negara tetangga. Contohnya seafood yang sering disajikan di restoran ini yaitu Lobster, tuna sirip biru, King Carb, King Oyster, sirip hiu dan banyak lagi. Tentunya semua hidangan dibandro dengan harga yang fantastik. Hanya dari kalangan berkantong tebal saja yang mampu memesan seporsi makanan di restoran ini
"Selamat malam, paman Zack," sapa Rica sambil memberi satu kecupan pada salah seorang pria yang duduk di meja makan tersebut.
"Malam, keponakanku. Wah... Kau tambah cantik saja," puji Zack sambil mencubit gemas pipi Rica.
"Terima kasih paman," Rica mengambil tempat duduk disebelah ibunya. "Paman ada bawakan oleh-oleh untuk ku, tidak?"
"Tentu saja. Aku sudah menyiapkan oleh-oleh yang spesial untukmu, cantik."
"Keponakanmu ini memang cantik, siapa dulu ibunya," ujar ibu Rica yang duduk disebelah putrinya.
"Hahaha... Adikku ini bisa saja memuji diri sendiri. Tapi aku tidak heran, berkat kecantikan yang kau miliki, kau bisa memikat hati Tn. Pinkston yang kaya raya itu."
"Ah, kakak bisa saja. Ngomong-ngomong, siapa pria di samping mu ini?" tanya ibu Rica sambil melirik seorang pria disamping Zack.
Pria berkulit gelap dengan mata besar dan rambut keriting yang terikat kebelakang. Bergigi putih namun sedikit tongos dibalik bibirnya yang tebal. Ia mengenakan setelan jas berwarna cerah dengan dua kancing atas kemejanya tidak tersemat, sehingga menampakan kalung emas berliontin ular melingkar dilehernya. Wajah pria tersebut nampak sangar walau badanmya terbilang kurang berisi.
"Oh, dia adalah temanku dari ibu kota. Namanya Norman. Tn. Norman, ku perkenalkan padamu adikku, Gloria dan putrinya, Castarica," ujar Zack memperkenalkan mereka berdua pada temannya.
"Salaman kenal. Saya sering mendengar tentang kalian berdua dari Zack. Kalian berdua jauh lebih cantik dari apa yang ada difoto. Tidak sia-sia saya ikut datang ke kota ini."
Dengan tampang mesumnya, Norman terlihat bergairah melirik Rica. Sebisa mungkin Rica menanggapinya dengan senyuman. Walau sebenarnya ia sungguh tidak merasa nyaman terus ditatap begitu, apalagi dengan pakaiannya yang cukup terbuka dibagian dada. Sambil menikmati hidangan laut yang disuguhkan pelayan, Rica sendari tadi berusaha menutupi dadanya menggunakan tangan. Ada rasa sedikit penyesalan ia rasakan karna telah memilih gaun yang salah untuk malam ini.
"Bagaimana bisa kau berteman dengan orang seperti dia? Aku tidak suka ia menatap putriku seperti itu," bisik Gloria pada kakaknya.
"Jangan menilainya sembarangan, Gloria. Walau tampangnya begitu, sebenarnya ia adalah salah satu anggota elit Black Mamba," jelas Zack balik berbisik.
__ADS_1
"Apa benar?! Kau tidak bercanda, kan? Black Mamba, maksudmu salah satu mafia yang terkenal di ibu kota itu?" Gloria sungguh sangat terkejut mendengarnya.
"Mana mungkin aku bercanda."
"Hebat. Kau sangat hebat kak. Dengan adanya hubungan dari anggota mafia terkuat, kelompok mafia yang kakak pimpin akan menjadi semakin ditakuti di kota ini."
"Maka dari itu bersikap baiklah dengannya. Tn. Norman ini adalah tamu istimewaku."
