
"Bagaimana dengan di taman hiburan? Jangan lupa, kau pernah diserang disana," ujar Ducan mengingatkan.
"Mereka cuman preman kecil biasa. Lagi pula banyak pengawal yang melindungi ku, jadi aku tidak perlu takut," Violet seperti menganggap enteng perkataan ayahnya.
"Kau selalu saja tidak mendengarkan nasehatku. Tapi aku harap kau mendengarkan perintahku untuk menjaga Token rumah lelang dengan sebaik-baiknya!" tekan Ducan diakhir kalimat.
"Aku tahu. Aku menyimpannya dengan sangat baik."
"Benarkah? Kalau boleh aku tahu, dimana kau menyimpannya?"
"Dalam tasku,"
"Apa?! Itu yang kau masuk menyimpannya dengan sangat baik?"
"Tenang dulu ayah. Aku cumau mau membawanya hari ini. Token ini merupakan tanda sah ku sebagai pemilik dari rumah lelang. Tentunya aku harus membawanya hari ini," jelas Violet.
"Berhati-hatilah. Jangan sampai hilang. Kalau tidak... Kau akan tahu akibatnya!"
"Iya, iya. Aku pergi dulu."
Selesai sarapan, Violet beranjak pergi. Diluar sudah menunggu Will, sopir pribadi Violet. Ia membukakan pintu mobil disaat Violet menghampiri. Will menancap gas meninggalkan halaman kediaman setelah Violet masuk. Mobil melaju di jalanan yang padat kendaraan dan berkemungkinan akan macet. Melihat keadaan itu, Will mengambil jalan lain. Violet baru sadar kalau jalan yang mereka lalui bukan lagi jalan perkota. Kiri dan kanan hanya ada pepohonan. Violet melirik kebelakang dan terlihat gedung-gedung pencakar langit perlahan-lahan menghilang dari balik pohon yang rimbun. Tidak ada satupun kendaraan selain mereka.
"Will, kenapa kita lewat disini? Ini bukan jalan menuju rumah lelang," tanya Violet kebingungan.
"Ada kemacetan parah di kota, jadi saya mengambil jalan pintas. Nona Cershom tenang saja," kata Will menyakinkan Violet.
Tak berapa lama, tiba-tiba muncul tiga mobil hitam mengepung mobil mereka. Rasa takut seketika menyelimuti Violet.
"Si, siapa mereka Will? Kenapa mereka mengepung kita?"
"Nona Cershon terlalu berpikiran berlebihan. Mereka cuman pengguna jalan yang lain," Will terlihat sangat tenang. Ia terus melajukan mobil dan bahkan menambah kecepatan.
"Hah... Mungkin aku memang berpikir berlebihan. Karna obrolan bersama ayah tadi membuatku berpikiran yang bukan-bukan," batin Violet.
Hampir sejam melaju bersama ketiga mobil itu. Violet sudah merasa janggal akan hal ini. Ditambah lagi mereka tidak kunjung sampai juga ke tempat tujuan. Di jalur depan masih menampakan hamparan hutan tak berujung.
"Will, apa kau yakin ini jalan yang benar?"
"Tentu saja yakin. Tidak lama lagi kita akan sampai."
__ADS_1
"Kau mengatakan itu 15 menit yang lalu. Aku tidak buta Will! Tidak ada apa-apa di depan sana! Kemana sebenarnya kau mau membawaku?" Violet kini meninggikan suaranya.
"Nona Cershom duduk manis saja dan nikmati perjalanan ini," senyum di wajah Will berubah menjadi senyum jahat.
"Tidak! Aku minta kau putar balik sekarang juga!" perintah Violet dengan nada sedikit ketakutan.
"Itu tidak akan terjadi."
"Ka, kau bukan Will. Si, siapa kau sebenarnya?" tanya Violet dengan tubuh gemetar.
"Putri Tn. Cershom memang bodoh. Sudah selama ini kau baru menyadarinya. Memang benar, aku bukanlah sopir pribadi mu itu. Dia sudah berenang di sungai sejak uji coba penculikan di taman hiburan waktu itu."
"Ka, kalian sekelompok orang waktu itu? Apa mau kalian? Lepaskan aku!!"
"Kami tidak menginginkan apa-apa dari mu, tapi bos kami, iya. Jadi duduk manis saja dibelakang sana. Jangan banyak bicara lagi."
"Lepaskan aku!! Kalian sekelompok..."
Kalimat Violet terputus begitu pria itu mengacungkan pistolnya tepat ke kepala Violet. "Sudah aku bilang diam! Apa kau mau kepalamu berlubang? Aku bisa saja membunuh mu sekarang. Bos sama sekali tidak peduli jika aku cuman membawa mayatmu saja. Oh, iya. Kalau kau berpikir untuk menelpon seseorang, itu tidak akan mungkin terjadi karna disini tidak ada sinya sama sekali. Dan jika kau mengharapkan pengawalmu itu, mereka juga tidak akan dapat menolongmu. Aku telah meminta mereka untuk menunggu kita yang tidak perna datang di rumah lelang. Kau jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu asalkan kau menuruti semua kemauan kami."
Violet terdiam dengan wajah menatap benci pada pria tersebut. Namun disaat pria itu fokus menyetir, tiba-tiba Violet mengambil alih stir mobil dan membantingnya ke kiri. Pria itu kaget dan berusaha mengambil alih kembali stir mobil. Violet tidak mau kalah. Mereka memperebutkan kendali mobil yang kini membuat zik-zak di atas aspal lalu berputar dan kemudian berakhir menabrak pohon. Akibat tabrakan tersebut kepala Violet terbentur keras sampai kepalanya terluka. Tidak memperdulikan darah yang mengalir, Violet mengambil kesempatan ini keluar dari mobil dan kabur masuk ke dalam hutan. Pria itu sedikit kesulitan keluar karna kaki kanannya terjepit.
Violet terus berlari tanpa arah masuk ke dalam hutan. Para pengejar semakin dekat menyusulnya sambil meluncurkan tembakan. Violet bersembunyi begitu mendapati sebuah pohon yang cukup besar. Selang beberapa saat, ia tidak mendengar lagi suara tembakan. Dengan nafasnya terengah-engah, Violet memberanikan diri mengintip. Ia tidak melihat para sekelompok pria itu mengejar lagi. Nafas lega dihembuskan Violet perlahan. Namun semua itu tidak seperti yang Violet pikirkan.
"Mencari kami?"
Violet tersentak kaget begitu mendengar suara itu muncul dari arah belakangnya. Ia menoleh perlahan dengan tubuh kembali gemetar. Sekelompok pria tadi ternyata sudah berdiri di belakangnya. Violet berusaha lari tapi tangannya berhasil dicengkram pria tersebut.
"Lepaskan aku!!" Violet memberontan berusaha melepaskan diri.
"Kau sungguh gadis yang merepotkan!"
Pria itu menyekap mulut serta hidung Violet menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Violet pingsan seketika disaat obat bius itu berkerja.
"Ayok pergi," kata pria itu sambil membopong Violet keluar dari hutan.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Kucing kecil!" panggil Daniel begitu melangkah masuk rumah. Tidak ada jawaban. "Kucing kecil! Puss... Puss..." masih tidak ada jawaban. "Kemana perginya dia?"
__ADS_1
"Selamat datang tuan muda," sapa Judy disaat melihat Daniel.
"Dimana kucing kecil?"
"Kucing kecil? Apa kita perna memelihara seekor kucing?"
"Yang aku maksud istriku. Ia itu manis dan lucu seperti kucing tapi tubuhnya pendek sebab itu aku memanggilnya kucing kecil," jelas Daniel.
"Tidak perlu dijelaskan seperti itu juga," batin Judy. "Oh... Yang tuan maksud adalah nona Lina."
"Lina? Siapa Lina?"
"Istri tuan muda. Namanya Veliana dan dipanggil Lina."
"Benarkah?"
Judy menepuk jidat nya. "Jangan bilang tuan muda lupa nama istri sendiri."
"Lupa? Si, siapa yang lupa. A, aku cuman terbiasa memanggilnya kucing kecil jadi tidak ingan nama aslinya."
"Sama saja toh," kata Judy datar. "Kenapa tuan muda mala berubah menjadi seperti ini?"
"Sudahlah, dimana dia sekarang?"
Judy sedikit menunduk mencoba mengingat-ingat. "Em... Saya lihat tadi nona Lina masuk ke kamar bayi. Mungkin dia ma...sih ada disana," begitu Judy mengangkat kepalanya, ia celingak-celinguk mencari Daniel yang sudah hilang dari hadapannya. "Loh, kemana perginya tuan muda tadi?"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1