Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Menegangkan


__ADS_3

"Setidaknya jangkawan asap yang dihasilkan bisa mencapai diameter 5 meter begitu bola ini menghantam benda keras."


"Baik. Mari hajar mereka."


Julius dan Julia kembali ke tempat berkumpulnya para sandera. Tidak ada perubahan dari awal mereka pergi sampai kembali. Para penyandera juga sepertinya tidak menaruh curiga pada mereka.


"Bagaimana? Kita lakukan sekarang?" tanya Julia.


"Tunggu mereka semua berkumpul."


"Apa kalian sudah selesai?" tanya bos mereka pada anak buahnya melalui Handsfree.


"Sudah siap. Kita bisa pergi kapanpun."


"Bagus. Segera kumpul dibawah semuanya," perintah bos mereka. "Bagaimana dengan uang yang mereka janjikan? Apa sudah dikirim semuanya?"


"Semuanya sudah dikirim bos."


"Baiklah, kalau begitu..."


"Sekarang Julia!" perintah Julius.


Mendengar itu Julia segera melemparkan bom asap ke barisan terdepan dari para sandera yang masih menunduk. Asap putih mengepul menghalangi jarak pandang mereka. Julius dan julia mengambil kesempatan ini menyerang para penyandera sebelum asap itu menghilang. Dengan menggunakan laras panjang yang Julius dapat dari pria sebelumnya, Julia menggunakan itu untuk menembaki para penyandera yang baru datang atau jaraknya masih jauh dari mereka. Terdengar suara teriakan hesteris dari para sandera disela-sela suara tembakan yang terjadi.


Sedangkan Julius menyerang dengan menggunakan pisau lipat yang ia dapat di dalam saku jaket yang ia kenakan. Melihat adegan yang lagi-lagi membuat Sean tercengang, Sean tentunya tidak tinggal diam. Berbekal ilmu bela diri yang ia kuasai, Sean menyerang orang yang sendari tadi menahan tubuhnya. Karna lengah membuat orang itu berhasil Sean lumpuhkan.


Serangan yang dilakukan Julius dan Julia terlalu cepat dan tiba-tiba serta tak terduga oleh para penyandera tersebut. Hal hasil mereka semua berhasil dibereskan tanpa harus mengeluarkan tenaga lebih. Seperti rencana awal bos mereka dengan sengaja dibiarkan lolos, namun ia juga mendapatkan luka pada lengan kanannya karna mencoba melawan.


"Sialan kalian! Ternyata ada penghianat dalam kelompok ku!" bentak bos pernyandera itu. Ia mencengkram lengannya yang masih meneteskan darah ke lantai.


"Bukan penghianat. Aku memang menyamar menjadi salah satu anak buahmu," kata Julius sambil menanggalkan jaket serta topengnya.


"Hehe... Hahaha.... Apa kalian pikir kalian sudah menang? Tidak! Aku telah memasang bom di mall ini. Bom tersebut akan meledak sebelum kalian sempat melarikan diri! Selamat menikmati hari-hari terakhir kalian."


Pria itu berlari pergi. Sean hendak mengejarnya namun segera Julius hentikan.


"Tidak penting mengejarnya sekarang, lebih baik urus bom nya sebelum meledak."

__ADS_1


"Julia!" panggil Wendy dan Febby menghampiri disaat asap disekitar mereka menipis.


"Wendy, Febby," Julia memeluk kedua temannya itu yang terlihat meneteskan air mata.


"Apa yang terjadi?"


"Kami takut sekali."


"Ada suara tembakan."


"Sstt... Semuanya baik-baik saja. Para penjahat itu sudah tidak ada lagi. Kita semua selamat. Bagaimana kalau kalian ajak semua orang untuk keluar dari mall ini?" pinta Julia pada kedua temannya.


"Benarkah? Sungguh semua penjahatnya telah pergi?" tanya Wendy dalam isak tangisnya.


"Iya."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku akan menyusul kalian. Pergilah."


Seperti apa yang dikatakan temannya, Wendy dan Febby segera mengajak seluruh orang untuk keluar dari mall tersebut. Sebagian orang telah beranjak keluar dari mall begitu tahu kalau para penyandera sudah tidak ada dan sebagian lagi masih dilanda ketakutan dan perlu bimbingan untuk melangkah keluar. Namun rasa lega juga mereka rasakan setelah mendengar kabar tersebut. Suasana tegang yang sebelumnya perlahan-lahan menghilang.


Akibat terlalu shock atas apa yang terjadi membuat mereka dilanda kebingungan. Semuanya berlalu terlalu cepat dan sulit dicerna oleh pikiran mereka masing-masing. Ketakutan yang mencekam sebelumnya membuat daya tangkap otak mereka menjadi lambat pada peristiwa yang terjadi di depan mata. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak sadar kalau para penjahat itu telah tewas bersimbah darah. Itu juga yang terjadi pada Wendy dan Febby.


"Mereka semua akan baik-baik saja. Lebih baik kita urus bom nya," ajak Julius.


Julius, Julia dan Sean bergegas berlari mendekati bom yang dipasang pada pilar besar yang ada ditengah-tengah mall itu. Sampai disana terlihat angka-angka yang hitung mundur yang tinggal dua menit lagi.


"Ternyata begitu. Untuk mencegah para polisi mengejar, mereka memasang bom di mall ini. Kalau seperti ini para polisi akan disibukkan menyelamatkan semua orang yang masih terjebak di mall dan mengurus bom terlebih dahulu dari pada mengejar mereka. Jadi mereka bisa meninggalkan pulau ini tanpa harus takut tertangkap," jelas Julia.


"Kita harus memberitahu para polisi diluar agar mereka bisa dengan cepat menjinakkan bom nya."


"Tidak ada waktu. Kita harus menjinakkan bom nya sekarang!" kata Julia. Ia sendari tadi meneliti jenis bom apa yang ada dihadapannya.


"Itu benar. Aku yakin para polisi itu tidak menduga akan ada bom disini. Bom nya akan keburu meledak sebelum penjinak bom khusus datang," ujar Julius.


"Apa?! Yang benar saja. Apa kalian bisa?" tanya Sean yang kaget.

__ADS_1


"Aku perna berlatih menjinakkan bom. Jika dilihat, ini adalah salah satu jenis bom digital. Bom ini tidak memiliki kabel yang bisa dipotong untuk menghentikan laju waktu hitung mundurnnya."


"Lalu, bagaimana menjinakkannya?"


"Butuh perangkat elektronik untuk membantu menjinakkannya seperti laptop," jelas Julius.


"Perangkat elektronik? Em... Aku punya tablet, apa bisa?" Sean menyodorkan tabletnya pada Julia.


"Itu bisa."


Julia menerima tablet itu. Setelah kabel USB terhubung dari perangkat tablet ke bom digital, Julia mulai mengases dan masuk jaringan perangkat bom. Dengan cekatan dan pandangannya terus fokus menatap layar tablet, Julia diharus dibuat mengejar waktu yang semakin lama semakin menipis. Walau sudah perna menjinakkan bom jenis ini namun Julia cukup kesulitan menanganinya. Sama seperti bom biasa, bom digital juga memiliki beberapa langkah yang harus dipilih secara hati-hati. Salah sedikit saja bisa membuat bom meledak lebih cepat.


Keringat bercucur deras di pelipis Julia. Tapi dalam kondisi tegang seperti ini Julia masih bisa melakukanya dengan tenang dan berkonsentrasi menjinakkan bom tersebut. Lain halnya dengan Sean yang sendari tadi sebenarnya sangat ketakutan melihat angka pada bom itu yang telah memperlihatkan hitungan detik. Ingin rasanya ia menarik Julia dan Julius pergi keluar dari mall ini menyelamatkan diri namun melihat ketenangan mereka berdua membuat ia yakin kalau mereka bisa menanganinya. Didetik-detik yang semakin menegangkan dimana angka telah menujukan hitung mundur 10, 9, 8, 7, 6... Membuat Sean pasra atas apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Berhasil!" kata Julia membuat mereka menarik nafas lega.


"Fiuuhh.... Tadi itu hampir saja," ujar Sean yang sudah terduduk lemas.


Sean sempat melirik angkat terakhir pada bom itu. Tepat disana tertera angka 3. Itu berarti hanya butuh 3 detik lagi bagi bom tersebut untuk meledak.


"Adikku memang hebat," puji Julius sambil mengusap kepala Julia.


Duar!!


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2