Makan malam hari ini benar-benar terasa canggung sekali bagi Rica. Beberapa pertanyaan umum, sesekali ditanyakan Gloria atau Zack untuk mengalihkan pandangan Norman dari Rica. Norman tampak bernafsu sekali melihat keelokan tubuh gadis remaja dihadapannya ini. Disaat sudah kehabisan bahan pembicaraan yang membuat Gloria bingung, seorang pelayan datang dengan membawa meja beroda berisi dua botol anggur di atas nya. Hal itu membuat Gloria merasa lega. Setidaknya ada hal lain yang bisa mengalihkan pandangan mesum Norman dari putrinya.
"Tn. Norman, ini saya khusus pesankan anggur merah tahun 91 spesial yang paling terkenal di pulau ini untuk menyambutmu," ujar Zack sambil merahi satu botol anggur tersebut.
Zack menarik penyumbat yang tersemat di mulut botol menggunakan pembuka botol berbentuk naga berwarna perak. Ia lalu menuangkan anggur tersebut ke gelas yang telah dipengang Norman di tangannya. Kemudian ia menuangkan ke gelas nya sendiri serta gelas adiknya.
"Mari bersulang," ucap Zack sebelum mengangkat gelasnya sedikit lebih tinggi.
"Terima kasih Zack. Kau memang teman terbaik ku," setelah mengangkat gelasnya, Norman meneguk habis secangkir anggur tersebut dalam sekali tegukan.
"Saya lah yang merasa terhormat dapat makan malam bersama nona cantik ini," mata Norman kembali melirik Rica.
"Ibu..." bisik Rica pada ibunya karna sudah tidak tahan lagi berlama-lama di meja makan itu. Ia ingin cepat-cepat pulang.
"Bersabarlah sebentar lagi," balas Gloria berbisik.
"Ngomong-ngomong, sayang. Apa kau sudah punya pasangan? Berapa umurmu? Aku sangat menyukai gadis-gadis muda sepertimu ini. Bagaimana kalau... Untuk mempererat hubungan kita... Kau dan aku..."
Dengan raut wajah mulai memerah, Norman mencoba meraih tangan Rica, namun dengan cepat Rica menurunkan tangannya dari meja. Ia tidak suka disentuh oleh pria di depannya ini.
"Eh... Hehe..."
__ADS_1
"Aduh... Maafkan saya, Tn. Norman. Putri saya sebenarnya sudah bertunangan. Tapi kalau anda berkenanan, saya masih memiliki seorang putri lagi. Kapan-kapan saya akan perkenalkan pada anda," Gloria tersenyum pada Rica sambil menepuk dua kali punggung tangan putrinya itu. "Jangan khawatir," maksud itulah yang berhasil ditangkap Rica.
"Kau punya seorang putri lagi, Ny. Pinkston?"
"Iya. Walau sebenarnya dia cuman putri tiriku. Umurnya setahun lebih muda dari Rica. Mungkin Tn. Norman lebih menyukainya karna ia pemalu." kata Gloria dengan nada isyarat.
Norman segera mengerti maksud Gloria. "Hahaha... Ny. Pinkston tahu saja apa yang saya suka."
"Bagaimana kalau kami perkenalkan dia pada anda malam minggu nanti? Kebetulan pada malam tersebut saya menyewa tempat ini untuk acara pesta perjamuan."
"Malam minggu? Cukup lama juga," Norman terlihat berpikir sebentar. "Tapi tidak apa, asalkan ia sangat memuaskan bagi saya. Mau menunggu berapa lama pun saya mau."
"Hahaha... Saya bisa menjamin hal itu, Tn. Norman. Setelah ini saya akan menujukan fotonya pada anda. Mari minum lagi."
Zack kembali menuangkan anggur tersebut ke gelas Norman. Mereka berdua terus minum sampai diantara keduanya mabuk berat.
"Rasakan itu, Nisa! Seharusnya kau sangat bersyukur dapat disukai oleh anggota elit Back Mamba ini," batin Rica.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε